{"id":17933,"date":"2026-07-30T02:09:24","date_gmt":"2026-07-30T02:09:24","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17933"},"modified":"2026-07-30T02:09:24","modified_gmt":"2026-07-30T02:09:24","slug":"suara-kampus-dan-masyarakat-madani-makin-kencang-kritik-pemerintahan-jokowi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=17933","title":{"rendered":"Suara Kampus dan Masyarakat Madani Makin Kencang Kritik Pemerintahan Jokowi"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp;Keprihatinan terhadap kondisi demokrasi dan hukum saat ini terus disuarakan kalangan sivitas akademika dan masyarakat sipil di Indonesia.<\/p>\n<p>Menyusul gerakan Kampus Menggugat yang dihadiri para guru besar sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, sejumlah guru besar dari berbagai kampus yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, pada Kamis (14\/3\/2024) bertemu untuk menyuarakan keprihatinan mereka.<\/p>\n<p>Guru besar dari Universitas Indonesia, Universitas Nasional Jakarta, Universitas Islan Nasional dan Institute Pertanian Bogor&nbsp; meminta pemerintah untuk menegakkan konstitusi, serta memulihkan hak warga negara dan peradaban berbangsa.<\/p>\n<p>Dalam petisi bertajuk Petisi Salemba itu pemerintahan Jokowi juga diingatkan agar tidak mengabaikan kedaulatan rakyat dan mementingkan kelompok tertentu.<\/p>\n<p>&ldquo;Mendesak penyelenggara negara untuk menyiapkan suksesi kekuasaan dengan cara bermartabat dan beretika demi kepentingan yang luas bangsa dan negara. Kedua, mendesak dilakukannya reformasi hukum khususnya atas produk perundang-undangan terkait politik dan pemilu dan berbagai peraturan perundang-undangan lain yang berimplikasi pada hayat hidup orang banyak dengan proses transparan dan akuntabel serta tidak lagi merumuskan hukum yang substansinya mengabaikan kedaulatan rakyat. Apalagi hanya mementingkan kepentingan segelintir orang,&rdquo; demikian nukilan Petisi Salemba yang dibacakan Ubedilah Badrun, akademisi dari UNJ.&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244434541\/di-sela-deklarasi-kampus-menggugat-zainal-arifin-mochtar-serukan-pengadilan-rakyat\">Baca: Zainal Arifin Mochtar usulkan pengadilan rakyat<\/a><\/p>\n<p>Di hari yang sama, sejumlah sivitas akamedmika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta melakukan aksi tabur bunga sebagai peringatan atas matinya demokrasi Republik Indonesia.<\/p>\n<p>Aksi tabur bunga bertempat di depan Gedung Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Sleman, DIY, dihadiri&nbsp;para dosen, guru besar, jajaran dekanat, alumni dan dipimpin langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid.<\/p>\n<p>Tabur bunga dilakukan di atas sebuah replika keranda berwarna hitam dan bertuliskan &#8216;demokrasi&#8217;.<\/p>\n<p>Setelahnya, keranda diangkut oleh perwakilan dosen dan mahasiswa. Aksi hari ini didahului pembacaan orasi oleh perwakilan kampus dan pernyataan sikap UII &#8216;Kematian Demokrasi di Indonesia&#8217;.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244430463\/belasan-tokoh-masyarakat-temui-megawati-meminta-memimpin-gerakan-perbaikan-demokrasi\">Baca: Belasan tokoh temui Megawati dorong perbaikan demokrasi yang dirusak Jokowi<\/a><\/p>\n<p>Sejak awal Februari lalu sejumlah kampus terus menyampaikan seruan keprihatinan terhadap jalannya konstestasi Pemilu 2024.<\/p>\n<p>Mereka menyoroti sikap Presiden Jokowi Widodo dan penyelenggara pemilu 2024 yang diduga meninggalkan jalan demokrasi dan masuk dalam konflik kepentingan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Masyarakat Antropologi Indonesia, Koalisi Perempuan Penyelamat Demokrasi dan HAM, serta Universitas Trisakti adalah tiga entitas terbaru yang menyampaikan keprihatinan dengan carut marut kondisi demokrasi, khususnya pelaksanaan Pemilu 2024 itu.<\/p>\n<p>Kritik yang tak kalah kencang juga disuarakan masyarakat sipil. Tercatat 48 lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah mengajukan somasi kepada Jokowi karena dinilai merusak demokrasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/244420751\/hari-perempuan-internasional-jokowi-layak-diadili-karena-telah-merusak-demokrasi\">Baca: Aktivis perempuan nilai Jokowi layak diadili karena telah merusak demokrasi<\/a><\/p>\n<p>Selain itu kelompok masyarakat yang menamakan diri Masyarakat Penegak Konstitusi melayangkan mosi tidak percaya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n<p>Mereka semua memberikan kritik terhadap pemerintahan Jokowi.&nbsp;Dalam petisi dan pernyataan sikapnya, para sivitas akademika dan masyarakat sipil menyinggung soal etika hingga kenegarawanan Jokowi sebagai kepala negara.&nbsp;<\/p>\n<p>Namun, hingga pemungutan suara dilakukan, sikap Jokowi tidak berubah. Istana juga tidak memberikan respon seperti yang diharapkan&nbsp;<\/p>\n<p>Koodinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana mengatakan dalam negara demokratis, kebebasan untuk menyampaikan pendapat, seruan, petisi maupun kritik harus dihormati.<\/p>\n<p>Menurutnya perbedaan pendapat, perspektif maupun pilihan politik adalah sesuatu yang sangat wajar dalam demokrasi. Namun, hingga hari ini sikap lancung terus dipertontonkan.&nbsp;<\/p>\n<p>Esti Utami, dari berbagai sumber&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Keprihatinan terhadap kondisi demokrasi dan hukum saat ini terus disuarakan kalangan sivitas akademika dan masyarakat sipil di Indonesia. Menyusul gerakan Kampus Menggugat yang dihadiri para guru besar sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, sejumlah guru besar dari berbagai kampus yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, pada Kamis (14\/3\/2024) bertemu untuk menyuarakan keprihatinan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":17934,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1029,2825,4812],"class_list":["post-17933","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-jokowi","tag-pemilu-2024","tag-sivitas-akademika"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17933","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17933"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17933\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17933"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17933"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17933"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}