{"id":16980,"date":"2026-07-30T02:04:20","date_gmt":"2026-07-30T02:04:20","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=16980"},"modified":"2026-07-30T02:04:20","modified_gmt":"2026-07-30T02:04:20","slug":"menggali-keunikan-desa-adat-wae-rebo-hanya-memiliki-7-rumah-adat-mbaru-niang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=16980","title":{"rendered":"Menggali Keunikan Desa Adat Wae Rebo: Hanya Memiliki 7 Rumah Adat Mbaru Niang"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong>&nbsp;&#8211;&nbsp;Beberapa waktu lalu, majalah wisata, TimeOut yang berbasis di Inggris memasukkan&nbsp;Desa Adat Wae Rebo&nbsp;menjadi&nbsp;kota&nbsp;kecil&nbsp;terindah&nbsp;kedua&nbsp;di&nbsp;dunia.<\/p>\n<p>Terletak di Kabupaten Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, desa adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo&nbsp;juga&nbsp;pernah menerima Top Award of Excellence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012, yang diumumkan di Bangkok pada Agustus 2012.&nbsp;<\/p>\n<p>Lepas&nbsp;dari&nbsp;sederet&nbsp;penghargaan&nbsp;ini,&nbsp;desa&nbsp;adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo&nbsp;memang&nbsp;menyimpan&nbsp;daya&nbsp;tarik&nbsp;karena&nbsp;sederet&nbsp;keunikan&nbsp;yang&nbsp;dimilikinya.<\/p>\n<p>Wae Rebo adalah desa adat kecil yang berlokasi jauh dari&nbsp;kawasan&nbsp;perkotaan.&nbsp;Bahkan&nbsp;di&nbsp;desa&nbsp;ini&nbsp;listrik&nbsp;dibatasi&nbsp;pun&nbsp;tidak&nbsp;ada&nbsp;jaringan&nbsp;seluler.&nbsp;<\/p>\n<p>Dilansir&nbsp;wikipedia,&nbsp;pendiri Desa Wae Rebo adalah seorang pria bernama Empu Maro&nbsp;yang&nbsp;berdarah&nbsp;Minangkabau.<\/p>\n<p>Dia membangun desa adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo&nbsp;tersebut sekitar 1200 tahun yang lalu dan kemudian dilestarikan oleh penduduk lokalnya hingga sekarang mencapai keturunan generasi ke-20.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/244557576\/wae-rebo-kota-kecil-terindah-kedua-di-dunia\">Wae Rebo, Kota Kecil Terindah Kedua di Dunia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Desa Adat Wae Rebo&nbsp;memiliki populasi kecil yaitu sekitar 1,200 jiwa, desa ini terdiri dari 7 rumah&nbsp;adat yang&nbsp;disebut&nbsp;Mbaru Niang<\/p>\n<p>Rumah adat Mbaru Niang yang tinggi dan berbentuk kerucut serta tertutup ilalang lontar dari atap hingga ke tanah&nbsp;menjadi&nbsp;salah satu keunikan dan menjadi ciri khas dari Wae Rebo&nbsp;<\/p>\n<p>Rumah adat Mbaru Niang ini&nbsp;tersusun mengitari batu melingkar yang dinamakan compang sebagai titik pusatnya. Compang merupakan pusat aktivitas warga untuk mendekatkan diri dengan alam, leluhur, dan Tuhan.<\/p>\n<p>Arsitektur Mbaru Niang mengandung filosofi dan mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Wae Rebo&nbsp;tapi&nbsp;juga masih memiliki unsur Minangkabau.<\/p>\n<p>Unsur&nbsp;Minangkabau terlihat dari Niang Dangka atau atap Mbaru Niang, yakni bertanduk rangkap dua yang dijadikan satu.<\/p>\n<p>Rumah tradisional ini merupakan wujud keselarasan manusia dengan alam serta merupakan cerminan fisik dari kehidupan sosial Suku Manggarai.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/senggang\/241741367\/jalan-jalan-ke-desa-adat-berwisata-sambil-belajar-kehidupan-dari-masyarakat-adat\">Jalan-jalan ke Desa Adat, Berwisata sambil Belajar Kehidupan dari Masyarakat Adat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Suku Manggarai meyakini lingkaran sebagai simbol keseimbangan, sehingga pola lingkaran ini diterapkan hampir di seluruh wujud fisik desa, dari bentuk kampung sampai rumah-rumahnya.<\/p>\n<p>Mbaru Niang terdiri dari 5 lantai dengan atap daun lontar dan ditutupi oleh ijuk. Setiap lantai memiliki fungsinya masing-masing, seperti tempat berkumpul, menyimpan bahan makanan, beribadah, dan fungsi lainnya.<\/p>\n<p>Rumah ini juga mengikuti prinsip leluhur yang sangat kuat dan tidak boleh menyentuh tanah.<\/p>\n<p>Dari&nbsp;tujuh&nbsp;mbaru&nbsp;Niang&nbsp;yang&nbsp;ada,&nbsp;ada satu rumah yang dikhususkan untuk keperluan ritual bagi masyarakat di Desa Adat Wae Rebo.