{"id":15808,"date":"2026-07-30T01:57:38","date_gmt":"2026-07-30T01:57:38","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15808"},"modified":"2026-07-30T01:57:38","modified_gmt":"2026-07-30T01:57:38","slug":"ada-perbedaan-data-perdagangan-ikan-hias-laut-indonesia-peneliti-brin-sebut-perlu-ada-koreksi-dan-klarifikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15808","title":{"rendered":"Ada Perbedaan Data Perdagangan Ikan Hias Laut Indonesia, Peneliti BRIN Sebut Perlu Ada Koreksi dan Klarifikasi"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Kunto Wibowo mengatakan, hingga saat ini data ikan hias laut sulit sekali diakses, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>Sehingga para ahli di dunia melakukan berbagai pendekatan untuk mendapatkan data jenis hingga volume perdagangan ikan hias laut.<\/p>\n<p>&rdquo;Ini guna menetapkan prioritas konservasi dan manajemen ikan hias laut ini. <br \/>Hasilnya, bisa benar, bisa juga salah. Namun harapannya bisa mendekati,&rdquo; ungkap Kunto.<\/p>\n<p>Di Indonesia, hasil pendataan yang dilakukan Yayasan LINI dan pihak asosiasi eksportir ikan hias (Asosiasi Koral, Kerang, dan Ikan Hias Indonesia &#8211; AKKII dan Indonesia Ornamental Fish Exporters Association &#8211; INOFE) mencatat sebanyak 616 spesies ikan hias laut yang diperdagangkan Indonesia di pasar global.<\/p>\n<p>Namun berdasarkan kajian CITES dan UNEP WCMC, Indonesia dilaporkan memasarkan sebanyak 1175 spesies atau sekitar 62% dari total spesies ikan hias laut yang diperdagangkan dunia.<\/p>\n<p>Mengomentari perbedaan data perdagangan&nbsp;ikan&nbsp;hias&nbsp;laut&nbsp;Indonesia dengan hasil studi CITES-UNEP WCMC,&nbsp;Kunto yang sejak tahun 2010 fokus meneliti biodiversitas ikan laut ini memberikan tanggapannya.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244747873\/indonesia-pasok-62-persen-dari-total-spesies-ikan-hias-laut-yang-diperdagangkan-dunia\">Indonesia Pasok 62 Persen dari Total Spesies Ikan Hias Laut yang Diperdagangkan Dunia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Mungkin saja, ujarnya,&nbsp;terjadi kesalahan identifikasi. Karena selama ini pelaku perdagangan ikan hias melakukan identifikasi menggunakan foto atau gambar bukan melalui pengamatan dan pengukuran spesimen.<\/p>\n<p>&#8220;Sehingga bisa saja dua spesies berbeda dihitung menjadi satu spesies yang sama (terjadi pengurangan). Atau justru sebaliknya, satu spesies dihitung menjadi dua spesies berbeda sehingga double counting,&rdquo; ujar&nbsp;Kunto&nbsp;seperti&nbsp;dikutip&nbsp;di&nbsp;laman&nbsp;resmi&nbsp;BRIN.<\/p>\n<p>Karena itu&nbsp;dia&nbsp;mengusulkan perlunya koreksi.<\/p>\n<p>&#8220;Kondisi ini tentunya perlu koreksi, misal dengan memastikan kebenaran tatanama ikan hias laut melalui identifikasi langsung dari berbagai jenis spesimen yang diperdagangkan. Disinilah bidang ilmu biosistematika bekerja,&rdquo; tegas Kunto.<\/p>\n<p>Dikonfirmasi lebih lanjut terkait dampak yang akan timbul dari kesalahan identifikasi ini, peneliti yang menamatkan pendidikan doktoral di negeri Sakura tersebut memberikan pandangan.<\/p>\n<p>Kunto&nbsp;menegaskan,&nbsp;spesies hingga level genetik merupakan unit terkecil dalam upaya konservasi atau manajemen. Jika tidak ada koreksi dan klarifikasi maka akan terjadi kesalahan juga dalam prioritisasi konservasi dan manajemen.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244737016\/sambut-hari-laut-sedunia-kkp-gelar-aksi-bersih-pantai-serentak-di-23-kabupatenkota-di-indonesia\">Sambut Hari Laut Sedunia, KKP Gelar Aksi Bersih Pantai Serentak di 23 Kabupaten\/Kota di Indonesia.<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Akibatnya tentu akan berdampak bagi para pelaku perdagangan MOF itu sendiri. Misal ikan tidak lagi dapat diperdagangkan karena statusnya terancam punah padahal melimpah di alam,&rdquo; ungkap Kunto.