{"id":16008,"date":"2026-07-30T01:58:39","date_gmt":"2026-07-30T01:58:39","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=16008"},"modified":"2026-07-30T01:58:39","modified_gmt":"2026-07-30T01:58:39","slug":"brin-keanekaragaman-hayati-membuat-indonesia-punya-potensi-besar-dalam-pengembangan-obat-herbal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=16008","title":{"rendered":"BRIN: Keanekaragaman Hayati Membuat Indonesia Punya Potensi Besar dalam Pengembangan Obat Herbal"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp; <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia dikarunia sumber daya keanekaragaman hayati yang melimpah ruah.<\/p>\n<p>Keanekaragaman hayati ini membuat Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan obat herbal.<\/p>\n<p>&#8220;Secara umum mestinya kita bisa menggantikan semua bahan baku obat (dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki, red),&#8221; kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko di Jakarta, Senin.<\/p>\n<p>Handoko menuturkan, BRIN&nbsp;telah mengidentifikasi sekitar 30 ribu spesies sebagai potensi&nbsp;keanekaragaman hayati&nbsp;Indonesia.<\/p>\n<p>Sayangnya, obat herbal berstandar berbanding terbalik dengan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki. Obat herbal yang sudah terdaftar tercatat baru 76 obat.<\/p>\n<p>Menurutnya, bila keanekaragaman hayati itu bisa dioptimalkan secara baik dapat menciptakan kedaulatan obat dan kesehatan bagi Indonesia.<\/p>\n<p>Dengan demikian, lanjutnya, insiden berebut obat dan kelangkaan obat yang terjadi saat era pandemi Covid-19 tidak akan terulang.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/243456378\/who-sebanyak-80-persen-penduduk-dunia-gunakan-obat-herbal-tradisional\">WHO: Sebanyak 80 Persen Penduduk Dunia Gunakan Obat Herbal Tradisional<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Itu (bahan baku obat) salah satu bentuk kedaulatan dan ketahanan era modern ini yang justru jauh lebih penting daripada bukan hanya masalah perang,&#8221; kata Handoko.<\/p>\n<p>Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa membuat bahan baku alam menjadi obat-obatan butuh proses yang cukup panjang tidak hanya dari aspek riset, tetapi juga aspek pengembangan teknologi proses.<\/p>\n<p>Beberapa tumbuhan, kata dia, diketahui bisa menjadi bahan baku parasetamol, namun untuk membuat mesin yang bisa memproses tumbuhan menjadi parasetamol secara konsisten masih menjadi tantangan saat ini.<\/p>\n<p>Handoko menegaskan,&nbsp;BRIN akan terus berusaha menjalin berbagai kerja sama dengan industri kesehatan agar Indonesia dapat menciptakan obat dan alat kesehatan secara mandiri berbekal potensi keanekaragaman hayati yang ada.<\/p>\n<p>&#8220;Industri yang membuat mesin tidak ada di Indonesia. Itu sebabnya mau tidak mau kita harus bermitra dengan industri manufaktur,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>Dalam sebuah seminar, Kepala Pusat Riset Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Sofa Fajriah mengatakan, istilah back to nature sedang didorong pemanfaatan herbal yang berdampak terhadap kesehatan.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244677402\/hari-keanekaragaman-hayati-dunia-2024-masyarakat-diajak-untuk-menjadi-bagian-dari-rencana-keanekaragaman-hayati\">Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2024: Masyarakat Diajak untuk Menjadi Bagian dari Rencana Keanekaragaman Hayati<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kesadaran masyarakat yang meningkat terhadap kesehatan berpengaruh pula terhadap penggunaan obat herbal yang berasal dari tumbuhan dengan cara tradisional dan alami.<\/p>\n<p>Menurut Sofa, kesadaran penggunaan obat herbal itu muncul sejak zaman nenek moyang.<\/p>\n<p>&#8220;Hal itu dilakukan oleh masyarakat tentunya karena khasiatnya sudah terbukti dapat mengobati penyakit, lebih murah, dan efek samping lebih kecil bahkan hampir tidak ada,&#8221; kata Sofa.<\/p>\n<p>Berdasarkan prediksi Research and Markets, potensi pasar produk obat herbal mencapai 411,2 miliar dolar AS pada 2026, dengan kenaikan rata-rata adalah 30 persen per tahun.<\/p>\n<p>Pandemi Covid-19 meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lebih memilih untuk menjaga kesehatan ketimbang mengobati penyakit.<\/p>\n<p>Sofa Fajriah menjelaskan, di Indonesia sumber bahan baku obat herbal dan obat tradisional sebagian besar masih dipasok dari alam dengan komposisi mencapai 85 persen.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/243301157\/tumbuh-liar-dan-kerap-dianggap-gulma-ini-manfaat-meniran-bagi-kesehatan\">Tumbuh Liar dan Kerap Dianggap Gulma, Ini Manfaat Meniran Bagi Kesehatan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Beberapa sumber bahan baku obat herbal berasal dari tanaman yang tumbuh di taman nasional, hutan-hutan, dan kebun-kebun.<\/p>\n<p>Selain nilai kesehatan dan ekonomi yang tinggi, penggunaan obat herbal yang kian masif juga didorong oleh para penyehatan tradisional.<\/p>\n<p>Berdasarkan data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan tahun 2015 dan 2017, distribusi penyehatan tradisional terbesar ada di Jawa Tengah mencapai 11,90 persen,<\/p>\n<p>Sulawesi Tengah sebanyak 11,10 persen, Jawa Barat sebanyak 7,80 persen, dan Sulawesi Selatan mencapai tujuh persen.<\/p>\n<p>&#8220;Profil penyehatan tradisional sebagian besar adalah petani dengan angka mencapai 50,14 persen dan penyehatan tradisional murni 22,95 persen, sedangkan sisanya berprofesi sebagai TNI-Polri, ASN, dan lain-lain,&#8221; kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Suharmiati.<\/p>\n<p>Sumber:Antaranews.com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; 7cloud.asia &#8211; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia dikarunia sumber daya keanekaragaman hayati yang melimpah ruah. Keanekaragaman hayati ini membuat Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan obat herbal. &#8220;Secara umum mestinya kita bisa menggantikan semua bahan baku obat (dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki, red),&#8221; kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko di Jakarta, Senin. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":16009,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1502,44,1679],"class_list":["post-16008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-herbal","tag-keanekaragaman-hayati","tag-obat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16008"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16008\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16009"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}