{"id":17886,"date":"2026-07-30T02:09:06","date_gmt":"2026-07-30T02:09:06","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17886"},"modified":"2026-07-30T02:09:06","modified_gmt":"2026-07-30T02:09:06","slug":"membaca-peluang-indonesia-melegalkan-ganja-untuk-pengobatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17886","title":{"rendered":"Membaca Peluang Indonesia Melegalkan Ganja untuk Pengobatan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Manfaat medis ganja (Cannabis sativa L) telah diakui dan divalidasi secara luas.&nbsp;Beberapa penelitian ilmiah mengungkap, kandungan Cannabidiol (CBD) dalam tanaman ganja untuk pengobatan penderita epilepsi.<\/p>\n<p>Studi menunjukkan bahwa pasien dengan sindrom Dravet yang menerima CBD mengalami penurunan frekuensi kejang.<\/p>\n<p>Ganja juga telah digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia sepanjang sejarah.<\/p>\n<p>Di Aceh, selama periode 1764-1794, ganja telah dipraktikkan selama bertahun-tahun dan lazim digunakan sebagai salah satu obat herbal di kalangan masyarakat. Fakta ini tidak banyak dibicarakan karena dianggap masih tabu.<\/p>\n<p>Pada akhir abad ke-19, iklan ganja kerap kali muncul di beberapa surat kabar berbahasa Belanda di Hindia Belanda, yang sebagian besarnya mempromosikan rokok ganja sebagai obat untuk berbagai penyakit, mulai dari asma, batuk, penyakit tenggorokan, kesulitan bernapas, dan sulit tidur.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/244448912\/larangan-penggunaan-ganja-untuk-keperluan-medis-kembali-digugat\">Baca: Larangan penggunaan ganja medis kembali digugat ke MK<\/a><\/p>\n<p>Melihat manfaat ganja untuk pengobatan, banyak negara mulai mengubah aturan<br \/>Beberapa negara telah mengubah pendekatan mereka terhadap ganja medis.<\/p>\n<p>California, salah satu negara bagian di AS, telah memberlakukan aturan the Health and Safety Code (HSC) yang memberikan akses bagi individu yang mengalami penyakit serius untuk mendapatkan manfaat ganja medis dalam rangka pengobatan.<\/p>\n<p>Penggunaan ganja medis mensyaratkan adanya asesmen dan keputusan dari dokter yang menanganinya.<\/p>\n<p>Penggunaan ganja untuk tujuan medis juga diatur di Belanda. Sejak Januari 2001, Belanda telah mendirikan Office for Medicinale Cannabis\/OMC (Medical Marijuana Department) sebagai bagian dari Kementerian Kesehatan, Kesejahteraan, dan Olahraga.<\/p>\n<p>Lembaga ini&nbsp; bertugas menyediakan ganja untuk tujuan pengobatan dan melakukan penelitian ilmiah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24565014\/pro-kontra-penggunaan-ganja-untuk-pengobatan-ini-penjelasannya\">Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk pengobatan<\/a><\/p>\n<p>Saat ini, setidaknya ada 20 negara yang sudah meregulasi penggunaan ganja medis. Sementara, beberapa negara lainnya juga tengah melakukan penelitian untuk mengetahui manfaat ganja bagi kesehatan masyarakat.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Di sisi lain, perlu ditekankan juga bahwa aturan dalam distribusi dan peredaran ganja medis perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Thailand, misalnya, bukan contoh yang ideal dalam hal pelegalan ganja.<\/p>\n<p>Peraturan ganja di Thailand belum komprehensif, sehingga menciptakan wilayah hukum yang abu-abu dengan pembatasan terbatas pada penggunaan, penjualan, dan produksi produk ganja.<\/p>\n<p>Sejak Juni 2022, akibat kurangnya pembatasan dan kendala yang diterapkan pada ganja rekreasional, terdapat banyak sekali toko di Thailand yang menjual produk-produk yang mengandung ganja, mulai dari makanan dan minuman hingga kebersihan.<\/p>\n<p>Gulma dengan tingkat tetrahydrocannabinol (THC), kandungan lain ganja, hingga 35% dijual secara terbuka dan dimakan dalam ganja toko. Ini seratus kali lebih tinggi dari ambang batas THC legal.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/243456378\/who-sebanyak-80-persen-penduduk-dunia-gunakan-obat-herbal-tradisional\">Baca: 80 persen warga dunia masih tergantung pada obat herbal<\/a><\/p>\n<p>Lantas, bagaimana peluang perubahan aturan soal ganja medis di Indonesia?&nbsp;<\/p>\n<p>Setelah mempertimbangkan semua informasi dari konteks tataran global, kita dapat menyimpulkan bahwa ganja menawarkan berbagai manfaat medis, sehingga sebaiknya tidak serta merta dilarang sepenuhnya.<\/p>\n<p>Langkah pertama yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah melakukan penelitian mengenai penggunaan ganja medis di Indonesia.<\/p>\n<p>MK melalui putusannya pada 2020 pun telah mengamanatkan pemerintah untuk segera melakukan kajian mengenai hal ini. Hasil penelitian tersebut nantinya diharapkan bisa menjadi rujukan untuk merumuskan kebijakan.<\/p>\n<p>Artinya, masih terbuka kemungkinan bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan perubahan peraturan perundang-undangan yang mengarah pada pemberian akses ganja untuk keperluan medis kepada orang-orang yang membutuhkannya.<\/p>\n<p><strong>Artikel telah terbit di The Conversation,&nbsp;Penulis:&nbsp;Dio Ashar Wicaksana,&nbsp;PhD Student, Australian National University<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Manfaat medis ganja (Cannabis sativa L) telah diakui dan divalidasi secara luas.&nbsp;Beberapa penelitian ilmiah mengungkap, kandungan Cannabidiol (CBD) dalam tanaman ganja untuk pengobatan penderita epilepsi. Studi menunjukkan bahwa pasien dengan sindrom Dravet yang menerima CBD mengalami penurunan frekuensi kejang. Ganja juga telah digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia sepanjang sejarah. Di Aceh, selama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":17887,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4533,4796],"class_list":["post-17886","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-ganja","tag-medis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17886","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17886"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17886\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17886"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17886"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17886"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}