<\/p>\n<p>Penduduk lokal di desa ini mayoritas beragama Katolik tetapi masih menganut kepercayaan lama. Di rumah ini tersimpan pusaka suci berupa gendang dan gong.<\/p>\n<p>Rumah Mbaru Niang ini memiliki lima lantai, di mana setiap tingkat dirancang untuk tujuan tertentu&nbsp;dan&nbsp;punya&nbsp;makna&nbsp;tertentu&nbsp;dalam&nbsp;keseharian&nbsp;warga&nbsp;Wae&nbsp;Rebo.&nbsp;Lantai pertama, yang disebut lutur atau tenda, adalah tempat tinggal keluarga besar.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/244560763\/mengenal-tradisi-naik-dango-di-kalangan-masyarakat-adat-dayak-kanayatn\">Mengenal Tradisi Naik Dango di Kalangan Masyarakat Adat Dayak Kanayatn<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Lantai kedua, yang disebut lobo atau loteng, dikhususkan untuk menyimpan makanan dan barang-barang.<\/p>\n<p>Lantai ketiga yang disebut lentar adalah tempat penyimpanan benih untuk musim tanam berikutnya.<\/p>\n<p>Lantai keempat yang disebut lempa rae adalah untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan.<\/p>\n<p>Terakhir,&nbsp;atau&nbsp;lantai&nbsp;kelima dan teratas yang disebut hekang kode, juga yang dianggap paling suci, adalah tempat persembahan untuk leluhur.<\/p>\n<p>Desa adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo terletak sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut dan untuk mengunjunginya, dibutuhkan sekitar 3-4 jam perjalanan dengan berjalan kaki dari Desa Denge,&nbsp;desa&nbsp;modern&nbsp;terdekat.<\/p>\n<p>Meski&nbsp;telah&nbsp;berusia&nbsp;ratusan&nbsp;tahun,&nbsp;desa&nbsp;adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo&nbsp;masih&nbsp;terjaga&nbsp;keasliannya.&nbsp;Termasukjumlah&nbsp;Mbaru&nbsp;Niang&nbsp;yang&nbsp;dipertahankan&nbsp;tetap&nbsp;tujuh&nbsp;buah.<\/p>\n<p><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24569236\/mengenal-uniknya-tradisi-seba-masyarakat-badui-tahun-ini-singgung-hak-politik\">Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik<\/a><\/strong><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n<p>Desa adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo&nbsp;dikelilingi oleh pegunungan yang indah serta Hutan Todo yang rindang serta kaya akan vegetasi.<\/p>\n<p>Di hutan ini, pengunjung dapat menemukan anggrek, berbagai jenis pakis, serta mendengar kicauan merdu dari beragam burung yang membuat suasana menjadi semakin ceria.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Makanan pokok penduduk desa adalah singkong dan jagung. Namun, di sekitar desa mereka juga menanam kopi, vanili, dan kayu manis yang mereka jual di pasar yang terletak sekitar 15 km dari desa.<\/p>\n<p>Belakangan ini, Desa Adat Wae Rebo semakin populer sebagai tujuan wisata bagi para pencinta ekowisata domestik dan mancanegara. Hal ini tentunya juga menambah kesejahteraan ekonomi desa tersebut.<\/p>\n<p>Harus diingat nih, tidak ada jangkauan seluler di desa ini, dan listrik hanya tersedia dari pukul 6 hingga 10 malam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia&nbsp;&#8211;&nbsp;Beberapa waktu lalu, majalah wisata, TimeOut yang berbasis di Inggris memasukkan&nbsp;Desa Adat Wae Rebo&nbsp;menjadi&nbsp;kota&nbsp;kecil&nbsp;terindah&nbsp;kedua&nbsp;di&nbsp;dunia. Terletak di Kabupaten Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, desa adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo&nbsp;juga&nbsp;pernah menerima Top Award of Excellence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012, yang diumumkan di Bangkok pada Agustus 2012.&nbsp; Lepas&nbsp;dari&nbsp;sederet&nbsp;penghargaan&nbsp;ini,&nbsp;desa&nbsp;adat&nbsp;Wae&nbsp;Rebo&nbsp;memang&nbsp;menyimpan&nbsp;daya&nbsp;tarik&nbsp;karena&nbsp;sederet&nbsp;keunikan&nbsp;yang&nbsp;dimilikinya. Wae Rebo adalah desa adat kecil yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":16981,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4633,4634,4612],"class_list":["post-16980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-desa-adat","tag-mbaru-niang","tag-wae-rebo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16980"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16980\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}