{"id":19174,"date":"2026-07-30T02:16:25","date_gmt":"2026-07-30T02:16:25","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=19174"},"modified":"2026-07-30T02:16:25","modified_gmt":"2026-07-30T02:16:25","slug":"nasib-sektor-informal-pasca-pandemi-covid-19-apakah-masih-jadi-pahlawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=19174","title":{"rendered":"Nasib Sektor Informal Pasca Pandemi Covid-19, Apakah Masih Jadi Pahlawan?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp;Sektor informal merasakan dampak paling besar atas krisis yang dipicu pandemi Covid-19 pada 2020-2022.&nbsp;<\/p>\n<p>Sektor informal yang pekerjaan atau usahanya tidak terstruktur jam kerjanya, tanpa asuransi pekerjaan, dan dengan pendapatan yang tidak menentu ini sempat diprediksi akan hancur dihajar pandemi Covid-19.<\/p>\n<p>Di awal pandemi, Organisasi Pekerja Dunia (ILO) memproyeksi bahwa 1.6 juta pelaku ekonomi sektor&nbsp; informal akan terdampak pandemi dan kehilangan pendapatan lebih dari 60%.<\/p>\n<p>Ini tentu menjadi mimpi buruk bagi Indonesia yang ekosistem bisnisnya didominasi pengusaha kecil dan memiliki 83.34 juta (60,12%) total pekerja yang berada di sektor informal.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24573376\/ada-sejak-2015-banyak-warga-yang-belum-tahu-bpjs-ketenagakerjaan-untuk-pekerja-informal\">Baca: Kenali BPJS untuk pekerja informal<\/a><\/p>\n<p>Tulisan ini mengulas bagaimana dampak krisis ekonomi akibat pandemi terhadap sektor informal berbeda dari krisis-krisis sebelumnya, dan apa yang bisa dipelajari dari fenomena ini.<\/p>\n<p>Sektor ekonomi informal pernah menjadi pahlawan dalam menyerap tenaga kerja berlebih dampak gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) saat krisis finansial Asia 1997-1998 dan krisis finansial global 2008-2009.<\/p>\n<p>Sebab, pekerjaan di sektor ini cenderung mudah dimasuki oleh siapapun, tanpa memerlukan ijazah minimum, keahlian rumit, atau modal usaha besar.<\/p>\n<p>Catatannya, krisis-krisis sebelumnya muncul akibat disrupsi ekonomi makro. Meski aktivitas sektor formal seperti perusahaan-perusahaan besar hancur karena pukulan resesi global, aktivitas masyarakat tetap berjalan.<\/p>\n<p>Masyarakat tetap bersekolah, berbelanja, atau berwisata, sehingga, pelaku ekonomi informal masih mendapatkan hasil harian dari aktivitas-aktivitas tersebut.&nbsp;Namun, pandemi COVID-19 memberikan pengalaman berbeda.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24570119\/peringati-hari-buruh-para-pekerja-perempuan-tolak-sistem-no-work-no-pay\">Baca: Alasan buruh menolak sistem no work no pay<\/a><\/p>\n<p>Pada 2020, kami melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana dampak dan strategi penghidupan sektor informal pada fase awal gelombang pandemi.<\/p>\n<p>Penelitian ini dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan jumlah sektor informal mencapai lebih dari satu juta di tahun 2019.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Kami menggunakan kombinasi berbagai metode non-probability sampling, meliputi secara sukarela maupun sengaja, untuk mendapat responden sebanyak mungkin.<\/p>\n<p>Penelitian ini bukan untuk mencari generalisasi terhadap semua pekerja informal, melainkan sebagai asesmen cepat dampak COVID-19 pada pekerja informal.<\/p>\n<p>Responden yang berhasil terkumpul dalam satu bulan penelitian adalah 228 pekerja sektor informal di DIY.<\/p>\n<p>Riset kami menemukan bahwa pandemi berdampak pada jam kerja dan pendapatan mereka.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24569982\/hari-buruh-sedunia-perjuangan-panjang-kelas-pekerja-untuk-kerja-layak\">Baca: Hari Buruh perjuangan panjang para buruh untuk kerja layak<\/a><\/p>\n<p>Pekerja yang jam kerjanya stabil selama pandemi (biasanya merupakan pekerja mandiri\/self employment, misalnya penjaga warung atau petani) cenderung mengalami penurunan pendapatan kurang dari 50% dibandingkan sebelum pandemi.