{"id":20112,"date":"2026-07-30T02:23:00","date_gmt":"2026-07-30T02:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20112"},"modified":"2026-07-30T02:23:00","modified_gmt":"2026-07-30T02:23:00","slug":"pertanian-indonesia-pengguna-pestisida-terbesar-di-dunia-apa-dampaknya-pada-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20112","title":{"rendered":"Pertanian Indonesia Pengguna Pestisida Terbesar di Dunia, Apa Dampaknya pada Lingkungan?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp; Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara pertanian pengguna pestisida terbesar di dunia pada 2021, setelah Brasil, dan Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Sebagai negara pertanian yang besar, penggunaan pestisida Indonesia tercatat mencapai 283 kiloton pada 2021. Lantas seperti apa dampaknya pada lingkungan?<\/p>\n<p>Pestisida digunakan untuk membasmi atau mengendalikan hama seperti gulma, ulat, jamur, dan bakteri pada tanaman pertanian dan perkebunan.<\/p>\n<p>Penggunaan pestisida dalam jumlah besar ini berisiko menjadi cemaran bahan kimia di lingkungan yang dapat berujung pada paparan residu bahan beracun pada produk makan.<\/p>\n<p>Riset menunjukkan cemaran pestisida telah terdeteksi di beberapa daerah pertanian di Indonesia seperti di Indramayu dan Brebes.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24684919\/brin-kembangkan-pestisida-ramah-lingkungan-berbasis-mikroorganisma\">Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Riset juga menunjukkan pestisida jenis organoklorin mencemari perairan laut dan kerang hijau Perna viridis di pesisir Tambak Lorok Semarang.<\/p>\n<p>Riset sejenis sangat penting karena jumlah studi topik pencemaran oleh pestisida masih sedikit di Indonesia.<\/p>\n<p>Dalam studi-studi tersebut, level cemaran dianggap bisa diabaikan dampaknya pada manusia, tapi berpotensi menimbulkan dampak pada ekosistem perairan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Jika tidak diawasi dan dikontrol dengan baik, penggunaan pestisida dapat berisiko menganggu ekosistem air dan pertanian.<\/p>\n<p>Bukan tidak mungkin akan muncul gangguan kesehatan yang disebabkan oleh akumulasi cemaran pestisida dalam bahan pangan atau air.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243225547\/masalah-lingkungan-terbesar-2023-krisis-pangan-dan-air-akibat-pengolahan-tanah\">Baca: Pengolahan tanah sembarangan berdampak serius pada lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Risiko cemaran pestisida<br \/>Memperhatikan risiko ini, Indonesia seharusnya mempunyai urgensi untuk mengurangi cemaran pestisida dan efeknya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Sebagian besar pestisida organik sintetis yang umum digunakan petani, seperti organoklorin, sangat stabil di lingkungan dan sulit terurai.<\/p>\n<p>Hal ini dapat menyebabkan terakumulasi dan berpotensi menimbulkan gangguan metabolisme bagi makhluk hidup ke depan.<\/p>\n<p>Bagi hewan, paparan pestisida bisa berdampak, antara lain, timbulnya gangguan ginjal dan hati, juga potensi obesitas.<\/p>\n<p>Sementara, pada manusia, walaupun jumlah studi masih terbatas, beberapa studi menunjukkan paparan pestisida meningkatkan risiko hipertensi, resistensi insulin, dan diabetes.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24664372\/minyak-sawit-antara-alternatif-ketahanan-pangan-dan-ancaman-bagi-lingkungan\">Baca: Sawit, antara ketahanan pangan dan dampaknya pada lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Indonesia juga perlu menguji potensi efek pestisida pada ekosistem dan organisme yang hidup di dalamnya.<\/p>\n<p>Kita membutuhkan sistem dan juga riset lebih banyak untuk mendeteksi efek cemaran pestisida di lingkungan, khususnya di ekosistem pertanian dan air tawar.<\/p>\n<p>Uji toksisitas dengan hewan model merupakan salah satu metode mendasar untuk menganalisis efek pestisida pada makhluk hidup.<\/p>\n<p>Akan tetapi, organisme yang berbeda akan memberikan respons dan ambang batas yang berbeda.<\/p>\n<p>Misalnya, penggunaan herbisida atrazine yang utamanya ditujukan untuk memberantas gulma tanaman, dapat memberikan dampak seperti gangguan endokrin yang mengganggu regulasi hormon pada hewan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243077146\/perkebunan-monokultur-penyumbang-terbesar-deforestasi-atau-penebangan-hutan-global\">Baca: Dampak pertanian monokultur pada lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Contoh yang cukup terkenal adalah atrazine ditemukan memberi efek feminisasi atau timbulnya ciri-ciri khusus kelamin betina.<\/p>\n<p>Seperti turunnya level testosterone dan spermatogenesis pada katak Afrika jantan (Xenopus laevis).<\/p>\n<p>Penurunan ini berdampak pada menurunnya perilaku kawin dan berkurangnya kesuburan.<\/p>\n<p>Uji toksisitas biasanya dilakukan dalam konsentrasi yang cukup tinggi dan sebenarnya cukup jarang ditemukan di lingkungan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Uji dengan konsentrasi tinggi dapat menunjukkan efek yang terlihat jelas, seperti pengurangan populasi hewan model (baik karena kematian generasi pertama atau generasi selanjutnya).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243077172\/indonesia-dan-brasil-jadi-penyumbang-terbesar-deforestasi-di-hutan-tropis\">Baca: Negara penyumbang deforestasi terbesar<\/a><\/p>\n<p>Sementara jika pencemaran terjadi dalam konsentrasi rendah, yang muncul adalah efek sublethal, atau efek yang tidak menimbulkan kematian.<\/p>\n<p>Beberapa contoh efek sublethal adalah berkurangnya kemampuan reproduksi, berubahnya tingkah laku (misalnya kemampuan berenang pada ikan), dan juga berubahnya regulasi hormonal pada hewan model.<\/p>\n<p>Efek-efek seperti ini dapat timbul setelah akumulasi yang cukup lama atau banyak, sehingga kita perlu mendeteksi efek ini dengan level yang lebih rendah, yaitu level molekular. Hal ini akan diuraikan dalam tulisan selanjutnya<\/p>\n<p><strong>Artikel ini ditulis Pijar Religia,&nbsp;Specially Appointed Researcher, Osaka Universitytelah dan telah terbit di The Conversation.<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp; Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara pertanian pengguna pestisida terbesar di dunia pada 2021, setelah Brasil, dan Amerika Serikat. Sebagai negara pertanian yang besar, penggunaan pestisida Indonesia tercatat mencapai 283 kiloton pada 2021. Lantas seperti apa dampaknya pada lingkungan? Pestisida digunakan untuk membasmi atau mengendalikan hama seperti gulma, ulat, jamur, dan bakteri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":20113,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17,66,935],"class_list":["post-20112","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lingkungan","tag-pertanian","tag-pestisida"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20112","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20112"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20112\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20113"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20112"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20112"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20112"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}