{"id":1901,"date":"2026-07-30T00:28:41","date_gmt":"2026-07-30T00:28:41","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1901"},"modified":"2026-07-30T00:28:41","modified_gmt":"2026-07-30T00:28:41","slug":"angka-deforestasi-meningkat-tajam-bayang-bayang-krisis-lingkungan-dan-bencana-alam-mengintai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1901","title":{"rendered":"Angka Deforestasi Meningkat Tajam, Bayang\u2011bayang Krisis Lingkungan dan Bencana Alam Mengintai"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong>&nbsp;&#8211;&nbsp;Indonesia kembali dihadapkan pada kenyataan pelik: hutan kita menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan deforestasi pada 2025 mencapai <a href=\"https:\/\/auriga.or.id\/press_release\/detail\/65\/status-of-deforestation-in-indonesia-2025\">433.751 hektare<\/a>&mdash;melonjak 66% dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi sinyal bahwa bentang alam Indonesia sedang mengalami tekanan besar.<\/p>\n<p>Semua hutan-hutan pulau besar tercatat menyusut. Kalimantan konsisten menjadi pulau dengan deforestasi terluas sejak 2013. Tanah Papua juga mengalami lonjakan deforestasi terbesar, yakni bertambah 60.337 hektare (348%) dari luas deforestasi 2024.<\/p>\n<p>Selain itu, data mencolok terlihat di tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025. Ketiga wilayah ini mengalami lonjakan deforestasi luar biasa: Aceh (426%), Sumatera Utara (281%), dan Sumatera Barat (1.034%).<\/p>\n<h2>Bukti deforestasi di Sumatra<\/h2>\n<p>Sebagai ahli ilmu tanah yang banyak meneliti di wilayah Sumatra, saya melihat lonjakan angka deforestasi di wilayah ini dari dua perspektif.<\/p>\n<p>Pertama, angka-angka ini berbanding lurus dengan rentetan bencana yang menghantam Sumatra pada akhir tahun lalu. Artinya, ada korelasi yang tak bisa kita nafikan, sebagai bukti langsung bencana dipicu deforestasi di daerah aliran sungai (DAS) bagian atas.<\/p>\n<p>Saat banjir Sumatra, kita melihat ada banyaknya gelondongan kayu yang ikut terbawa arus. Meski tidak semua kayu-kayu tersebut hasil penebangan hutan, data ini memperlihatkan hubungan antara deforestasi dan bencana yang sangat jelas.<\/p>\n<p>Kedua, lonjakan deforestasi di Sumatra ini penting dicermati. Sumatera bukan hanya kawasan hutan, tetapi juga wilayah dengan <a href=\"https:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/00103624.2023.2253843\">tanah vulkanis<\/a> dan aluvial yang sangat produktif bagi pertanian.<\/p>\n<p>Ketika <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0048969716321052\">hutan di wilayah ini hilang<\/a>, yang terancam bukan hanya keanekaragaman hayati, tetapi juga stabilitas sistem pangan kita. Produktivitas lahan pertanian bisa menurun dan dampaknya bisa sampai pada dompet dan meja makan kita.<\/p>\n<p>Sumatra termasuk wilayah <a href=\"https:\/\/www.bps.go.id\/id\/statistics-table\/2\/MTQ5OCMy\/luas-panen--produksi--dan-produktivitas-padi-menurut-provinsi.html\">sentra pangan<\/a> bersama Jawa dan Sulawesi, sehingga jika produksi pangan (misalnya padi, jagung, sayuran) di Sumatra terganggu, maka kelangkaan berisiko terjadi di pasar nasional.<\/p>\n<h2>Deforestasi tingkatkan ancaman El Ni&ntilde;o<\/h2>\n<p>Deforestasi yang terus meluas ini berisiko memperparah dampak <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/edited-volume\/abs\/pii\/B9780443190667000102\">cuaca ekstrem<\/a> seperti El Ni&ntilde;o.<\/p>\n<p>Beberapa model global memprediksi El Ni&ntilde;o akan mulai terjadi sejak April 2026. Berdasarkan analisis BRIN, El Ni&ntilde;o yang akan datang merupakan variasi kuat <a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/teknologi\/20260320070809-199-1339789\/waspada-kekeringan-brin-prediksi-godzilla-el-nino-datang-april-2026\">(Godzilla)<\/a> yang bisa menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan semakin kering.<\/p>\n<p>Kombinasi El Ni&ntilde;o dengan deforestasi bisa meningkatkan lagi <a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5478130\/el-nino-datang-tanah-mulai-kehilangan-air\">risiko kekeringan<\/a> dan gelombang panas ekstrem.<\/p>\n<p>Musababnya, hutan tropis bukan hanya <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0895981124004061\">penyimpan karbon<\/a>, tetapi juga <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S3050475924001143\">pengatur siklus air<\/a>. Melalui proses evapotranspirasi, hutan melepaskan uap air ke atmosfer, membantu pembentukan awan, dan menjaga kestabilan hujan lokal.<\/p>\n<p>Ketika <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S1470160X21002454\">hutan sudah terbuka<\/a> alias gundul, mekanisme ini terganggu. Udara menjadi lebih kering, pembentukan awan berkurang, dan curah hujan lokal menurun.<\/p>\n<p>Risiko kebakaran hutan dan lahan pun meningkat karena lahan jadi lebih mudah mengering, panas, dan rawan terbakar.