{"id":18983,"date":"2026-07-30T02:15:29","date_gmt":"2026-07-30T02:15:29","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=18983"},"modified":"2026-07-30T02:15:29","modified_gmt":"2026-07-30T02:15:29","slug":"brin-cuaca-ekstrem-makin-sering-terjadi-sehingga-perlu-dibentuk-tim-khusus-untuk-menangani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=18983","title":{"rendered":"BRIN: Cuaca Ekstrem Makin Sering Terjadi sehingga Perlu Dibentuk Tim Khusus untuk Menangani"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400\"><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\"><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer-BRIN Erma Yulihastin menjelaskan bahwa cuaca ekstrem mengalami peningkatan signifikan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Cuaca ekstrem yang ditandai oleh kekeringan dan hujan ekstrem ini berdampak ke sejumlah wilayah di Sumatra bagian tengah dan selatan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Cuaca ekstrem dalam bentuk kekerigan ekstrem di masa mendatang juga berdampak pada wilayah Kalimantan bagian tengah, timur dan selatan (termasuk IKN).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Sedangkan wilayah Kalimantan bagian barat diproyeksikan mengalami hari-hari yang lebih basah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">&#8220;Untuk Pulau Jawa, sebagian besar wilayah terancam mengalami suhu maksimum yang lebih tinggi dan suhu minimum yang lebih rendah khususnya untuk pantura Jawa Timur,&#8221; sebut Erma seperti dilansir di laman resmi BRIN.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Selain kajian proyeksi perubahan iklim tersebut, lanjut Erma, kajian klimatologis terkini mengenai karakteristik hujan tahunan dan musiman di Indonesia juga diperlukan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243728301\/bmkg-waspadai-cuaca-ekstrem-di-puncak-musim-hujan\">Baca: BMKG minta masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem saat puncak musim hujan<\/a><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Hal ini sebagai bentuk validasi agar indikasi perubahan iklim yang terjadi secara aktual saat ini di Indonesia dapat dipetakan dengan lebih baik, khususnya dalam hal perubahan pada pola musim dan cuaca ekstrem.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Erma mengatakan bahwa kajian mengenai indikasi perubahan hujan diurnal menjadi kunci penting untuk memahami pola cuaca ekstrem yang terjadi di BMI selama dekade terkini sebagai dampak dari pemanasan global.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Pada dasarnya, pola hujan diurnal di BMI mengikuti pola umum hujan di darat yang dipengaruhi oleh angin darat-laut dan gelombang gravitasi sehingga fase kejadian hujan adalah sore hari di atas darat dan pagi hari di atas laut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Namun demikian, lanjut Erma, terdapat variasi fase hujan diurnal sehingga hujan maksimum di darat terjadi pada dinihari dengan frekuensi yang signifikan (~20%) untuk wilayah di utara Jawa bagian barat termasuk DKI Jakarta.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Hujan dinihari yang turun dengan intensitas tinggi atau ekstrem (P99th) tersebut bahkan telah dibuktikan merupakan penyebab banjir besar di Jakarta pada 2007, 2013, 2014, 2020.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243700260\/dampak-perubahan-iklim-kenali-3-jenis-cuaca-ekstrem-yang-merusak\">Baca: Kenali cuaca ekstrem yang bersifat merusak<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\" style=\"font-weight: 400\">Selanjutnya Erma memaparkan hasil kajian BRIN yang menunjukkan karakteristik utama hujan dinihari yang terjadi di utara Jawa bagian barat, yaitu:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">(1) hujan mengalami propagasi yang kuat dari laut menuju darat maupun sebaliknya,<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">(2) keacakan dalam hal fase terjadinya hujan pada rentang waktu dinihari (01.00&ndash;04.00 WIB),<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">(3) hujan dinihari memiliki keterkaitan yang kuat dengan hujan ekstrem yang memicu banjir besar di DKI Jakarta,&#8221; papar Erma.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Dengan adanya kajian ini, Erma Yulihastin mengusulkan agar Indonesia membentuk Komite Cuaca Ekstrem.