{"id":1522,"date":"2026-07-30T00:27:10","date_gmt":"2026-07-30T00:27:10","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1522"},"modified":"2026-07-30T00:27:10","modified_gmt":"2026-07-30T00:27:10","slug":"pernyataan-menteri-ppa-soal-gerbong-perempuan-dinilai-bias-gender-keselamatan-tak-kenal-gender","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1522","title":{"rendered":"Pernyataan Menteri PPA Soal Gerbong Perempuan Dinilai Bias Gender: Keselamatan Tak Kenal Gender"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Keberadaan gerbong khusus perempuan kembali disorot pasca insiden KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL tujuan Kampung Bandan-Cikarang pada Senin (27\/4\/2026) malam yang menewaskan 15 orang.<\/p>\n<p>Pasalnya, 15 orang korban meninggal itu semuanya adalah perempuan. Pun demikian dengan korban luka, mayoritas adalah perempuan.<\/p>\n<p>Buntut dari insiden ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan gerbong KRL wanita ditempatkan di tengah rangkaian.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,&#8221; kata Arifah di Bekasi, Selasa (28\/4\/2026).<\/p>\n<p>Namun, usulan Arifah agar&nbsp;gerbong&nbsp;perempuan&nbsp;dipindahkan&nbsp;ini menuai kritik karena dinilai tidak menyentuh akar masalah. Pernyataan ini juga dinilai bias gender.<\/p>\n<p>Pihak PT KAI (Persero) melalui Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan, semua orang yang berada di dalam kereta maupun stasiun, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan keselamatan.<\/p>\n<p>Anne menyampaikan hal itu menjawab pertanyaan mengenai apakah pihaknya akan melakukan evaluasi terkait penempatan gerbong wanita di KRL pasca-adanya masukan dari Kementerian PPPA terkait kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27\/4\/2026).<\/p>\n<p>Anne memastikan pihaknya akan menerima segala kritik dan saran, termasuk tentang penempatan gerbong wanita di KRL.<\/p>\n<p>&ldquo;Kritik dan saran itu pasti kami terima, dari pihak mana pun, termasuk dari Ibu Menteri terkait dengan penempatan kereta wanita,&rdquo; jelasnya dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Kompas TV, Selasa (28\/4\/2026).<\/p>\n<p>&ldquo;Tetapi mungkin kalau berbicara tentang keselamatan, kita tidak berbicara tentang gender. Siapa pun yang di kereta api memiliki hak yang sama untuk namanya keselamatan,&rdquo; lanjutnya.<\/p>\n<p>Anne mengingatkan bahwa perjalanan perkeretaapian juga diatur dalam undang-undang, sehingga harus melihatnya secara komprehensif.<\/p>\n<p>&ldquo;Jadi kalau misalkan di media sosial itu ada dua kejadian seperti perlintasan, kemudian ada tumburan KRL dengan Agro Bromo Anggrek, ini kita tidak hanya melihat dari bagaimana penempatan kereta wanita dan kereta yang lain,&rdquo; tegasnya.<\/p>\n<p>&ldquo;Di Jogja, KRL tidak ada kereta perempuan. Tetapi ini inisiatif bagaimana kita memberi layanan untuk (mencegah) pelecehan seksual terutama,&rdquo; lanjutnya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Ia pun menekankan bahwa dalam urusan keselamatan, semua penumpang kereta, apa pun jenis kelamin serta usianya, harus aman.<\/p>\n<p>&ldquo;Safety adalah yang utama. Tapi tadi itu kan masukan bagi kita, tetapi di dalam menjalankan safety, kita belum pernah untuk melihat dari sisi gender, usia, ataupun misalkan pertimbangan yang lain. Karena siapa pun yang ada di stasiun dan di atas kereta harus selamat.&rdquo;<\/p>\n<p><strong>Sejarah gerbong khusus perempuan<\/strong><br \/>Gerbong khusus perempuan biasanya ada di ujung depan dan ujung belakang. Di sanalah gerbong khusus perempuan berada. Warna pink di pintu menjadi penanda yang mudah dikenali di tengah arus komuter yang bergerak cepat.<\/p>\n<p>Kebijakan ini lahir dari persoalan kepadatan, risiko pelecehan seksual, dan kebutuhan rasa aman dalam perjalanan harian.&nbsp;Dari 826 KRL yang dioperasikan,&nbsp;selalu ada gerbong perempuan.<\/p>\n<p>Laman resmi KCJ menyebut KKW mulai berlaku pada 1 Oktober 2012.Latar belakangnya sederhana, banyak pengguna perempuan merasa tidak nyaman saat harus berdesakan dengan penumpang laki-laki pada jam sibuk.<\/p>\n<p>Dalam&nbsp;kereta komuter yang&nbsp;padat&nbsp;saat&nbsp;jam&nbsp;sibuk, perjalanan 40 menit bisa berubah menjadi pengalaman yang menguras tenaga.<\/p>\n<p>Operator lalu menyediakan ruang khusus sebagai respons operasional, bukan simbolik. Fokus utamanya adalah mengurangi potensi pelecehan dan memberi pilihan perjalanan yang dianggap lebih aman.<\/p>\n<p>Alasan mengapa ditempatkan di depan dan belakang lebih teknis daripada ideologis. Posisi di dua ujung membuat penumpang mudah mengenali lokasi gerbong sejak kereta datang.<\/p>\n<p>Arus naik-turun penumpang juga bisa dibagi ke dua sisi rangkaian sehingga konsentrasi massa tidak hanya menumpuk di tengah.<\/p>\n<p>Dari sudut operasi stasiun, pola ini membantu pengguna perempuan langsung menuju titik antrean yang konsisten setiap hari.<\/p>\n<p>Dari perspektif pengaturan bukan fokus keamanan, arus penumpang, penempatan di dua sisi memberi efisiensi yang paling mudah dijalankan tanpa mengubah seluruh komposisi kereta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Keberadaan gerbong khusus perempuan kembali disorot pasca insiden KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL tujuan Kampung Bandan-Cikarang pada Senin (27\/4\/2026) malam yang menewaskan 15 orang. Pasalnya, 15 orang korban meninggal itu semuanya adalah perempuan. Pun demikian dengan korban luka, mayoritas adalah perempuan. Buntut dari insiden ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":1523,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[659,342],"class_list":["post-1522","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-gerbong-perempuan","tag-kai"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1522","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1522"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1522\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1523"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1522"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1522"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1522"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}