{"id":15290,"date":"2026-07-30T01:55:10","date_gmt":"2026-07-30T01:55:10","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15290"},"modified":"2026-07-30T01:55:10","modified_gmt":"2026-07-30T01:55:10","slug":"dampak-perubahan-iklim-pada-sektor-pertanian-pentingnya-pengelolaan-kesuburan-lahan-pertanian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15290","title":{"rendered":"Dampak Perubahan Iklim Pada Sektor Pertanian: Pentingnya Pengelolaan Kesuburan Lahan Pertanian"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Saat ini Indonesia menghadapi tantangan pertanian yang beragam berupa degradasi dan penurunan kesuburan lahan, sistem garap, sewa\/gadai lahan sawah, kelangkaan\/keterbatasan lahan subur, variabilitas terbatasnya infrastruktur (irigasi, jalan usahatani,dll), serta konversi dan fragmentasi lahan.<\/p>\n<p>Perubahan iklim yang terjadi saat ini turut mempengaruhi masa tanam sehingga&nbsp;juga menjadi tantangan untuk sektor pertanian.<\/p>\n<p>Untuk menghadapi tantangan tersebut tentu harus ada inovasi yang dikembangkan, dan inovasi yang dibutuhkan diantaranya adanya benih bermutu, varietas unggul mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Demikian peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan, Antonius Kasno dalam paparannya berjudul &ldquo;Kondisi Kesuburan dan Pengelolaan Lahan Sawah&rdquo; dalam webinar TERAS-TP#5 dengan tema &#8220;Pengelolaan Kesuburan Tanah Sawah dan Pemanfaatan Sumberdaya Alam sebagai Biostimulan dan Pembenah Tanah&#8221;, pada Juni lalu.<\/p>\n<p>Dilansir di laman resmi BRIN, Kasno memaparkan bahwa para&nbsp;periset BRIN telah mengembangkan berbagai varietas unggul tersebut.<\/p>\n<p>BRIN juga mengembangkan pemupukan berimbang yang ramah lingkungan (kenyataannya saat ini petani masih melakukan penggunaan pupuk kimia yang tidak rasional), pengendalian OPT dan penanganan panen dan pasca panen.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244621063\/atasi-lahan-pertanian-yang-rusak-dpr-dorong-subsidi-untuk-pengadaan-pupuk-organik\">Baca: DPR dorong insentif pupuk organik<\/a><\/p>\n<p>Menurut Kasno saat ini terjadi pelandaian produktivitas lahan pertanian (levelling off). Mulai tahun 1987&ndash;2004 serta pada tahun 2012-2023, trend peningkatan produktivitas jauh lebih rendah dari trend jumlah pupuk ditambahkan atau dengan kata lain penggunaan pupuk sudah tidak efisien lagi,<\/p>\n<p>Rendahnya efisiensi penggunaan pupuk, jumlah pupuk lebih tinggi untuk menghasilkan produk yang sama dan perbaikan tanah dengan bahan organik serta pertimbangan ratio kation tidak dilakukan.<\/p>\n<p>Selain itu, menurut Kasno, status C-organik lahan sawah pada saat ini adalah C-Organik lahan sawah rendah.<\/p>\n<p>Bahkan untuk lahan yang kandungan C-organik di bawah 1,5persen saat ini telah mencapai 46persen dari keseluruhan lahan yang ada di Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Jerami yang merupakan sumber bahan organik yang paling murah dibuang atau dibakar, daya sangga tanah semakin turun, efektivitas pupuk dan efisiensi pemupukan menurun serta terjadinya pelandaian produktivitas (jumlah hasil lebih rendah dari jumlah biaya yang ditambahkan untuk pupuk),&#8221;paparnya.<\/p>\n<p>Pada tahap pengelolaan lahan sawah, faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi pemupukan adalah rendahnya kandungan bahan organik, drainase sawah yang jelek, bidang olah tanah yang dangkal, kekeringan dan kebanjiran, pengaruh intrusi air laut, keasaman tanah, hama dan penyakit, waktu pemupukan yang kurang tepat.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242962861\/sos-sepertiga-tanah-di-planet-bumi-sudah-rusak\">Baca: Sepertiga lahan pertanian di dunia sudah rusak<\/a><\/p>\n<p>Kasno mengatakan bahwa pengelolaan kesuburan lahan dapat dilakukan melalui perbaikan saluran drainase dan irigasi, pompanisasi atau pembuatan sumur pantek untuk pengairan, optimalisasi pengolahan tanah, pengairan terputus serta pemberian bahan pembenah tanah.<\/p>\n<p>Cara pemupukan juga menjadi bagian dari pengelolaan lahan. Pada lahan kering dilakukan pemupukan dengan menggunakan dolomit dan fosfat alam yang disebar merata dan diaduk dengan tanah serta diberikan dalam tugal atau larikan sejajar barisan tanaman dan ditutup.