{"id":20300,"date":"2026-07-30T02:24:22","date_gmt":"2026-07-30T02:24:22","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20300"},"modified":"2026-07-30T02:24:22","modified_gmt":"2026-07-30T02:24:22","slug":"pemanasan-suhu-bumi-cetak-rekor-pada-november-2023-ini-penyebabnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20300","title":{"rendered":"Pemanasan Suhu Bumi Cetak Rekor pada November 2023, Ini Penyebabnya"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pada bulan Oktober dan November 2023, pemanasan suhu Bumi tercatat cukup tinggi yakni berada di angka 1,5&deg;C dan&nbsp;sempat menyentuh 2&deg;C.<\/p>\n<p>Melihat angka pemanasan suhu Bumi&nbsp;yang cukup fantastis ini, wajar jika banyak orang bertanya-tanya&nbsp; bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan planet ini.<\/p>\n<p>Dalam tulisan di The Conversation, lonjakan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/tag\/pemanasan\">pemanasan<\/a>&nbsp;suhu bumi yang tiba-tiba pada tahun 2023 terjadi karena kombinasi beberapa faktor.<\/p>\n<p>Perubahan iklim, El Nino kuat,&nbsp;kegagalan pembentukan kembali es laut setelah musim dingin, berkurangnya polusi aerosol, dan peningkatan aktivitas matahari disebut sebagai pemicu fenomena lonjakan suhu bumi ini.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243328148\/pemanasan-bumi-mencapai-2c-apa-yang-sedang-terjadi-dengan-lingkungan-kita\">Baca: Pemanasan suhu bumi capai 2 derajat<\/a><\/p>\n<p>Dan berikut penjelasan, bagaimana faktor-faktor tersebut memicu pemanasan suhu Bumi.<\/p>\n<p><strong>1. Perubahan iklim<\/strong><\/p>\n<p>Sejauh ini, perubahan iklim adalah faktor terbesar dalam pemanasan suhu bumi. Banyak dari kita yang tidak menyadari betapa barunya periode emisi intens yang kita alami.<\/p>\n<p>Jika kamu lahir pada 1983, 50% dari seluruh emisi umat manusia telah dibuang ke atmosfer sejak kelahiranmu.<\/p>\n<p>Emisi manusia dan aktivitas lainnya sejauh ini berkontribusi memanaskan suhu Bumi sebesar 1,2&deg;C.<\/p>\n<p>Gas rumah kaca memerangkap panas, itulah sebabnya bumi tidak terselimuti salju.<\/p>\n<p>Namun, 2 triliun ton energi fosil yang ditambang dari bawah tanah dan dikembalikan ke atmosfer memerangkap lebih dan lebih banyak lagi panas.<\/p>\n<p>Bumi bakal terus memanas hingga kita berhenti menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan panas atau listrik.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242973226\/mungkinkah-dunia-mewujudkan-net-zero-atau-emisi-nol-pada-2050\">Baca: Mungkinkah dunia cetak nol emisi pada 2050?<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>2. Fenomena El Nino<\/strong><\/p>\n<p>Siklus iklim El Nino di kawasan Pasifik memiliki pengaruh alami terbesar terhadap iklim. Hal ini karena kawasan Pasifik sangat luas, mencakup 30% permukaan bumi.<\/p>\n<p>Saat mengalami fase El Nino, lautan di lepas pantai Amerika Selatan memanas. Hal ini, pada gilirannya, biasanya membuat suhu rata-rata global menjadi lebih panas.<\/p>\n<p>Saat ini, ada gelombang panas yang berbahaya di Brasil. Saat terkombinasi dengan kelembapan, gelombang panas membuat suhu di sana terasa seperti 60&deg;C.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut berkontribusi pada kematian seorang penggemar di konser Taylor Swift di Rio de Janeiro minggu lalu.<\/p>\n<p>El Nino kemungkinan akan memuncak dalam dua bulan ke depan. Namun, dampaknya mungkin terus berlanjut sepanjang 2024, sehingga menyebabkan suhu rata-rata global lebih tinggi sekitar 0,15&deg;C.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/241811737\/hutan-mangrove-surabaya-dikembangkan-jadi-kebun-raya-demi-manfaat-ekologis-dan-ekonominya\">Baca: Manfaat hutan mangrove untuk serap karbon<\/a><\/p>\n<p><strong>3. Es Laut Antartika gagal pulih<\/strong><\/p>\n<p>Penurunan es Laut Arktik sudah diketahui secara luas. Namun, kini es Laut Antartika juga gagal pulih sehingga memicu pemanasan suhu Bumi.