{"id":20353,"date":"2026-07-30T02:24:42","date_gmt":"2026-07-30T02:24:42","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20353"},"modified":"2026-07-30T02:24:42","modified_gmt":"2026-07-30T02:24:42","slug":"angka-kelahiran-terus-menurun-adakah-cara-mencegah-agar-populasi-manusia-tidak-punah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20353","title":{"rendered":"Angka Kelahiran Terus Menurun, Adakah Cara Mencegah Agar Populasi Manusia Tidak Punah?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Sejumlah pakar menyebut populasi manusia atau penduduk dunia meningkat pesat seiring dengan revolusi industri pada&nbsp;abad ke-18.<\/p>\n<p>Pada masa sebelumnya, populasi manusia atau penduduk dunia stagnan karena pandemi besar yang dikenal sebagai The Black Death pada pertengahan abad ke-14.<\/p>\n<p>Pandemi ini menewaskan seperempat hingga setengah total penduduk Eropa dan menyisakan kurang dari satu miliar populasi manusia yang menjadi penduduk dunia.<\/p>\n<p>Seiring dengan munculnya revolusi industri dan penemuan antibiotik, pertumbuhan populasi manusia pun terus meningkat secara eksponensial mencapai 7,9 miliar penduduk pada 2022.<\/p>\n<p>Pertumbuhan populasi manusia yang sangat tinggi ini kemudian memunculkan teori Malthusian pada abad ke-18.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/243105606\/penduduk-dunia-dekati-10-miliar-orang-bagaimana-pemenuhan-kebutuhan-pangannya\">Baca: Penduduk dunia dekati 10 miliar, akankah terjadi krisis pangan?<\/a><\/p>\n<p>Teori ini memprediksi bahwa dalam tiga abad mendatang kapasitas bumi tidak akan cukup untuk jumlah manusia yang begitu besar.<\/p>\n<p>Akibatnya, dunia akan menghadapi keterbatasan suplai makanan yang menimbulkan perang atau penyakit hingga akhirnya akan menurunkan populasi manusia.<\/p>\n<p>Namun, riset dari University of Newcastle menunjukkan terjadi Malthusian paradox karena indeks produksi tani dan hewan terus meningkat seiring dengan turunnya angka kelahiran dunia.<\/p>\n<p>Hal tersebut menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara kesejahteraan (stabilitas pangan populasi) dengan tingkat kelahiran.<\/p>\n<p>Berkaca pada data Produk Domestik Bruto (PDB) dan tingkat kelahiran di Cina, tingkat kelahiran turut memengaruhi PDB.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/243320318\/angka-kelahiran-terus-menurun-apa-penyebabnya\">Baca: Angka kelahiran di dunia terus menurun<\/a><\/p>\n<p>Data menunjukkan bahwa total level kelahiran di Cina sudah menurun bahkan sejak sebelum diberlakukannya one child family policy pada 1980.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Sejak 1960, tingkat kelahiran di Cina turun dari 6 menjadi 2 anak per perempuan hanya dalam waktu dua puluh tahun.<\/p>\n<p>Tepat saat kelahiran tersebut berada di bawah 3 anak per perempuan, Cina mengalami peningkatan GDP secara stabil hingga sekarang.<\/p>\n<p>Kondisi serupa juga tampak pada negara lainnya, seperti Brazil, Taiwan, dan Korea Selatan.<\/p>\n<p>Indonesia pun telah mengalami penurunan tingkat kelahiran sejak 1960, dari 5,55 menjadi 2,2 per perempuan usia subur pada 2021.<\/p>\n<p>Meski demikian angka ini masih di atas replacement level atau angka minimal untuk mempertahankan regenerasi suatu populasi yakni 2,1.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24664372\/minyak-sawit-antara-alternatif-ketahanan-pangan-dan-ancaman-bagi-lingkungan\">Baca: Perubahan iklim ancam ketahanan pangan dunia<\/a><\/p>\n<p>Bagaimana mencegah defisit populasi?<br \/>Transisi demografi merupakan pola perjalanan demografi yang akan dialami oleh semua populasi tanpa mengenal agama dan kepercayaan.<\/p>\n<p>Pada periode pratransisi, populasi akan memiliki angka kematian dan kelahiran tinggi.<\/p>\n<p>Kemudian, saat mencapai periode transisi, angka kematian dan kelahiran populasi akan menurun.<\/p>\n<p>Akhirnya, pada periode pascatransisi angka kematian dan kelahiran akan terus menurun. Walhasil, jumlah populasi akan semakin rendah jika dibiarkan tanpa intervensi.<\/p>\n<p>John Aitken, profesor sains reproduksi dari University of Newcastle Australia, mengajukan beberapa langkah intervensi untuk menyelamatkan sebuah populasi dari infertility trap.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24664345\/polusi-dan-perubahan-iklim-picu-infertlitas-pada-laki-laki\">Baca: Polusi pengaruhi kesuburan laki-laki<\/a><\/p>\n<p>Beberapa di antaranya adalah usaha membuat perubahan sosial untuk mendukung keluarga muda memiliki anak.<\/p>\n<p>Misalnya, dengan pemberian bonus untuk anak, perizinan cuti untuk kedua orang tua, dan fasilitas perawatan anak.<\/p>\n<p>Kebijakan lain seperti penyediaan perumahan terjangkau, peningkatan usia pensiun, pemantauan kadar bahan toksik reproduksi dari lingkungan juga bisa menyelamatkan populasi.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Selain itu, kita perlu menghindari pengutamaan penggunaan in vitro fertilisation (IVF) atau bayi tabung untuk mengatasi infertilitas.<\/p>\n<p>Ketimbang IVF, kita perlu lebih mengutamakan pemahaman asal-usul gangguan fertilitas, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.<\/p>\n<p>Terakhir, kita perlu meningkatkan kesadaran sosial politik terhadap perubahan demografi yang akan datang.<\/p>\n<p><em><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, ditulis oleh&nbsp;Shafira Meidyana&nbsp;<\/strong><\/em><em><strong>Lecturer in Biostatistics and Population, Department of Public Health and Preventive Medicine, Faculty of Medicine, Airlangga University, Universitas Airlangga<\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Sejumlah pakar menyebut populasi manusia atau penduduk dunia meningkat pesat seiring dengan revolusi industri pada&nbsp;abad ke-18. Pada masa sebelumnya, populasi manusia atau penduduk dunia stagnan karena pandemi besar yang dikenal sebagai The Black Death pada pertengahan abad ke-14. Pandemi ini menewaskan seperempat hingga setengah total penduduk Eropa dan menyisakan kurang dari satu miliar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":20354,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4225,804],"class_list":["post-20353","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-penduduk-dunia","tag-populasi-manusia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20353","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20353"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20353\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20354"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}