{"id":21095,"date":"2026-07-30T02:28:27","date_gmt":"2026-07-30T02:28:27","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21095"},"modified":"2026-07-30T02:28:27","modified_gmt":"2026-07-30T02:28:27","slug":"suhu-panas-hingga-33-derajat-celsius-ini-penyebabnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21095","title":{"rendered":"Suhu Panas Hingga 33 Derajat Celsius, Ini Penyebabnya"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia &#8211;&nbsp;<\/strong>Suhu udara yang panas saat ini tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satunya Pulau Bintan di Kepulauan Riau (Kepri) yang suhunya mencapai 33 derajat celsius.<\/p>\n<p>Akibatnya masyarakat merasakan udara panas dan gerah yang tak biasanya.<\/p>\n<p>&#8220;Kami mencatat suhu udara saat ini berada di atas 30 sampai 33 derajat Celsius,&rdquo; ungkap Prakirawan Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kota Tanjungpinang, Muhammad Fadris D, dikutip Antaranews.<\/p>\n<p>Padahal, lanjut Fadris, suhu udara di wilayah ini pada siang hari biasanya berkisar antara 28 sampai 30 derajat celcius.<\/p>\n<p> Cuaca panas yang melanda Pulau Bintan, meliputi Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan diprediksi masih akan berlangsung hingga awal 2024.<\/p>\n<p> Hal ini terjadi akibat fenomena skala global seperti El Nino dan&nbsp;<em>Indian Ocean Dipole<\/em>&nbsp;(IOD).<\/p>\n<p>Selain itu, adanya pergerakan angin dari arah Australia yang cenderung kering, sehingga menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.<\/p>\n<p> &ldquo;Namun khusus di Pulau Bintan, untuk hari ini sampai dua hari ke depan ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang bersifat lokal,&rdquo; jelas Fadris.<\/p>\n<p> Selanjutnya Fadris menjelaskan suhu panas yang terjadi saat ini rentan memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).<\/p>\n<p>Pihaknya telah mendeteksi beberapa titik panas, terutama di wilayah Kabupaten Bintan.<\/p>\n<p> Karena itu, Fadris mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap pemicu karhutla, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun membakar lahan atau kebun saat cuaca panas.<\/p>\n<p>Hal ini dapat menimbulkan kebakaran yang lebih besar. &#8220;Dari segi kesehatan, perbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Sebelumnya Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada BRIN (Badan Riset dan Inovesi Nasional), Eddy Hermawan mengatakan puncak suhu panas ekstrim terjadi pada bulan Oktober.<\/p>\n<p>Normalnya musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus. Tetapi adanya pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.<\/p>\n<p>&nbsp;&#8220;Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,&#8221; kata Eddy.&nbsp;<\/p>\n<p>Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut&#8211;El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia&mdash;berdampak cukup masif pada Indonesia dan negara lainnya di garis khatulistiwa.<\/p>\n<p>Karena itu, lanjut Eddy, beberapa daerah di Indonesia diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat Celcius.<\/p>\n<p>Sementara itu, salah seorang warga Tanjungpinang, Erita, merasakan dampak cuaca panas dalam dua hari ke belakang, terutama pada siang hari.<\/p>\n<p> &#8220;Panasnya sangat terasa, menyebabkan tubuh memproduksi keringat lebih banyak dari biasanya,&#8221; kata Erita.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Reporter: Nurakhmayani&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Suhu udara yang panas saat ini tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satunya Pulau Bintan di Kepulauan Riau (Kepri) yang suhunya mencapai 33 derajat celsius. Akibatnya masyarakat merasakan udara panas dan gerah yang tak biasanya. &#8220;Kami mencatat suhu udara saat ini berada di atas 30 sampai 33 derajat Celsius,&rdquo; ungkap Prakirawan Stasiun Badan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":21096,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[50,95,97,5412,84,454,1853],"class_list":["post-21095","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cuaca","tag-hutan","tag-kebakaran","tag-kepri","tag-panas","tag-suhu","tag-udara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21095","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21095"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21095\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21096"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21095"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21095"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21095"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}