{"id":15856,"date":"2026-07-30T01:57:58","date_gmt":"2026-07-30T01:57:58","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15856"},"modified":"2026-07-30T01:57:58","modified_gmt":"2026-07-30T01:57:58","slug":"harapan-penyelamatan-hutan-adat-suku-awyu-di-balik-tagar-all-eyes-on-papua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15856","title":{"rendered":"Harapan Penyelamatan Hutan Adat Suku Awyu di Balik Tagar &#8220;All Eyes on Papua&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Slogan &#8220;All Eyes on Papua&#8221; dalam sepekan terakhir mencuat tidak lama setelah unggahan &ldquo;All Eyes on Rafah&rdquo; viral di Instagram.<\/p>\n<p>Komunitas adat dan generasi muda Papua berharap tagar &#8220;All Eyes on Papua&#8221; di sosial media ini mendorong solidaritas nyata terhadap isu Papua.<\/p>\n<p>Unggahan dengan slogan ini beredar di Instagram awal Juni lalu, beberapa hari setelah kemunculan foto yang diproduksi aplikasi kecerdasan buatan.<\/p>\n<p>Foto yang menampilkan tenda-tenda pengungsi Palestina dan slogan bertuliskan &ldquo;All Eyes on Rafah&#8221; itu menyoroti serangan udara Israel dan kebakaran di kamp pengungsi Palestina di Rafah, Gaza selatan.<\/p>\n<p>Serupa dengan unggahan &ldquo;All Eyes on Rafah&rdquo;, foto berslogan &ldquo;All Eyes on Papua&rdquo; juga diciptakan kecerdasan buatan. Foto hitam-putih tersebut menampilkan sebuah mata dan empat paragraf penjelasan situasi masyarakat Awyu.<\/p>\n<p>Terdapat pula tautan menuju situs petisi publik change.org. Petisi itu mengajak publik mendorong Mahkamah Agung mencabut izin lingkungan perusahaan kelapa sawit PT. Indo Asiana Lestari.<\/p>\n<p>Izin yang diperoleh korporasi itu dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Papua.&nbsp;Dengan izin tersebut, PT. Indo Asiana Lestari berhak menggunduli hutan yang diklaim sebagai tanah adat oleh masyarakat Awyu.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244734339\/tagar-all-eyes-on-papua-viral-ini-kata-wapres\">Baca: Respon Wapres soal viralnya &#8220;All Eyes on Papua&#8221;<\/a><\/p>\n<p>Unggahan &ldquo;All Eyes on Papua&rdquo; beredar di dunia maya tak lama setelah aksi sejumlah perwakilan Suku Awyu di kantor Mahkamah Agung, Jakarta, pada 27 Mei lalu.<\/p>\n<p>Bersama beberapa lembaga seperti Greenpeace dan Yayasan Pusaka Bentala Rakyat yang mendampingi mereka, sejumlah perwakilan Suku Awyu datang mengenakan pakaian adat.<\/p>\n<p>Mereka melantunkan nyanyian, menari, dan membentangkan poster bertuliskan &lsquo;Selamatkan Hutan Adat Papua dan &lsquo;Papua Bukan Tanah Kosong&rsquo;.<\/p>\n<p>Suku Awyu menggelar aksi di depan lembaga peradilan tertinggi di Indonesia itu karena gugatan mereka terhadap izin lingkungan PT. Indo Asiana Lestari kini berada di tingkat kasasi.<\/p>\n<p>Dalam kurun waktu yang tidak ditentukan, para hakim Mahkamah Agung nantinya akan memutuskan apakah akan menerima gugatan itu atau kembali memenangkan perusahaan kelapa sawit tersebut.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Dibagikan lebih dari tiga juta kali per Kamis (6\/6\/2024), unggahan pertama &#8220;All Eyes on Papua&#8221; berisi ajakan mendukung masyarakat adat Suku Awyu di Boven Digoel<\/p>\n<p>Boven Digoel merupakan salah satu kabupaten dengan laju deforestasi tertinggi di Papua, Menurut lembaga riset dan advokasi Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244698165\/serukan-penyelamatan-hutan-adat-papua-dari-ekspansi-kebun-sawit-suku-awyu-dan-moi-gelar-aksi-damai-di-gedung-mahkamah-agung\">Baca: Perjuangan suku Awyu di balik viralnya viralnya &#8220;All Eyes on Papua&#8221;<\/a><\/p>\n<p>Suku Awyu tengah berupaya mempertahankan tanah ulayat seluas 36.094 hektare, yang setara setengah area Jakarta, dari rencana ekspansi perusahaan kelapa sawit PT. Indo Asiana Lestari.<\/p>\n<p>Walau unggahan &#8220;All Eyes on Papua&#8221; secara spesifik menyorot konflik agraria di komunitas Suku Awyu, kampanye yang digagas sejumlah lembaga advokasi lingkungan itu kini memicu perbincangan yang lebih luas soal beragam persoalan di Papua.<\/p>\n<p>Permasalahan itu antara lain akses pendidikan dan kesehatan yang minim, peristiwa kelaparan yang terus berulang, hingga konflik bersenjata tak berkesudahan.<\/p>\n<p>Konflik itu, selama puluhan tahun, telah memicu ratusan bahkan ribuan orang tewas. Ribuan orang juga mengungsi oleh karenanya.