<\/p>\n<p>Pada lahan sawah dilakukan dengan cara saluran masuk dan keluar dari petakan ditutup serta kondisi air dalam petakan macak-macak dan untuk pupuk dicampur terlebih dahulu baru disebar secara merata.<\/p>\n<p>&#8220;Pengelolaan kesuburan tanah perlu juga melihat fase-fase kebutuhan hara tanaman padi,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Adapun waktu pemupukan dilakukan dengan memberikan bahan pembaik tanah terlebih dahulu sebelum tanam.<\/p>\n<p>Kemudian saat tanaman sudah siap menyerap hara, dan saat tanaman membutuhkan (saat umur 7 hari, 21 hari, 35 hari setelah tanam sebelum primordia) dan jangan dilakukan setelah fase generatif.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24684095\/penjelasan-mengapa-pupuk-kandang-lebih-baik-untuk-lingkungan\">Baca: Mengapa pupuk kandang lebih bagus untuk lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Terdapat beberapa manfaat dari pengelolaan kesuburan tanah yang optimal, diantaranya dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, meningkatkan kesuburan tanah dan lestari.<\/p>\n<p>Pengelolaan kesuburan tanah yang optimal juga menghindarkan pencemaran lingkungan, menurunkan jumlah penggunaan pupuk namun hasil tetap sama serta hasil yang optimum sehingga akan menguntungkan petani.<\/p>\n<p>Di akhir paparannya Kasno menyimpulkan bahwa pengelolaan kesuburan tanah dimulai dengan mengenal dengan baik lahan yang akan dikelola<\/p>\n<p>Misalnya melalui metode analisis tanah, faktor pembatas pertumbuhan, kandungan hara, dan jenis tanah.<\/p>\n<p>Pengelolaan kesuburan tanah, ujar Kasno, dapat dilakukan bersama-sama dengan pengelolaan fisik dan biologi tanah, serta budidaya tanaman yang tepat.<\/p>\n<p>Juga&nbsp;pengelolaan kesuburan tanah harus&nbsp;didasarkan karakteristik tanah dan kebutuhan tanaman serta target hasil, kombinasi pemupukan anorganik dan organik, waktu dan cara pemupukan yang tepat, serta teknologi pengolahan lahan sesuai kondisi lahan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24682782\/perubahan-iklim-akibatkan-musim-hujan-lebih-panjang-banjir-akan-lebih-sering-terjadi\">Baca: Perubahan iklim dan dampaknya pada sektor pertanian<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Kasno menegaskan, siklus hara menjadi landasan yang digunakan oleh periset dalam pengelolaan hara yang baik.<\/p>\n<p>Sebagaimana kita ketahui, ujarnya, tanaman membutuhkan hara yang dapat ditambahkan dari pupuk anorganik, pupuk kandang, sisa tanaman serta air irigasi.<\/p>\n<p>Hara tersebut kemudian akan diserap oleh tanaman yang kemudian akan menghasilkan bulir padi yang dapat dipanen.<\/p>\n<p>Setelah masa panen jerami yang dihasilkan dari sisa panen dapat ditimbun di dalam tanah.<\/p>\n<p>&rdquo;Pada tanaman padi dari hasil panen harus dihitung berapa jumlah N, P serta K yang diambil dan jumlah tersebut harus dikembalikan ke dalam tanah agar pengelolaan tanah dapat berjalan dengan baik,&rdquo; tuturnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Saat ini Indonesia menghadapi tantangan pertanian yang beragam berupa degradasi dan penurunan kesuburan lahan, sistem garap, sewa\/gadai lahan sawah, kelangkaan\/keterbatasan lahan subur, variabilitas terbatasnya infrastruktur (irigasi, jalan usahatani,dll), serta konversi dan fragmentasi lahan. Perubahan iklim yang terjadi saat ini turut mempengaruhi masa tanam sehingga&nbsp;juga menjadi tantangan untuk sektor pertanian. Untuk menghadapi tantangan tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":15291,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[66,173],"class_list":["post-15290","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-pertanian","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15290","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15290"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15290\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15290"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15290"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15290"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}