{"id":18774,"date":"2026-07-30T02:14:10","date_gmt":"2026-07-30T02:14:10","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=18774"},"modified":"2026-07-30T02:14:10","modified_gmt":"2026-07-30T02:14:10","slug":"mempertanyakan-etika-bernegara-jokowi-di-pemilu-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=18774","title":{"rendered":"Mempertanyakan Etika Bernegara Jokowi di Pemilu 2024"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Sikap Presiden Joko &ldquo;Jokowi&rdquo; Widodo belakangan ini memicu kegaduhan publik, rentetan protes dan penolakan.<\/p>\n<p>Mulai dari indikasi keberpihakannya terhadap salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) dengan cara mengotak-atik aturan, Hingga pernyataannya bahwa seorang presiden boleh berpihak dan berpolitik.<\/p>\n<p>Oleh publik, pernyataan Jokowi yang terakhir ini kemudian ditafsirkan oleh publik sebagai presiden dan pejabat publik &ldquo;boleh berkampanye&rdquo;.<\/p>\n<p>Jokowi merujuk pada Pasal 299 dalam Undang-Undang (UU) No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu).<\/p>\n<p>Pasal itu menyatakan bahwa presiden dan wakil presiden mempunyai hak melaksanakan kampanye selama, seperti yang diatur dalam Pasal 281, tidak menggunakan fasilitas negara dan mengajukan cuti di luar tanggungan.<\/p>\n<p>Pernyataan ini lantas memicu polemik, membuat masyarakat mempertanyakan kapasitas Jokowi sebagai presiden dan kepala negara.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244149486\/ibu-ibu-korban-penculikan-berdoa-di-depan-istana-tolak-capres-pelanggar-ham\">Baca: Ibu-ibu korban penculikan berdoa di depan Istana<\/a><\/p>\n<p>Secara aturan, hal ini mungkin tidak ada yang bermasalah. Tetapi di luar itu semua, hal yang perlu kita nilai juga adalah soal etika dan moral.<\/p>\n<p>Dari rangkaian kontroversi yang ditampakkan Jokowi, dari mulai memasuki tahun pemilu, publik perlu secara kritis mempertanyakan kembali netralitas Jokowi dalam kapasitasnya sebagai presiden.<\/p>\n<p>Mempertanyakan etika<br \/>Persoalan muncul sejak dimulainya polemik mengenai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang batas usia capres-cawapres yang dianggap sebagai strategi untuk bisa meloloskan anak Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, untuk maju sebagai cawapres.<\/p>\n<p>Etika dan moral adalah dua aspek yang sama-sama melingkupi hukum. Artinya, hukum tidak bisa dipahami secara leksikal atau lateral apa adanya.<\/p>\n<p>Beberapa minggu lalu, Mahfud MD, kandidat cawapres yang juga mantan hakim MK, sempat mengeluarkan kutipan ikonik bahwa hukum harus diletakkan pada konteks sosial untuk menguak kebenaran sebenar-benarnya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/daerah\/244141136\/prihatin-dengan-kemunduran-demokrasi-di-ujung-pemerintahan-jokowi-aktivis-jogja-gelar-aksi-jalan-mundur\">Baca: Aksi jalan mundur tandai kemunduran demokrasi di era Jokowi<\/a><\/p>\n<p>Lalu, apakah pernyataan Jokowi tersebut benar?&nbsp;Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus meletakkan jabatan presiden sebagai jabatan publik. Jabatan publik bukannya tidak melibatkan aspek politik di dalamnya.<\/p>\n<p>Tentu ada aspek politik dalam setiap jabatan publik, termasuk presiden. Salah satunya terkait konstituennya.<\/p>\n<p>Pada saat pencapresan, konstituen seorang capres adalah masyarakat dalam cakupan nasional, bukan koalisi partai politik, dan bukan segelintir kalangan atau kelompok tertentu saja.<\/p>\n<p>Ini karena dalam sistem pemilu elektoral, seorang capres harus memperoleh suara lebih dari 50% untuk bisa memenangkan pilpres.<\/p>\n<p>Artinya, presiden dalam kapasitasnya sebagai presiden terpilih harusnya sepenuhnya sudah menjadi representasi rakyat secara keseluruhan, bukan beberapa kelompok kepentingan.<\/p>\n<p>Disinilah arti dari netralitas. Netral bukan berarti buta terhadap konflik kepentingan yang terjadi di masa pemilu.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244137740\/aksi-mahasiswa-tolak-pemilu-curang-dan-tuntut-pemakzulan-jokowi\">Baca: Aksi mahasiswa tolak pemakzulan Jokowi<\/a><\/p>\n<p>Justru dalam beberapa hal, sosok yang netral sangat paham akan benturan kepentingan dan mampu menjadi jawaban jalan tengah atas konflik kepentingan.