<\/p>\n<p>Sebagai upaya koreksi terhadap biodiversitas perdagangan ikan hias laut, saat ini Indonesia memiliki project riset yang berjudul &#8220;Indonesia Marine Ornamental Fishes in New Paradigm (Indonesia Mantap)&#8221;.<\/p>\n<p>Kegiatan ini dilakukan dibawah kerja sama BRIN dengan LPDP Kementerian Keuangan RI pada skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) serta dukungan para stakeholder pelaku perdagangan MOF di Indonesia.<\/p>\n<p>Selaku Ketua Tim Indonesia Mantap, Kunto menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan updating status biodiversitas, valuasi perdagangan, dan kondisi sosial ekonomi perdagangan ikan hias laut sebagai dasar pemetaan masalah dan merumuskan arah kebijakan pengelolaan serta perdagangan MOF di Indonesia.<\/p>\n<p>Sehingga tidak hanya kajian biodiversitas saja, namun juga terdapat riset sosial ekonomi para pelaku perdagangan ikan hias laut.<\/p>\n<p>&#8220;Kegiatannya ya mulai dari koleksi spesimen, preparasi spesimen, dokumentasi, koleksi DNA, identifikasi spesies berdasarkan morfologi maupun molekuler, penyimpanan koleksi ikan hias laut di Museum Zoological Bogoriense, hingga publikasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan ke depan,&rdquo; tutur Kunto.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/244453193\/pertanyakan-penundaan-penangkapan-ikan-terukur-dpr-minta-kkp-lindungi-nelayan-tradisional\">Pertanyakan Penundaan Penangkapan Ikan Terukur, DPR Minta KKP Lindungi Nelayan Tradisional<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menambahkan, untuk sosial ekonomi sendiri akan dikaji permasalahan mata pencaharian para pelaku usaha, pemetaan pengetahuan nelayan terhadap kondisi sumberdaya, musim penangkapan, regulasi, termasuk mengkaji nilai perdagangan ikan hias laut di Indonesia.<\/p>\n<p>Untuk mengupas lebih lanjut inisiatif Indonesia Mantap dan peranan biosistematika dalam mendukung perdagangan, manajemen dan konservasi, Kunto Wibowo memaparkan detail kegiatan tersebut pada Simposium Innovations in Sustainable Aquatics: Balancing Hobby with Conservation pada 7 Juni 2024&nbsp;lalu<\/p>\n<p>Acara&nbsp;ini&nbsp;diselenggarakan Yayasan LINI, Nusatic 2024, dan didukung Kementerian Kelautan dan Perikanan.<\/p>\n<p>Kunto berharap seluruh stakeholder perdagangan ikan hias laut di Indonesia dapat bergerak bersama untuk mendukung inisiatif ini demi menjaga kelestarian dan keberlanjutan perdagangan MOF Indonesia di pasar global.<\/p>\n<p>Dengan adanya inisiatif Indonesia Mantap ini, dirinya berharap masyarakat Indonesia termasuk nelayan, pengepul, pecinta ikan, hingga eksportir bisa turut berpartisipasi dengan mengambil contoh yang terjadi di Jepang.<\/p>\n<p>&#8220;Di Jepang, antusiasme warga terkait pengungkapan jenis ikan sangatlah tinggi, bahkan di tingkat nelayan sekalipun. Ketika mereka menemukan ikan yang tidak dikenal, mereka dengan penuh semangat akan segera membawanya ke museum untuk diidentifikasi,&rdquo; tutup Kunto.<\/p>\n<p>Sumber:brin.go.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Kunto Wibowo mengatakan, hingga saat ini data ikan hias laut sulit sekali diakses, termasuk Indonesia. Sehingga para ahli di dunia melakukan berbagai pendekatan untuk mendapatkan data jenis hingga volume perdagangan ikan hias laut. &rdquo;Ini guna menetapkan prioritas konservasi dan manajemen ikan hias laut ini. Hasilnya, bisa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":15809,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[477,4400],"class_list":["post-15808","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brin","tag-ikan-hias-laut"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15808"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15808\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}