{"id":20114,"date":"2026-07-30T02:23:01","date_gmt":"2026-07-30T02:23:01","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20114"},"modified":"2026-07-30T02:23:01","modified_gmt":"2026-07-30T02:23:01","slug":"pengaruh-penggunaan-pestisida-pada-genetik-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20114","title":{"rendered":"Pengaruh Penggunaan Pestisida pada Genetik Manusia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Dalam tulisan sebelumnya disebutkan Indonesia merupakan pengguna pestisida terbesar ketiga di dunia.<\/p>\n<p>Penggunaan pestisida Indonesia beradadi bawah Brasil dan Amerika Serikat. Untuk mengetahui dampak paparan pestisida yang mengandung bahan kimia pada genetika perlu dilakukan uji paparan kimia ke gen<\/p>\n<p>Salah satu cabang ilmu untuk mempelajari paparan bahan kimia pada makhluk hidup adalah ecotoxicogenomics yang pertama kali diperkenalkan pada 2004.<\/p>\n<p>Ilmu ini menggabungkan konsep ecotoxicology and toxicogenomics.<\/p>\n<p>Ecotoxicology mempelajari pengaruh bahan kimia pada makhluk hidup dari tingkat organisme hingga ekosistem. Sementara toxicogenomics mempelajari ekspresi gen pada kondisi paparan bahan kimia beracun atau berbahaya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243442269\/pertanian-indonesia-pengguna-pestisida-terbesar-di-dunia-apa-dampaknya-pada-lingkungan\">Baca:Penggunaan pestisida di Indonesia<\/a><\/p>\n<p>Jadi ecotoxicogenomics mempelajari bagaimana paparan bahan kimia akan mempengaruhi profil ekspresi gen dan protein pada organisme (khususnya organisme non-target, yaitu organisme yang bukan jadi sasaran), terutama yang berkaitan dengan penilaian risiko lingkungan.<\/p>\n<p>Aplikasi ilmu ini membutuhkan beberapa hal seperti ketersediaan info genom dan protein dari organisme yang akan dipelajari.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, kita ingin melihat bagaimana efek cemaran herbisida jenis atrazine pada ekspresi gen, maka kita dapat memberi paparan bahan kimia pada satu jenis organisme.<\/p>\n<p>Setelah itu mengisolasi messenger RNA (mRNA) dari organisme terpapar, dan mengurutkan RNA atau RNA sequencing (RNA-seq).<\/p>\n<p>Hasil dari RNA-seq merupakan potongan-potongan bacaan sequence dengan jumlah data yang sangat besar.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24684919\/brin-kembangkan-pestisida-ramah-lingkungan-berbasis-mikroorganisma\">Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Potongan bacaan sequence ini lalu kita sejajarkan pada template informasi genom yang telah tersedia, sehingga kita bisa mengetahui gen apa yang terekspresi lebih banyak.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Kita memetakan, misalnya, apa fungsi umum dari protein yang merupakan produk dari gen tersebut.<\/p>\n<p>Selanjutnya, akan didapatkan gambaran dampak dari cemaran bahan kimia tersebut pada skala molekuler yang berisiko menimbulkan dampak pada skala yang lebih besar yaitu organisme.<\/p>\n<p>Misalnya, uji paparan pestisida jenis organoklorin pada ikan zebra (Danio rerio) menunjukkan perubahan profil ekspresi gen dan protein di hipotalamus otak yang berkaitan dengan penyakit parkinson.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/243299274\/pupuk-organik-biosaka-cara-ramah-lingkungan-petani-klaten-tingkatkan-hasil-panen\">Baca: Biosaka, pupuk organik yang dikembangkan petnai di Klaten<\/a><\/p>\n<p>Perlu lebih banyak riset dan regulasi yang ketat<br \/>Untuk menerapkan studi\u3000ecotoxicogenomics kita membutuhkan informasi genom dan protein yang lengkap.<\/p>\n<p>Selain itu, kita juga diperlukan sampel dan bacaan sequence yang berkualitas tinggi untuk mengurangi kesalahan dan bias.<\/p>\n<p>Di Indonesia, bidang ini belum banyak diaplikasikan. Akan tetapi, informasi genom dan protein hewan model tersedia secara luas di dunia maya dan sebagian besar dapat diakses dengan mudah dan gratis.<\/p>\n<p>Layanan aplikasi biologi molekuler seperti RNA-seq pun sudah bisa diakses dan dilakukan di tanah air, sehingga Indonesia pun mulai dapat menerapkan bidang ilmu ecotoxicogenomics ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/241636329\/inovasi-biotron-bantu-petani-atasi-kelangkaan-pupuk-kimia\">Baca: Inovasi biotron untuk atasi kelangkaan pupuk kimia<\/a><\/p>\n<p>Bidang ini pun masih terus berkembang di dunia. Laboratorium yang mempelajari bidang ini pun semakin berkembang.<\/p>\n<p>Untuk mencegah penggunaan pestisida berlebihan, kita dapat melakukan pendidikan dan penyuluhan kepada stakeholder pertanian, para petani, dan juga konsumen bahan pertanian.<\/p>\n<p>Sebuah riset di Pulau Jawa dan Sumatra menunjukkan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggunakan pestisida secara aman.<\/p>\n<p>Selain riset, pemerintah seharusnya mulai memperbaiki sistem pemakaian pestisida dengan memperbaiki regulasi dan memperketat standar pendaftaran pestisida komersial.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini ditulis Pijar Religia,&nbsp;Specially Appointed Researcher, Osaka Universitytelah dan telah terbit di The Conversation.<\/strong><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Dalam tulisan sebelumnya disebutkan Indonesia merupakan pengguna pestisida terbesar ketiga di dunia. Penggunaan pestisida Indonesia beradadi bawah Brasil dan Amerika Serikat. Untuk mengetahui dampak paparan pestisida yang mengandung bahan kimia pada genetika perlu dilakukan uji paparan kimia ke gen Salah satu cabang ilmu untuk mempelajari paparan bahan kimia pada makhluk hidup adalah ecotoxicogenomics [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":20115,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5186,935],"class_list":["post-20114","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bahan-kimia","tag-pestisida"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20114"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20114\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20115"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}