{"id":15564,"date":"2026-07-30T01:56:31","date_gmt":"2026-07-30T01:56:31","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15564"},"modified":"2026-07-30T01:56:31","modified_gmt":"2026-07-30T01:56:31","slug":"akibat-fenomena-solstis-hari-ini-siang-akan-lebih-panjang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15564","title":{"rendered":"Akibat Fenomena Solstis, Hari Ini Siang Akan Lebih Panjang"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia &#8211;&nbsp;<\/strong>Fenomena alam Juni Solstis atau Titik Balik Matahari tepat terjadi pada hari ini Jumat (21\/6\/2024). Pada fenomena ini, durasi penyinaran matahari di&nbsp;belahan&nbsp;utara&nbsp;Bumi&nbsp;akan lebih panjang.<\/p>\n<p>Juni Solstis menjadi tanda pergerakan musim kemarau di Indonesia. Menurut prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dhoho Kediri, Ringga Trigusti, fenomena Solstis&nbsp;ini terjadi setiap Juni dan Desember.<\/p>\n<p>Adanya fenomena solstis&nbsp;tersebut juga sekaligus sebagai tanda terjadinya perubahan musim. Untuk&nbsp;wilayah Indonesia, siang menjadi lebih lama dan malam sedikit lebih singkat waktunya.<\/p>\n<p>Intensitas penyinaran matahari pada siang hari ini&nbsp;akan&nbsp;berlangsung&nbsp;selama&nbsp;kurang lebih 11,40 jam.<\/p>\n<p>&ldquo;Fenomena Juni Solstis membuat&nbsp;durasi siang hari di bumi belahan utara jauh lebih lama,&rdquo; kata Rangga.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244625258\/el-nino-berlalu-indonesia-kini-bersiap-hadapi-la-nina-pada-juli-mendatang\">Baca: Indonesia bersiap hadapi La Nina pada Juli mendatang<\/a><\/p>\n<p>Selain itu, fenomena ini menyebabkan suhu di belahan bumi selatan lebih tinggi dibandingkan di belahan bumi utara.<\/p>\n<p>Hal ini menyebabkan angin Monsun Asia menjadi lebih signifikan dan berakhir meningkatkan potensi curah hujan di Indonesia.<\/p>\n<p>Sementara dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), solstis berasal dari Bahasa Latin &lsquo;Solstitium&rsquo;. &lsquo;Sol&rsquo; berarti matahari.<\/p>\n<p>Sedangkan &lsquo;Sitium&rsquo; merupakan bentuk kerja dari Sistere yang berarti tempat berhenti, singgah, atau balik. Karena itu, &lsquo;Solstium&rsquo; dapat didefinisikan sebagai Titik Balik Matahari.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244611808\/penjelasan-mengapa-indonesia-terhindar-dari-fenomena-gelombang-panas-yang-melanda-asia\">Baca: Ini penyebab Indonesia terhindar dari gelombang panas<\/a><\/p>\n<p>Fenomena Solstis adalah fenomena murni astronomis yang dapat mempengaruhi musim di bumi.<\/p>\n<p>Solstis disebabkan oleh sumbu rotasi Bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Pada Solstis bulan Juni, kutub utara dan belahan bumi Utara terkadang condong ke matahari saat bumi mengorbit matahari. Sedangkan kutub selatan dan belahan bumi selatan menjauhi matahari.<\/p>\n<p>Sementara Solstis bulan Desember, kutub selatan dan belahan bumi bagian selatan condong ke Matahari. Lalu kutub utara dan belahan bumi utara menjauhi Matahari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Fenomena alam Juni Solstis atau Titik Balik Matahari tepat terjadi pada hari ini Jumat (21\/6\/2024). Pada fenomena ini, durasi penyinaran matahari di&nbsp;belahan&nbsp;utara&nbsp;Bumi&nbsp;akan lebih panjang. Juni Solstis menjadi tanda pergerakan musim kemarau di Indonesia. Menurut prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dhoho Kediri, Ringga Trigusti, fenomena Solstis&nbsp;ini terjadi setiap Juni dan Desember. Adanya fenomena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":15565,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8,4334],"class_list":["post-15564","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bmkg","tag-solstis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15564","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15564"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15564\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15564"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15564"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15564"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}