{"id":20660,"date":"2026-07-30T02:26:13","date_gmt":"2026-07-30T02:26:13","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20660"},"modified":"2026-07-30T02:26:13","modified_gmt":"2026-07-30T02:26:13","slug":"masalah-lingkungan-terbesar-2023-penambangan-kobalt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20660","title":{"rendered":"Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Penambangan Kobalt"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pengolahan Kobalt awalnya dianggap sebagai jawaban dari teka-teki mineral di jantung transisi energi terbarukan. Namun, belakangan penambangan cobalt telah memicu masalh lingkungan yang serius.<\/p>\n<p>Kobalt menjadi salah satu bahan dasar pembuatan baterai&nbsp;untuk kendaraan listrik&nbsp;dan alat-alat berbasis elektronik&nbsp;lainnya.<\/p>\n<p>Itu sebabnnya Kobalt disebut sebagai jawaban untuk transisi ke energi yang lebih ramah lingkungan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/241225326\/studi-emisi-gas-rumah-kaca-mencapai-titik-tertinggi\">Baca: Emisi karbon cetak rekor tertinggi pada 2023<\/a><\/p>\n<p>Sebagai komponen utama bahan baterai yang menggerakkan kendaraan listrik (EV), kobalt menghadapi lonjakan permintaan yang berkelanjutan seiring dengan kemajuan upaya dekarbonisasi.<\/p>\n<p>Lantas bagaimana kobalt ini justru memicu masalah bagi lingkungan?<\/p>\n<p>Pemasok kobalt terbesar di dunia adalah Republik Demokratik Kongo (DRC), yang diperkirakan seperlima produksinya dihasilkan melalui penambangan tradisional.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24767019\/klhk-ajak-masyarakat-tak-beli-produk-yang-enggan-kelola-sampah-plastik-yang-dihasilkannya\">Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang tak peduli sampah plastik yang dihasilkannya<\/a><\/p>\n<p>Namun, penambangan kobalt dikaitkan dengan eksploitasi pekerja yang berbahaya serta masalah lingkungan dan sosial serius lainnya.<\/p>\n<p>Dampak lingkungan dari aktivitas penambangan kobalt juga besar. Wilayah selatan Kongo tidak hanya merupakan rumah bagi kobalt dan tembaga, namun juga sejumlah besar uranium.<\/p>\n<p>Di wilayah pertambangan, para ilmuwan telah mencatat tingkat radioaktivitas yang tinggi yang bisa mempengaruhi kelangsungan lingkungan hidup di sana.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24705734\/mengenal-bioplastik-apakah-benar-benar-ramah-lingkungan\">Baca: Apakah sampah plastik benar-benar ramah lingkungan?<\/a><\/p>\n<p>Selain itu, penambangan mineral, serupa dengan upaya penambangan industri lainnya, sering kali menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Limbah pengolahan kobalt ini merembes ke sungai dan mencemari sumber air di sekitarnya.<\/p>\n<p>Debu dari pecahan batu juga diketahui menyebabkan masalah pernapasan bagi masyarakat setempat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24704915\/ilmuwan-as-gunakan-tanaman-dan-jamur-untuk-membersihkan-polusi-tanah\">Baca: Begini cara ilmuwan AS bersihkan tanah dari pencemaran lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Itu sebabnya mengapa penambangan kobalt disebut sebagai salah satu masalah lingkungan terbesar pada 2023.&nbsp;<\/p>\n<p>Tentu ini perlu menjadi perhatian pemerintah&nbsp;Indonesia yang saat ini tengah menggenjot penambangan kobalt.<\/p>\n<p>Indonesia menempati peringkat kedua dengan total produksi kobalt sebesar 10.000 metrik ton pada 2022, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 2.700 metrik ton.<\/p>\n<p>Sumber: earth.org, baca artikel asli <a href=\"https:\/\/earth.org\/the-biggest-environmental-problems-of-our-lifetime\/\">di sini<\/a><br \/>\u200b<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pengolahan Kobalt awalnya dianggap sebagai jawaban dari teka-teki mineral di jantung transisi energi terbarukan. Namun, belakangan penambangan cobalt telah memicu masalh lingkungan yang serius. Kobalt menjadi salah satu bahan dasar pembuatan baterai&nbsp;untuk kendaraan listrik&nbsp;dan alat-alat berbasis elektronik&nbsp;lainnya. Itu sebabnnya Kobalt disebut sebagai jawaban untuk transisi ke energi yang lebih ramah lingkungan. Baca: Emisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":20661,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5294,17],"class_list":["post-20660","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-kobalt","tag-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20660","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20660"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20660\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}