{"id":17240,"date":"2026-07-30T02:05:48","date_gmt":"2026-07-30T02:05:48","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17240"},"modified":"2026-07-30T02:05:48","modified_gmt":"2026-07-30T02:05:48","slug":"dodol-betawi-makanan-khas-betawi-yang-rumit-pembuatannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17240","title":{"rendered":"Dodol Betawi, Makanan Khas Betawi yang Rumit Pembuatannya"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Dodol Betawi menjadi salah satu hidangan khas Lebaran yang banyak ditemukan di Jakarta dan sekitarnya.<\/p>\n<p>Budayawan Yahya Andi Saputra mengatakan dodol Betawi bukan termasuk hidangan khas Lebaran yang mudah dibuat karena ada aturan dan pantangan.<\/p>\n<p>Karena itu, orang Betawi membuat dodol Betawi hanya pada hari-hari tertentu seperti Lebaran dan pernikahan.<\/p>\n<p>&#8220;Dulu, dodol Betawi kan bukan kue murahan dan gampangan. &#8216;Bikinnye ribet&#8217;. Ada aturan dan pantangan,&#8221; ajar budayawan yang tergabung di Lembaga Kebudayaan Betawi itu, seperti dikutip&nbsp; Antaranwscom Kamis (11\/4\/2024).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/244531141\/seperti-ini-penjelasannya-mengapa-ketupat-menjadi-hidangan-wajib-saat-idul-fitri\">Baca&nbsp; Ini alasan mengapa ketupat menjadi hidangan khas lebaran<\/a><\/p>\n<p>Namun kini, relatif sudah banyak orang yang membuat dodol Betawi sehingga tinggal memilih yang cocok dan membelinya.<\/p>\n<p>&#8220;Kalo dulu ngaduk sendiri, sekarang udah banyak yang jualan, ya kita beli. Pilih mana yang paling &#8216;pas&#8217; dan paling cocok sama bikinan keluarga. Itu gampang jadinya,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Dodol Betawi saat ini, menurut Yahya, sudah menjadi kue pasar sehingga dapat dinikmati kapan saja dan dalam berbagai kegiatan atau acara.<\/p>\n<p>&#8220;Keluarga saye sih, kalau Lebaran, dari jaman engkong ampe sekarang, tetep sediain dodol Betawi,&#8221; ujar dia.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244518136\/yuk-sambut-idul-fitri-dengan-cara-yang-lebih-ramah-lingkungan\">Baca: Tidak berlebihan makanan menjadi salah satu cara Lebaran yang ramah lingkungan<\/a> &nbsp;<\/p>\n<p>Merujuk laman Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kementerian Kebudayaan bahwa pembuatan dodol Betawi yang terdiri dari varian ketan putih, ketan hitam dan durian, rumit.<\/p>\n<p>Bahan baku pembuatan yang terdiri dari ketan, gula merah, gula pasir dan santan harus dimasak di atas tungku dengan kayu bakar selama delapan jam.<\/p>\n<p>Kemudian, untuk membuatnya perlu tenaga ekstra dalam mengaduk adonan dodol. Hal ini karena dalam satu panci kuali besar dengan diameter satu meter, adonan dodol harus diaduk selama tujuh jam tanpa berhenti.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Jika berhenti maka adonan akan keras dan rasanya tidak merata.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/244532179\/bolehkah-membayar-zakat-fitrah-untuk-saudara-sendiri\">Baca: Bisakah membayar zakat fitrah untuk keluarga sendiri<\/a><\/p>\n<p>Keluarga besar Betawi yang dulunya hidup berdekatan, saling melengkapi bahan dasar pembuatan dodol.<\/p>\n<p>Begitu bahan tersedia, para pria bertugas membuat dodol Betawi dan mengaduk adonan. Sedangkan para wanita menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>bahwa dodol Betawi sebenarnya paling asyik dinikmati pada pagi atau sore hari sesudah Lebaran.<\/p>\n<p>&#8220;&#8216;Dinikmatin&#8217; pagi atawa sore dengan kopi &#8216;pait&#8217; &#8216;atawa&#8217; teh &#8216;pait&#8217;,&#8221;&nbsp;<\/p>\n<p>Yahya mengatakan apabila ingin menikmati dodol Betawi, keluarganya membuat sendiri.&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Dodol Betawi menjadi salah satu hidangan khas Lebaran yang banyak ditemukan di Jakarta dan sekitarnya. Budayawan Yahya Andi Saputra mengatakan dodol Betawi bukan termasuk hidangan khas Lebaran yang mudah dibuat karena ada aturan dan pantangan. Karena itu, orang Betawi membuat dodol Betawi hanya pada hari-hari tertentu seperti Lebaran dan pernikahan. &#8220;Dulu, dodol Betawi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":17241,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[990,884],"class_list":["post-17240","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-dodol-betawi","tag-lebaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17240","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17240"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17240\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17241"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17240"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17240"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17240"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}