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, ketika <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/monograph\/pii\/B9780323954907000096\">El Ni&ntilde;o<\/a> terjadi, wilayah yang telah mengalami <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/referencework\/pii\/B9780128225622003686\">deforestasi<\/a> akan merasakan dampak yang jauh lebih berat. Sistem bentang alam menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi iklim yang datang dari luar.<\/p>\n<p>Selain itu, risiko terbesar tidak selalu terjadi saat El Ni&ntilde;o berada di puncak. Justru fase paling berbahaya adalah ketika sistem iklim mulai berubah&mdash;menuju kondisi netral dan mengarah ke <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/edited-volume\/pii\/B9780443217319000065\">La Ni&ntilde;a<\/a>.<\/p>\n<p>Setelah mengalami periode kering yang lama, <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S2214581826002442\">tanah mengalami perubahan<\/a>, menjadi lebih rapuh. Kandungan bahan organik (seperti sisa daun atau humus) berkurang, sehingga tanah kehilangan &ldquo;lem alami&rdquo; yang menjaga strukturnya tetap kuat. Akibatnya, tanah bisa retak-retak dan bagian dalamnya (struktur kecilnya) ikut rusak.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/edited-volume\/pii\/B9780128226995000161\">Saat hujan kembali turun<\/a> dalam intensitas tinggi, tanah tidak lagi mampu menyerap air dengan baik seperti sebelumnya. Air yang seharusnya meresap berubah menjadi <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S1474706524001025\">limpasan cepat<\/a> di permukaan.<\/p>\n<p>Inilah awal dari bencana hidrometereologi yang perlu diwaspadai.<\/p>\n<p>Pada akhirnya kita terjebak dalam lingkaran setan: deforestasi + El Ni&ntilde;o &rarr; kekeringan &rarr; kebakaran hutan dan lahan &rarr; lebih banyak hutan gundul &rarr; bencana.<\/p>\n<h2>Membaca risiko bencana<\/h2>\n<p><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S1877705816318331\">Bencana hidrometeorologi<\/a> di Indonesia tidak lagi bisa dijelaskan dengan satu penyebab tunggal. Ia adalah hasil interaksi antara faktor global dan lokal, antara atmosfer, hutan dan tanah, antara kebijakan dan bentang alam.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, pendekatan kita dalam membaca risiko bencana juga harus berubah. Tidak cukup hanya memprediksi cuaca. Kita perlu melihat kondisi hutan dan memahami bagaimana seluruh sistem bekerja&mdash;mulai dari dalam tanah, air, vegetasi hingga atmosfer.<\/p>\n<p>Ketika <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/edited-volume\/pii\/B978044315847600015X\">hutan menyusut<\/a> dan iklim semakin tidak menentu, yang kita hadapi bukan sekadar banjir atau kemarau. Kita juga akan menanggung akibat dari sistem alam yang kehilangan kemampuannya menahan air, mengatur iklim, dan melindungi kehidupan.<!-- Di bawah ini adalah tag penghitung halaman The Conversation. Tolong JANGAN HAPUS. --> <!--img2--> <!-- Akhir kode. Jika Anda tidak melihat kode apa pun di atas, silakan dapatkan kode baru dari tab Lanjutan setelah Anda mengklik tombol publikasikan ulang. Penghitung halaman tidak mengumpulkan data pribadi apa pun. Info lebih lanjut: https:\/\/theconversation.com\/republishing-guidelines --><\/p>\n<hr \/>\n<p><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/profiles\/dian-fiantis-413313\">Dian Fiantis<\/a>, Professor of Soil Science, <em><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/institutions\/universitas-andalas-3318\">Universitas Andalas<\/a><\/em><\/p>\n<p>Artikel ini terbit pertama kali di <a href=\"https:\/\/theconversation.com\">The Conversation<\/a>. Baca <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/angka-deforestasi-meningkat-bayang-bayang-krisis-dan-bencana-mengintai-280040\">artikel sumber<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; 7cloud.asia&nbsp;&#8211;&nbsp;Indonesia kembali dihadapkan pada kenyataan pelik: hutan kita menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan deforestasi pada 2025 mencapai 433.751 hektare&mdash;melonjak 66% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi sinyal bahwa bentang alam Indonesia sedang mengalami tekanan besar. Semua hutan-hutan pulau besar tercatat menyusut. Kalimantan konsisten menjadi pulau dengan deforestasi terluas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":1902,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[262,17],"class_list":["post-1901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-deforestasi","tag-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1901"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1901\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1902"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}