{"id":20057,"date":"2026-07-30T02:22:38","date_gmt":"2026-07-30T02:22:38","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20057"},"modified":"2026-07-30T02:22:38","modified_gmt":"2026-07-30T02:22:38","slug":"kekeringan-akibat-el-nino-picu-kematian-gajah-liar-di-zimbabwe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20057","title":{"rendered":"Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Puluhan gajah ditemukan mati kehausan di Taman Nasional Hwange yang populer di Zimbabwe ketika negara itu dilanda kekeringan akibat fenomena El Nino dan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Insiden itu membuat khawatir para pegiat konservasi lingkungan. Jumlah gajah yang mati dikhawatirkan akan terus bertambah karena kekeringan yang masih berlangsung<\/p>\n<p>Kematian massal gajah liar ini tak lepas dari fenomena cuaca El Nino \u200b\u200b\u200b\u200b\u200b\u200byang \u200bmengakibatkan cadangan air menipis dan lubang air mengering.<\/p>\n<p>El Nino memicu cuaca yang lebih panas dan lebih kering sepanjang tahun, kata ahli cuaca setempat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243214687\/kemarau-panjang-akibat-el-nino-ancam-ruang-hidup-satwa-liar\">Baca: Kemarau panjang akibat El Nino ancam kehidupan satwa liar<\/a><\/p>\n<p>Antaranews.com mengutip reuters menyebut, fenomena cuaca global musiman itu menjadi sorotan pada forum COP 28 tentang aksi penanganan iklim di Dubai.<\/p>\n<p>Hwange tidak dilintasi aliran sungai yang besar dan hewan-hewan bergantung pada sumur bor bertenaga surya, kata pejabat Otoritas Taman dan Satwa Liar Zimbabwe (Zimparks).<\/p>\n<p>&#8220;Kami mengandalkan lubang air buatan karena air permukaan menyusut. Karena gajah sangat bergantung pada air, kami terus mencatat kematian akibat kekeringan ini,&#8221; kata ahli ekologi Taman Nasional Hwange, Daphine Madhlamoto,&nbsp;<\/p>\n<p>Populasi gajah di Hwange mencapai 45.000 ekor dan gajah-gajah dewasa membutuhkan 200 liter air per hari.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242879372\/el-nino-percepat-laju-lelehnya-salju-abadi-gunung-puncak-jaya\">Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di Puncak Jaya<\/a><\/p>\n<p>Namun, karena sumber air semakin berkurang, pompa air bertenaga surya di 104 sumur bor tidak sanggup menyediakan air yang cukup.<\/p>\n<p>Reuters melihat puluhan bangkai gajah bergelimpangan di dekat lubang air. Pejabat taman nasional itu mengatakan ada gajah yang mati di semak-semak sehingga menjadi santapan singa dan burung pemakan bangkai.<\/p>\n<p>&#8220;Taman ini telah menyaksikan dampak dari perubahan iklim. Curah hujan semakin berkurang,&#8221; kata Madhlamoto.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Musim hujan di Zimbabwe berlangsung dari November hingga Maret, tetapi tahun ini hampir tidak ada hujan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24681919\/hari-spesies-terancam-punah-kapan-dan-mengapa-diperingati\">Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Sedunia<\/a><\/p>\n<p>Kemarau di sana diperkirakan akan berlanjut hingga 2024, menurut badan meteorologi setempat.<\/p>\n<p>Zimparks mengatakan para hewan terpaksa berjalan jauh untuk mencari air dan makanan, dan beberapa kawanan menyeberang ke Botswana.<\/p>\n<p>Kelompok-kelompok konservasi berusaha menyediakan tambahan air dengan mengeruk lubang dan memompa lebih banyak air melalui sumur bertenaga surya.<\/p>\n<p>Zimbabwe menjadi habitat bagi hampir 100.000 ekor gajah, tetapi kapasitas air di negara itu hanya cukup memberi minum sekitar 50.000 gajah sehingga taman-taman nasional di sana kewalahan.<\/p>\n<p>Sumber: Antaranewscom<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Puluhan gajah ditemukan mati kehausan di Taman Nasional Hwange yang populer di Zimbabwe ketika negara itu dilanda kekeringan akibat fenomena El Nino dan perubahan iklim. Insiden itu membuat khawatir para pegiat konservasi lingkungan. Jumlah gajah yang mati dikhawatirkan akan terus bertambah karena kekeringan yang masih berlangsung Kematian massal gajah liar ini tak lepas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":20058,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[68,4246,210],"class_list":["post-20057","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-el-nino","tag-gajah","tag-kekeringan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20057","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20057"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20057\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20058"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20057"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20057"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20057"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}