<\/p>\n<p>Sementara mereka yang jam kerjanya menurun, mayoritas mengalami kehilangan pendapatan lebih dari 50%, bahkan kehilangan pendapatan secara total.<\/p>\n<p>Pekerja informal yang menggantungkan pendapatan dari hasil transaksi harian akan melipatgandakan jam kerjanya untuk mendapatkan hasil yang menutupi kebutuhan harian, atau untuk mendapatkan pendapatan lebih selama lockdown.<\/p>\n<p>Contohnya, responden pedagang kaki lima yang biasa berkeliling sampai pukul 5 sore, harus menambah jam keliling sampai pukul 10 malam untuk mendapat hasil yang menutupi modal usaha.<\/p>\n<p>Namun, tetap ada pekerja informal yang pendapatannya menurun meski mengalami kenaikan jam kerja. Dalam hal ini, kenaikan jam kerja tidak mengindikasikan hal positif.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/243309714\/di-tengah-tuntutan-kenaikan-ump-ganjar-pranowo-punya-formula-beda-untuk-sejahterakan-buruh\">Baca: Formula win-win solution untuk menghitung upah buruh<\/a><\/p>\n<p>Strategi bertahan hidup: kontrol pengeluaran dan bantuan sosial<br \/>Tekanan yang berat pada pendapatan rumah tangga mendorong 76,6% (175 responden) memfokuskan pengeluaran pada kebutuhan utama, khususnya makanan.<\/p>\n<p>Ini merupakan hal yang wajar karena mereka berusaha menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran.<\/p>\n<p>Penurunan pendapatan rumah tangga ini menjadi tantangan tersendiri yang beririsan dengan krisis kesehatan.<\/p>\n<p>Pengeluaran yang ditujukan untuk upaya preventif mencegah infeksi bukan menjadi prioritas dibanding membeli makan untuk seluruh anggota keluarga.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Bantuan sosial tidak kalah penting dalam menyelamatkan pekerja informal. Bantuan yang berasal dari pemerintah, rumah ibadah, atau dermawan menjadi pendapatan tambahan bagi mereka.<\/p>\n<p>Namun, tidak semua pekerja informal bisa mendapat bantuan pemerintah akibat permasalahan pendataan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosok\/24574957\/marsinah-simbol-abadi-perjuangan-buruh-perempuan-indonesia\">Baca: Marsinah, potret perjuangan buruh perempuan<\/a><\/p>\n<p>Misalnya, para pekerja migran seringkali tidak mendapat bantuan karena mekanisme pemberian bantuan didasarkan pada data kependudukan tempat mereka tinggal.<\/p>\n<p>Selain itu, sulit untuk mendata sektor informal yang sifatnya sporadis dan tidak teregistrasi. Belum lagi persoalan penyaluran bantuan yang sarat korupsi.<\/p>\n<p>Beruntung, adanya paguyuban pekerja informal membantu sesama pekerja informal untuk bertahan hidup selama pandemi, misalnya Paguyuban Pedagang Angkringan &lsquo;Surjan&rsquo; dan UPT Kawasan Malioboro.<\/p>\n<p>Peran dermawan serta paguyuban menjadi krusial untuk mengisi absennya bantuan pemerintah. Sikap solidaritas dan perasaan senasib menyebabkan masyarakat tergerak untuk saling membantu dalam bentuk bahan pokok ataupun uang.<\/p>\n<p>Namun, bantuan dari unsur komunitas ini tidak dapat berjalan selamanya.<\/p>\n<p>Keterbatasan dana serta sama-sama mengalami krisis menyebabkan kegiatan saling membantu tidak dapat dilakukan terus menerus.<\/p>\n<p>Modal sosial yang besar pada akhirnya tidak dapat menggantikan peran pemerintah dengan sumberdaya finansial yang lebih besar.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/243656206\/bagaimana-umkm-bisa-didorong-untuk-terlibat-dalam-menahan-laju-perubahan-iklim\">Baca: Peran UMKM dalam menahan laju perubahan iklim<\/a><\/p>\n<p>Sektor informal memiliki keunggulan sendiri dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang mudah dan fleksibel terhadap kondisi ekonomi makro. Ia mampu bertahan meskipun resesi global memukul perusahaan-perusahaan besar.