{"id":17792,"date":"2026-07-30T02:08:40","date_gmt":"2026-07-30T02:08:40","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17792"},"modified":"2026-07-30T02:08:40","modified_gmt":"2026-07-30T02:08:40","slug":"mencari-produk-menstruasi-perempuan-yang-ramah-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17792","title":{"rendered":"Mencari Produk Menstruasi Perempuan yang Ramah Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp;&nbsp;Hampir 50 persen populasi dunia adalah perempuan, yang sebagian besar di antaranya mengalami menstruasi dalam hidup mereka.<\/p>\n<p>Tampon dan pembalut lantas menjadi produk yang sangat dekat dengan perempuan saat mereka menstruasi yang&nbsp; datang hampir setiap bulan<\/p>\n<p>Namun, dalam perkembangannya produk tampon dan pembalut yang sangat membantu perempuan saat menstruasi ini disebut sebagai salah satu sumber sampah terbesar di planet Bumi.<\/p>\n<p>Pembalut dinilai tidak ramah lingkungan karena bersifat sekali pakai dan 55 hingga 65 persen pembalut terbuat dari plastik yang tidak bisa diurai.<\/p>\n<p>Padahal rata-rata seorang perempuan menghabiskan 11.000 hingga 17.000 pembalut selama hidupnya, yang semua itu akan dibuang ke alam dan mencemari lingkungan.<\/p>\n<p>Selain pembalut, perempuan juga mengenal tampon saat menstruasi. Nah, untuk yang terakhir ini, diyakini sudah ada sejak ribuan tahun silam.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/senggang\/24759742\/dear-perempuan-yuk-beralih-ke-pembalut-kain-demi-lingkungan\">Baca: Ajakan untuk beralih ke pembalut kain yang lebih ramah lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Dilansir wikipedia, tampon terbuat dari berbagai macam bahan seperti papyrus lunak(Mesir), wol (Romawi), kertas (Jepang)&nbsp; ataupun pakis dan rerumputan (Hawaii).<\/p>\n<p>Saat ini sebagian besar tampon terbuat dari kapas atau kain kasa.&nbsp;Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, pada 8 Maret 2024 lalu perusahaan rintisan Jerman mempromosikan produk menstruasi berkelanjutan.<\/p>\n<p>Tampon ini dapat terurai secara hayati, terbuat dari serat yang berasal dari rumput laut, lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan produk lain di pasaran. Benarkah demikian?<\/p>\n<p>Adalah VYLD, sebuah perusahaan rintisan di Jerman mengatasi masalah ini dengan mengembangkan tampon yang terbuat dari rumput laut.<\/p>\n<p>Perusahaan yang didirikan pada tahun 2021 di Berlin, memulai misi untuk menghasilkan produk inovatif dan ramah lingkungan yang terbuat dari rumput laut. Misi itu itu dimulai dengan tampon.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244465879\/start-up-dari-jerman-rilis-tampon-ramah-lingkungan-berbahan-rumput-laut\">Baca: Tampon ramah lingkungan berbahan rumput laut<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Salah seorang pendiri VYLD, Ines Schiller, mengatakan, &#8220;Visi jangka panjang kami sebenarnya adalah algaeverse, atau alam semesta yang diwarnai produk berkelanjutan berbahan dasar rumput laut. Dan ide keberlanjutan adalah hal yang sangat penting.&rdquo;<\/p>\n<p>Menurut sekitar 100 perempuan yang ikut serta dalam uji coba tampon rumput laut ini, berbeda dengan tampon yang terbuat dari katun dan seringkali membutuhkan pembungkus plastik untuk dipasang ke dalam vagina.<\/p>\n<p>Sedangkan tampon rumput laut pada dasarnya sedikit berlendir dan masih sangat halus ketika dibuat menjadi serat sehingga tidak memerlukan aplikator.<\/p>\n<p>Meskipun demikian penutup tampon masih terbuat dari plastik.&nbsp;Sebagian staf mengatakan mereka sedang mempersiapkan alternatif produk yang dapat terurai, yang juga berasal dari rumput laut.<\/p>\n<p>FORSA, sebuah lembaga penelitian yang melakukan kajian empiris tentang hal ini, diketahui bahwa 71 persen perempuan haid menggunakan tampon sekali pakai dan hanya 4 persen yang menggunakan tampon organik.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/senggang\/24572903\/tren-anak-muda-suka-beli-barang-bekas-atau-thrifting-demi-kurangi-sampah-dan-polusi\">Baca: Thrifting, cara anak muda bergaya dengan cara yang lebih ramah lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Sebanyak 41 persen peserta penelitian itu mengatakan mereka siap memilih produk menstruasi yang dapat digunakan kembali, tetapi mengalami kesulitan untuk memutuskan produk mana yang paling cocok.<\/p>\n<p>Melanie Schiller dari Vyld mengatakan spons produk menstruasi sering kali terbuat dari spons laut dan karenanya tidak vegan.<\/p>\n<p>Ia mengatakan, ketika orang memperhatikan produk menstruasi dari spons dan kemudian berbicara tentang alam, spons adalah makhluk hidup, spons adalah hewan, dan sangat penting bagi kami untuk memproduksi produk vegan.<\/p>\n<p>Produk alami lainnya adalah kapas organik. Tetapi di sini, kami juga memiliki kain berbasis tanah yang perlu diputihkan.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk memproduksi kapas dibutuhkan banyak air dan juga pestisida, tetapi kami dapat memproduksi tanpa pestisida,&#8221; jelasnya dilansir VOA Indonesia.<\/p>\n<p>Esti Utami, dari berbagai sumber<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;&nbsp;Hampir 50 persen populasi dunia adalah perempuan, yang sebagian besar di antaranya mengalami menstruasi dalam hidup mereka. Tampon dan pembalut lantas menjadi produk yang sangat dekat dengan perempuan saat mereka menstruasi yang&nbsp; datang hampir setiap bulan Namun, dalam perkembangannya produk tampon dan pembalut yang sangat membantu perempuan saat menstruasi ini disebut sebagai salah satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":17793,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4771,38,206,4772],"class_list":["post-17792","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-menstruasi","tag-perempuan","tag-ramah-lingkungan","tag-tampon"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17792","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17792"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17792\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17793"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}