<\/p>\n<p>Dalam hal ini, semestinya presiden mampu menjadi sosok pemimpin yang paham akan kepentingan-kepentingan yang ada, mengingat semua pasangan calon (paslon) adalah mantan mitra kerjanya. Sayangnya, presiden gagal memahami pemaknaan konstituen.<\/p>\n<p>Gagal paham Jokowi<br \/>Gagalnya pemahaman akan konstituen ini membuat situasi sosial politik kita saat ini porak poranda.<\/p>\n<p>Banyak pihak yang kemudian meradang atas pernyataan Jokowi, seolah-olah pemimpin yang seharusnya mengayomi seluruh pihak tanpa terkecuali malah berpaling kepada kepentingan tertentu.<\/p>\n<p>Garis konstituen Jokowi sebagai presiden pun seakan dilanggar oleh dirinya sendiri. Hal seperti ini pernah terjadi pada masa Orde Baru, era yang dikenal lekat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.<\/p>\n<p>Wajar jika publik memperdebatkan apa yang diucapkan oleh Jokowi terkait seorang presiden boleh berpolitik. Presiden dianggap lupa diri terhadap aspek moral dan etika dalam regulasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244083937\/sivitas-akademika-dari-berbagai-perguruan-tinggi-ramai-ramai-kritik-jokowi\">Baca: Sivitas akademika puluhan perguruan tinggi sudah ingatkan Jokowi<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Padahal, Jokowi dulunya dikenal sebagai sosok yang merakyat, peka sekali dengan keadaan sosial, humanis, dan menjadi antitesa dari oligarki.<\/p>\n<p>Masih lekat di ingatan publik bagaimana Jokowi saat masih menjadi Walikota Solo melakukan pendekatan intens kepada masyarakat ketika akan melakukan relokasi pedagang kaki lima di Solo, Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Ini membuat Jokowi dikenal sebagai sosok yang gemar blusukan dan mendatangi masyarakat, meskipun secara regulatif, blusukan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menggusur.<\/p>\n<p>Sosok merakyat dan blusukan Jokowi kini makin tergerus, dan justru memunculkan kekhawatiran akan kembalinya era otoriter yang melanggengkan oligarki.<\/p>\n<p>Kini nasi sudah menjadi bubur. Hal yang dapat dilakukan Jokowi, setidaknya di sisa masa jabatannya yang akan segera berakhir bulan Oktober nanti, adalah dengan membuktikan bahwa dirinya sebagai kepala negara tidak memanfaatkan fasilitas negara sebagai bagian dari kampanye.<\/p>\n<p>Publik memang akan sulit melupakan bagaimana Jokowi mengintervensi MK untuk membangun dinasti politiknya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/244041803\/pakar-jokowi-sudah-memenuhi-syarat-untuk-dimakzulkan\">Baca: Pakar bilang Jokowi sudah layak dimakzulkan<\/a><\/p>\n<p>Tapi setidaknya dengan pembuktian tersebut akan meyakinkan publik bahwa Jokowi dalam kapasitasnya sebagai Presiden tidak menyalahgunakan fasilitas negara lebih jauh lagi.<\/p>\n<p>Masih banyak masyarakat yang menganggap Jokowi sebagai pemimpin yang berkesan dan berpihak pada pembangunan-pembangunan nasional, terutama di daerah-daerah luar Jawa.<\/p>\n<p>Dia sebaiknya tidak menyia-nyiakan kepercayaan ini.<\/p>\n<p>Artikel ini telah terbit di The Conversation,&nbsp;Penulis:&nbsp;Satria Aji Imawan,&nbsp;Dosen Departemen Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; 7cloud.asia &#8211; Sikap Presiden Joko &ldquo;Jokowi&rdquo; Widodo belakangan ini memicu kegaduhan publik, rentetan protes dan penolakan. Mulai dari indikasi keberpihakannya terhadap salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) dengan cara mengotak-atik aturan, Hingga pernyataannya bahwa seorang presiden boleh berpihak dan berpolitik. Oleh publik, pernyataan Jokowi yang terakhir ini kemudian ditafsirkan oleh publik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":18775,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1029],"class_list":["post-18774","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-jokowi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18774"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18774\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}