{"id":20793,"date":"2026-07-30T02:26:51","date_gmt":"2026-07-30T02:26:51","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20793"},"modified":"2026-07-30T02:26:51","modified_gmt":"2026-07-30T02:26:51","slug":"masalah-lingkungan-terbesar-2023-meningkatnya-keasaman-laut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=20793","title":{"rendered":"Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Meningkatnya Keasaman Laut"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kali ini kita akan kembali membahas tentang masalah lingkungan terbesar lainnya, yakni meningkatnya keasaman laut.&nbsp;<\/p>\n<p>Kenaikan suhu Bumi atau pemanasan global tidak hanya berdampak pada permukaan saja, namun juga memicu naiknya keasaman laut.<\/p>\n<p>Lautan kita menyerap sekitar 30% karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer bumi, yang kemudian akan mempengaruhi keasaman laut.<\/p>\n<p>Meningkatnya kadar keasaman laut dikarenakan konsentrasi emisi karbon yang lebih tinggi dilepaskan akibat aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243211082\/masalah-lingkungan-terbesar-2023-naiknya-permukaan-air-laut-akibat-krisis-iklim\">Baca: Naiknya permukaan laut picu masalah lingkungan yang serius<\/a><\/p>\n<p>Emisi karbon ini juga dipicu oleh perubahan iklim global seperti peningkatan laju kebakaran hutan, maka jumlah karbon dioksida yang diserap kembali ke laut juga meningkat.<\/p>\n<p>Perubahan terkecil pada skala pH dapat berdampak signifikan terhadap keasaman laut yang selanjutnya mempengaruhi kehidupan flora dan fauna di dalamnya.<\/p>\n<p>Pengasaman laut mempunyai dampak buruk terhadap ekosistem dan spesies laut, jaringan makanannya, dan memicu perubahan kualitas habitat yang tidak dapat diubah.<\/p>\n<p>Ketika tingkat pH mencapai terlalu rendah, organisme laut seperti tiram, cangkang dan kerangkanya bahkan bisa mulai larut.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24565643\/ribuan-desa-pesisir-di-indonesia-timur-terancam-krisis-akibat-perubahan-iklim\">Baca: Ribuan desa di pesisir terancam hilang akibat naiknya permukaan air laut<\/a><\/p>\n<p>Namun, salah satu masalah lingkungan terbesar akibat pengasaman laut adalah pemutihan karang dan hilangnya terumbu karang.<\/p>\n<p>Ini adalah fenomena yang terjadi ketika kenaikan suhu laut mengganggu hubungan simbiosis antara terumbu karang dan alga yang hidup di dalamnya.<\/p>\n<p>Akibatnya, alga tersebut hilang dan menyebabkan terumbu karang kehilangan warna cerah alaminya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Beberapa ilmuwan memperkirakan terumbu karang berisiko musnah seluruhnya pada tahun 2050.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24703246\/nasib-nelayan-tradisional-terombang-ambing-dampak-perubahan-iklim\">Baca: Nasib nelayan terombang ambing oleh perubahan iklim<\/a><\/p>\n<p>Tingkat keasaman laut yang lebih tinggi akan menghambat kemampuan sistem terumbu karang untuk membangun kembali kerangka luarnya dan pulih dari peristiwa pemutihan karang.<\/p>\n<p>Beberapa penelitian juga menemukan bahwa meningkatnya keasaman laut dapat dikaitkan dengan salah satu dampak pencemaran plastik di laut.<\/p>\n<p>Akumulasi bakteri dan mikroorganisme yang berasal dari sampah plastik yang dibuang ke laut merusak ekosistem laut dan berkontribusi terhadap pemutihan karang.<br \/>\u200b<\/p>\n<p>Sumber: earth.org&nbsp;baca artikel asli&nbsp;<a href=\"https:\/\/earth.org\/the-biggest-environmental-problems-of-our-lifetime\/\">di sini<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kali ini kita akan kembali membahas tentang masalah lingkungan terbesar lainnya, yakni meningkatnya keasaman laut.&nbsp; Kenaikan suhu Bumi atau pemanasan global tidak hanya berdampak pada permukaan saja, namun juga memicu naiknya keasaman laut. Lautan kita menyerap sekitar 30% karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer bumi, yang kemudian akan mempengaruhi keasaman laut. Meningkatnya kadar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":20794,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5324,1985,17],"class_list":["post-20793","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-keasaman","tag-laut","tag-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20793"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20793\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}