<\/p>\n<p>BBC News Indonesia berbicara dengan perwakilan Suku Awyu dan pengacara yang mendampingi mereka, serta sejumlah anak muda Papua yang berharap &#8220;All Eyes on Papua&#8221; tidak berhenti pada unggahan sosial media belaka.<\/p>\n<p>Gerakan&nbsp;&#8220;All Eyes on Papua&#8221; diharapkan&nbsp;juga mendorong solidaritas nyata terhadap orang-orang asli Papua.<\/p>\n<p>Apa reaksi suku Awyu? Hendrikus Franky Woro adalah laki-laki dari Suku Awyu yang selama beberapa tahun terakhir mewakili komunitas adatnya di hadapan publik.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/daerah\/243214553\/ptun-jayapura-tolak-gugatan-lingkungan-suku-awyu-papua\">Baca: PTUN Jayapura tolak gugatan suku Awyu<\/a><\/p>\n<p>Dia juga menjadi sosok sentral dalam aksi kelompok adatnya di Jakarta, pada akhir Mei lalu. Franky tidak memiliki akun media sosial. Ponselnya tidak lagi berfungsi sejak Desember 2023.<\/p>\n<p>Dia tak memiliki ponsel hingga beberapa hari sebelum terbang ke Jakarta untuk menggelar aksi di depan kantor Mahkamah Agung.<\/p>\n<p>Beberapa hari lalu, Franky mendapat kabar bahwa kampanye publik untuk mendukung gugatan kelompoknya terhadap perusahaan kelapa sawit ramai dibicarakan di media sosial.<\/p>\n<p>&ldquo;Saya bersama keluarga saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya,&rdquo; ujar Franky saat dihubungi dari Jakarta.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&ldquo;Terhadap dukungan dari keluarga dan sesama saya di seluruh Indonesia, sebagai manusia biasa, saya tak mampu untuk membalas semua kebaikan itu,&rdquo; ucapnya.<\/p>\n<p>Franky berharap dukungan warganet itu akan berdampak pada upaya kasasi yang diajukan oleh kelompok adatnya.<\/p>\n<p>Dia menyebut harapan Suku Awyu untuk mencegah ekspansi perkebunan sawit di tanah adatnya kini hanya bisa disematkan kepada para hakim agung.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244738201\/tokoh-masyarakat-adat-tabi-papua-minta-pemerintah-lebih-serius-menjaga-kelestarian-cagar-alam-pegunungan-cycloop\">Baca: Upaya mendorong pelestarian cagar alam Pegunungan Cycloop<\/a><\/p>\n<p>Dia meminta para hakim membuat putusan yang seadil-adilnya.<\/p>\n<p>&ldquo;Tanah adalah nomor rekening abadi bagi kami. Tanah adalah mama,&rdquo; kata Franky.<\/p>\n<p>&rdquo;Tanpa tambang, tanpa sawit, kami masyarakat adat bisa hidup. Tetapi tanpa hutan adat, kami tidak bisa hidup,&rdquo; tuturnya.<\/p>\n<p>Boven Digoel adalah satu dari 35 kota dan kabupaten di Papua yang masuk kategori daerah dengan kemiskinan ekstrem. Daftar ini disusun pemerintah pusat untuk periode 2021 hingga 2024.<\/p>\n<p>Kemiskinan ekstrem, merujuk ukuran Bank Dunia, adalah situasi yang dihadapi orang-orang dengan paritas daya beli sebesar 1,9 dolar AS atau Rp30 ribu per hari dalam kurs 6 Juni 2024.<\/p>\n<p>Papua dan Papua Barat konsisten berada di peringkat teratas dalam daftar provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia.<\/p>\n<p>Pada 2023, merujuk Badan Pusat Statistik Nasional, persentase penduduk miskin di Papua mencapai 26,03% dan di Papua Barat sebesar 20,49%.<\/p>\n<p>Sumber:BBC&nbsp;News&nbsp;Indonesia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Slogan &#8220;All Eyes on Papua&#8221; dalam sepekan terakhir mencuat tidak lama setelah unggahan &ldquo;All Eyes on Rafah&rdquo; viral di Instagram. Komunitas adat dan generasi muda Papua berharap tagar &#8220;All Eyes on Papua&#8221; di sosial media ini mendorong solidaritas nyata terhadap isu Papua. Unggahan dengan slogan ini beredar di Instagram awal Juni lalu, beberapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":15857,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4416],"class_list":["post-15856","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-all-eyes-on-papua"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15856","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15856"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15856\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15857"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15856"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15856"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15856"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}