{"id":17927,"date":"2026-07-30T02:09:23","date_gmt":"2026-07-30T02:09:23","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17927"},"modified":"2026-07-30T02:09:23","modified_gmt":"2026-07-30T02:09:23","slug":"puisi-di-negeri-ketakutan-dibacakan-di-acara-kampus-menggugat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17927","title":{"rendered":"Puisi Di Negeri Ketakutan Dibacakan di Acara Kampus Menggugat"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Di sela&nbsp;acara Kampus Menggugat di Balairung UGM pada Selasa (12\/3\/2024), budayawan&nbsp;Achmad Munjid membacakan puisi karyanya yang diberi judul&nbsp;Di Negeri Ketakutan<\/p>\n<p>Puisi Di Negeri Ketakutan ini merupakan hasil refleksi Achmad Munjid yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM itu atas kondisi politik terkini di Indonesia.<\/p>\n<p>Munjid melihat hampir semua elemen negeri tidak menjadi diri mereka sendiri. Semua dicekam ketakutan menjadi diri mereka sendiri.&nbsp;<\/p>\n<p>Di akhir puisinya Munjid mengutip kata-kata dari Wiji Thukul yang melegenda di kalangan aktivis, Hanya satu kata, Lawan!.&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244434485\/gerakan-kampus-menggugat-serukan-penegakan-etika-dan-konstitusi-dimulai-dari-ugm\">Baca: Gerakan Kampus Menggugat di Yogyakarta<\/a><\/p>\n<p>Berikut puisi Di Negeri Ketakutan selengkapnya:&nbsp;<\/p>\n<p><em>Bagai lembaga penjara, di negeri ketakutan,&nbsp;Pendidikan dikelola sebagai industri ketakutan Dengan birokrasi serba curiga, penuh ketakutan Dikontrol pejabat yang dihantui ribuan ketakutan.<\/em><\/p>\n<p><em> Sekolah-sekolah mendikte buku teks ketakutan Murid-murid gemetar mengeja huruf ketakutan Pendidikan dibayangi rasa takut macam-macam Takut ketinggalan teknologi, ketinggalan informasi Takut tercemari ideologi, takut kehilangan jati diri Takut dianggap tak beriman, takut iman berlebihan <\/em><\/p>\n<p><em>Guru takut pada pertanyaan<\/em><br \/><em>Siswa takut belajar kenyataan<\/em><br \/><em>Orang-orang takut perdebatan, takut perbedaan<\/em><\/p>\n<p><em>Sekolah dan universitas sibuk indoktrinasi<\/em><br \/><em>Pikiran siswa dan mahasiswa dibuat seragam<\/em><br \/><em>Menurut sistem yang menolak dipertanyakan Lembaga pendidikan suntuk administrasi Terperangkap borang-borang serba dekorasi<\/em><br \/><em>Jargon dan slogan-slogan tanpa substansi<\/em><br \/><em>Alpa ajaran guru bangsa Ki Hajar Dewantara<\/em><br \/><em>Tak peduli tanggung jawab utama Pendidikan: Mengasuh watak, merdeka bernalar, terampil berkarya Agar setiap anak tumbuh wajar menjadi manusia Paham diri sendiri, bijaksana, mandiri di tengah dunia<\/em><\/p>\n<p><em>Serupa kisah Menara Babel, tragedi kutukan<\/em><br \/><em>Di negeri ketakutan, akibat pendidikan ketakutan Orang-orang tak lagi paham bahasa kebenaran, Politik dikelola buat menaklukkan kebenaran, Hukum dibuat untuk menyiasati kebenaran, Birokrasi adalah prosedur meringkus kebenaran Pengetahuan dipelajari demi mengakali. kebenaran Agama digunakan untuk menggelorakan ketakutan, Para pemuda disihir jinak jadi domba-domba<\/em><br \/><em>Buat mangsa kawanan licik serigala penguasa<\/em><\/p>\n<p><em>Di negeri ketakutan, semua takut<\/em><\/p>\n<p><em> Para hakim takut keadilan<\/em><br \/><em>Anggota parlemen takut konstituen, Akademisi takut berpikir merdeka <\/em><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><em>Wartawan takut menulis fakta Penyair takut pada kata-kata Seniman takut pada imajinasinya Para komika takut tertawa<\/em><br \/><em>Para rohaniawan takut berdoa<\/em><br \/><em>Para oligark takut orang lain tahu<\/em><br \/><em>Bagaimana harta mereka ditimbun<\/em><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/244434527\/kampus-memanggil-lahirkan-seruan-salemba-jokowi-dinilai-telah-mempolitisasi-hukum-demi-kekuasaan\">Baca: Seruan Salemba nilai Jokowi telah mempolitisasi hukum demi kekuasaan<\/a><\/p>\n<p><em>Mereka membeli peraturan dan kursi kekuasaan Juga pendongeng, tukang sulap dan juru gendam Para penguasa takut