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Menurutnya, sudah saatnya dibangun kolaborasi yang erat dari hulu ke hilir antara BRIN-BMKG-BNPB-BPBD-Pemda-Relawan dan Media dalam sebuah forum bersama atau komite sudah saatnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Langkah ini sebagai bagian dari langkah strategi nasional melakukan mitigasi dan antisipasi dampak cuaca ekstrem yang semakin meluas akibat perubahan iklim.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/241355029\/bnpb-minta-warga-antisipasi-potensi-bencana-hidrometrologi\">Baca: Perubahan iklim membuat bencana hidrometrologi makin sering terjadi<\/a><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">&#8220;Di luar negeri, kita dapat mencontoh negara-negara federal di Amerika Serikat yang memiliki Komite Khusus Cuaca Esktrem beranggotakan ilmuwan, prakirawan, politisi yang merupakan wakil pemerintah pusat dan pemerintah daerah setempat, serta menggandeng media, LSM dan relawan,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Erma menyebutkan bahwa komite cuaca ekstrem ini bisa dibuat dalam sebuah program strategis nasional yang dinamakan Bangsa Siaga Cuaca atau Weather-Ready Nation (WRN) yang sebenarnya juga diinisiasi oleh badan cuaca dunia yaitu World Meteorological Organization (WMO).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Tujuan utama WRN tak sekadar memperkuat hilirisasi informasi peringatan dini cuaca ekstrem semata, tapi juga melakukan edukasi secara intensif dan meluas kepada publik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Dijelaskan Erma, melalui komite tersebut juga dapat dirumuskan program-program penting untuk edukasi publik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Komite ini juga bisa membangun simpul-simpul relawan yang efektif dan berdaya jangkau luas dengan engagement yang signifikan, serta secara aktif bekerja terus menerus dalam membangun kesadaran publik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Ia menekankan, berbeda dengan jenis bencana alam lain seperti gempa dan tsunami, cuaca ekstrem adalah jenis bencana alam yang paling dinamis dan paling sering terjadi sehingga butuh terus-menerus untuk keep up to date.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24682782\/perubahan-iklim-akibatkan-musim-hujan-lebih-panjang-banjir-akan-lebih-sering-terjadi\">Baca: Perubahan iklim membuat kemarau semakin kering<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\" style=\"font-weight: 400\">&#8220;Bahkan informasi prediksi cuaca ekstrem pun harus terus-menerus diperbarui idealnya dua kali dalam sehari, mengikuti dinamika cuaca yang berubah-ubah setiap waktu,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Menurutnya, tantangan terbesar keilmuan meteorologi dan klimatologi adalah menghasilkan model prediksi hujan yang akurat untuk wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Oleh karena itu, semua bentuk studi dari hulu ke hilir yang berkaitan dengan meteorologi dan klimatologi sama-sama memiliki tujuan akhir agar dapat menghasilkan prediksi cuaca ekstrem yang lebih baik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">Dalam rangka mencapai target menjaga suhu bumi tidak melampaui 1,5 derajat Celcius pada 2050, ujarnya, di bagian hulu, Indonesia harus segera menguasai teknologi prediksi cuaca dan iklim.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400\">&#8220;Informasi-informasi prediksi cuaca di Indonesia sudah saatnya dihasilkan dari kemampuan periset-periset handal bangsa ini dalam menghasilkan data-data prediksi resolusi tinggi dan akurat untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana terkait cuaca ekstrem di Indonesia,&#8221; pungkas Erma.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer-BRIN Erma Yulihastin menjelaskan bahwa cuaca ekstrem mengalami peningkatan signifikan. Cuaca ekstrem yang ditandai oleh kekeringan dan hujan ekstrem ini berdampak ke sejumlah wilayah di Sumatra bagian tengah dan selatan. Cuaca ekstrem dalam bentuk kekerigan ekstrem di masa mendatang juga berdampak pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":18984,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[459,173],"class_list":["post-18983","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cuaca-ekstrem","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18983","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18983"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18983\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18984"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18983"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18983"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18983"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}