<\/p>\n<p>Biasanya, lingkaran air laut beku di sekitar benua es mencapai batas maksimumnya pada September.<\/p>\n<p>Namun, luas lingkaran maksimum tahun ini jauh di bawah tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Saat memasuki musim panas, akan lebih banyak air yang berwarna gelap. Permukaan yang gelap akan menyerap lebih banyak panas, sedangkan permukaan yang putih memantulkannya.<\/p>\n<p>Ini menandakan lebih banyak panas yang akan masuk ke lautan dibandingkan kembali ke angkasa.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/241225326\/studi-emisi-gas-rumah-kaca-mencapai-titik-tertinggi\">Baca: Riset mengungkap Juli 2023 catat emisi karbon tertinggi<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4. Peningkatan aktivitas Matahari<\/strong><\/p>\n<p>Matahari beroperasi dalam siklus sekitar 11 tahun, dengan keluaran yang lebih rendah dan lebih tinggi. Suhu maksimum matahari diperkirakan terjadi pada 2025 dan peningkatan nyata terjadi tahun ini.<\/p>\n<p>Fenomena tersebut menciptakan aurora yang spektakuler&mdash;-bahkan di Belahan Bumi Selatan, tempat penduduknya telah melihat aurora sampai ke daratan Ballarat, di Victoria, Australia.<\/p>\n<p>Aktivitas maksimum matahari menambahkan panas ekstra. Namun, efeknya tidak banyak&mdash;-hanya sekitar 0,05&deg;C, atau setara sepertiga dari El Nino.<\/p>\n<p><strong>5.&nbsp;<\/strong><strong>Berkurangnya polusi aerosol<\/strong><\/p>\n<p>Pada 2020, peraturan internasional baru mewajibkan bahan bakar pelayaran yang rendah sulfur. Pelaksanaan regulasi ini mengurangi emisi sulfur dioksida sekitar 10%.<\/p>\n<p>Rendahnya emisi sulfur dioksida memang bagus untuk kesehatan. Namun, aerosol di atmosfer sebenarnya dapat menghalangi panas.<\/p>\n<p>Pengurangan polusi mungkin telah menambah pemanasan Bumi. Namun sekali lagi, dampaknya tampaknya kecil, atau menambahkan perkiraan pemanasan sebesar 0,05&deg;C pada 2050.<\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243325968\/peran-sektor-kehutanan-dalam-pencapaian-penurunan-emisi-karbon-nasional\">Baca: Peran sektor kehutanan untuk serap emisi karbon<\/a> <\/strong><\/p>\n<p><strong>Letusan gunung berapi<\/strong><\/p>\n<p>Letusan gunung berapi biasanya mendinginkan planet ini karena gumpalan besar aerosol dari muntahan gunung menghalangi sinar matahari.<\/p>\n<p>Namun letusan gunung berapi terbesar abad ini, di dekat Tonga, Polinesia, pada Januari 2022 justru berdampak sebaliknya.<\/p>\n<p>Ini karena gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha&rsquo;apai berada di bawah laut. Kekuatan ledakannya menguapkan sejumlah besar air laut. Sementara, uap air merupakan gas rumah kaca.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Beberapa orang skeptis bahwa letusan di Tonga menjadi penyebab utama lonjakan pemanasan global baru-baru ini, menganggapnya hanya kedipan semata.<\/p>\n<p>Namun, letusan ini akan menambah suhu diperkirakan 0,035&deg;C selama sekitar lima tahun.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis Andrew King,&nbsp;Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pada bulan Oktober dan November 2023, pemanasan suhu Bumi tercatat cukup tinggi yakni berada di angka 1,5&deg;C dan&nbsp;sempat menyentuh 2&deg;C. Melihat angka pemanasan suhu Bumi&nbsp;yang cukup fantastis ini, wajar jika banyak orang bertanya-tanya&nbsp; bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan planet ini. Dalam tulisan di The Conversation, lonjakan&nbsp;pemanasan&nbsp;suhu bumi yang tiba-tiba pada tahun 2023 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":20301,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[68,593,3143],"class_list":["post-20300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-el-nino","tag-pemanasan","tag-suhu-bumi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20300"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20300\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20301"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}