bagaimana setan kekuasaan Kelak datang menuntut tebusan di akhir jabatan Mereka pun bertahan dengan segala cara<\/em><br \/><em>Dengan biaya apa saja, termasuk hukum dan etika Lalu mewariskan ketakutan pada sanak keluarga<\/em><\/p>\n<p><em>Di negeri ketakutan<\/em><br \/><em>Penguasa amat takut mendengar suara<\/em><br \/><em>Ia kunci segenap pintu dan jendela<\/em><br \/><em>Ia tutup segala lubang, semua telinga<\/em><br \/><em>Tapi siapa tak dengar suara akal dan nurani? Seperti air dan udara ia selalu punya cara Menyelinap lewat celah apa saja<\/em><br \/><em>Telinga lahir bisa disumpal<\/em><br \/><em>Tapi telinga batin tetap mendengar<\/em><br \/><em>Tekanan justru mendorong arus kian besar<\/em><br \/><em>Bisik samar kini menjelma gemuruh menggelegar Dari mimbar-mimbar universitas, masjid, gereja Dari social media, dari lembaran berita<\/em><br \/><em>Dari obrolan kafe, dari pernyataan resmi lembaga Bangkit kesadaran, bahwa ketakutan hanya kalah Oleh gelombang lebih besar gulungan ketakutan Atau oleh suara akal, nurani dan kebersamaan<\/em><\/p>\n<p><em>Wahai, para mahasiswa universitas ketakutan<\/em><br \/><em>Para dosen yang takut terhambat naik jabatan Lulusan yang takut tak mendapat pekerjaan<\/em><br \/><em>Kelas bawah yang takut intimidasi kaum juragan Kelas menengah yang takut kehilangan kesempatan Umat yang takut dosa rekaan agamawan Agamawan yang takut jauh dari kekuasaan<\/em><\/p>\n<p><em>Gunakan akal, ikuti nurani kalian<\/em><br \/><em>Mari bangkit bersama, lihat cahaya<\/em><br \/><em>Mari berdiri, kita erat bergandengan tangan<\/em><\/p>\n<p><em>Hentikan kesewenangan mengangkangi kebenaran Hentikan arogansi anjing-anjing rakus penguasa Semena menginjaki konstitusi, moralitas bangsa Hentikan penculik akal sehat dan nurani<\/em><br \/><em>Jangan biarkan perampok keadilan bebas menari Di atas nestapa nasib buruh, nelayan dan petani Jangan biarkan kebohongan memutarbalik sejarah Kita junjung tinggi amanat para pendiri Republik Bebaskan warga dari kerangkeng ketakutan Biarkan para akademisi berpikir merdeka<\/em><br \/><em>Jangan biarkan generasi muda dikebiri<\/em><br \/><em>Singkirkan pengkhianat proklamasi dan reformasi Pekik demokrasi tak bisa dibungkam<\/em><br \/><em>Marsinah, Munir, para korban penculikan aktifis 98 Mereka telah gugur sebagai pahlawan<\/em><\/p>\n<p><em>Di negeri ketakutan<\/em><br \/><em>Nyawa penyair Wiji Thukul bisa direnggut paksa Tapi jiwa-jiwa merdeka abadi dalam puisi Semangat Wiji-Wiji Thukul tak bisa dihabisi Hanya ada satu kata: lawan!<\/em><br \/><em>Bagi para pelanggar konstitusi,&nbsp;<\/em><em>Hanya ada satu kata: lawan!<\/em><br \/><em>Bagi para pengkhianat janji reformasi,&nbsp;<\/em><em>Hanya ada satu kata: lawan!<\/em><br \/><em>Bagi para pengingkar cita-cita proklamasi Hanya ada satu kata: lawan!<\/em><\/p>\n<p>Bulaksumur, 12 Maret 2024<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Di sela&nbsp;acara Kampus Menggugat di Balairung UGM pada Selasa (12\/3\/2024), budayawan&nbsp;Achmad Munjid membacakan puisi karyanya yang diberi judul&nbsp;Di Negeri Ketakutan Puisi Di Negeri Ketakutan ini merupakan hasil refleksi Achmad Munjid yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM itu atas kondisi politik terkini di Indonesia. Munjid melihat hampir semua elemen negeri tidak menjadi diri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":17928,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4810,1728],"class_list":["post-17927","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-kampus-menggugat","tag-puisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17927","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17927"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17927\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17928"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17927"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17927"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17927"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}