<\/p>\n<p>Namun, pengalaman pandemi menunjukkan hal yang berbeda karena masyarakat dihajar oleh krisis ekonomi dan kerentanan keselamatan diri akibat virus.<\/p>\n<p>Hal ini diperparah dengan tidak adanya asuransi yang melindungi mereka dari kehilangan pendapatan. Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) baru diperkenalkan pada awal 2022, dan sistem pelaksanaannya pun masih bias pekerja formal.<\/p>\n<p>Kematian sektor informal akan berdampak besar bagi peningkatan kemiskinan, pengangguran, dan gangguan rantai pasok di level masyarakat menengah ke bawah.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Oleh karenanya, penting bagi pelaku ekonomi informal dan pemerintah untuk belajar dari pandemi Covid-19.<\/p>\n<p>Pekerja sektor informal perlu beradaptasi dalam menjalankan kegiatan ekonominya. Sektor informal tidak dapat terus bertahan hidup secara pasif dengan bergantung pada bantuan pihak luar.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/243648738\/ini-manfaat-yang-bisa-dipetik-indonesia-jika-ada-komitmen-untuk-transisi-ke-ekonomi-hijau-di-pemilu-2024\">Baca: Mengapa transisi ke ekonomi hijau penting<\/a><\/p>\n<p>Kreativitas dalam menjalankan usaha dan bekerja adalah strategi kunci untuk bertahan di tengah krisis.<\/p>\n<p>Digitalisasi usaha menjadi hal mendasar sebagai upaya antisipasi apabila terjadi penutupan aktivitas sosial saat pandemi.<\/p>\n<p>Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pengusaha kecil yang memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produknya cenderung lebih stabil dan mampu melewati badai krisis kesehatan dan ekonomi.<\/p>\n<p>Sementara itu, bagi pemerintah, penting untuk melakukan manajemen data pekerja informal secara akurat untuk memastikan perlindungan sosial dapat disalurkan dengan tepat.<\/p>\n<p>Komunitas pekerja informal dapat berperan sebagai perpanjangan tangan untuk menjangkau pekerja informal.<\/p>\n<p>Selain itu, pendataan melalui program sosial untuk masyarakat miskin, misalnya Program Keluarga Harapan (PKH), dapat menjadi proksi atau alat pemerintah untuk mendata pekerja informal yang membutuhkan perlindungan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24701669\/mendulang-cuan-dari-model-ekonomi-sirkular\">Baca: Mendulang cuan dari ekonomi sirkular<\/a><\/p>\n<p>Sektor informal tidak dipungkiri masih menjadi tulang punggung penghidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, pemerintah dan pekerja informal sendiri wajib bersiap diri untuk memastikan sektor ini tidak mati diterpa badai krisis di kemudian hari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Sektor informal merasakan dampak paling besar atas krisis yang dipicu pandemi Covid-19 pada 2020-2022.&nbsp; Sektor informal yang pekerjaan atau usahanya tidak terstruktur jam kerjanya, tanpa asuransi pekerjaan, dan dengan pendapatan yang tidak menentu ini sempat diprediksi akan hancur dihajar pandemi Covid-19. Di awal pandemi, Organisasi Pekerja Dunia (ILO) memproyeksi bahwa 1.6 juta pelaku ekonomi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":19175,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2471],"class_list":["post-19174","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-sektor-informal"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=19174"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19174\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19175"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=19174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=19174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=19174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}