{"id":21157,"date":"2026-07-30T02:28:48","date_gmt":"2026-07-30T02:28:48","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21157"},"modified":"2026-07-30T02:28:48","modified_gmt":"2026-07-30T02:28:48","slug":"memilah-sampah-sendiri-edukasi-panjang-membangun-kesadaran-warga-sukaluyu-bandung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21157","title":{"rendered":"Memilah Sampah Sendiri, Edukasi Panjang Membangun Kesadaran Warga Sukaluyu, Bandung \u00a0"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia &#8211;&nbsp;<\/strong>Masalah sampah masih belum terselesaikan oleh pemerintah kota Bandung. Tetapi berbeda halnya dengan di RW 09, Kelurahan Sukaluyu, Bandung Jawa Barat. Di tempat ini warga memilah sampah sendiri.<\/p>\n<p>Mereka mulai terbiasa memilah sampah sejak didampingi Perkumpulan Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) pada 2015. Praktik ramah lingkungan ini sudah diterapkan hampir 90 persen warga.<\/p>\n<p>Melansir KBR, Koordinator Tim Kota YPBB, Ratna Ayu Wulandari menjelaskan butuh proses panjang untuk mengubah perilaku dan sistem di masyarakat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/senggang\/24924087\/cara-mudah-memilah-sampah-dari-rumah-tanpa-ribet\">Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah<\/a><\/p>\n<p>Ayu mengatakan, pihaknya melakukan sosialisasi, konsultasi dengan RW atau kelurahan, kemudian ada edukasi bukan hanya untuk warga, tetapi juga untuk petugas yang mengambil petugas.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi nanti nggak ada istilahnya udah dipilah di rumah, dicampur sama petugas. Tetap kita akan edukasi juga petugas sampah,&#8221; jelas Ayu.<\/p>\n<p>Memang, Ayu mengakui tak mudah membujuk warga agar mau memilah sampah dari rumah. Bahkan proses edukasinya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun.<\/p>\n<p>&#8220;Di RW 09 ada fasilitas umum yang bisa diintegrasiin untuk pengelolaan sampah organik. Jadi sampah organiknya dikelola di kawasan, tidak diangkut keluar. Yang diangkut ke TPS adalah sampah yang memang tidak bisa dimanfaatkan,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/senggang\/24870792\/demibumi-ada-karena-planet-bumi-adalah-titipan-dari-generasi-masa-depan\">Baca: DemiBumi mengajak konsumennya untuk jalani gaya hidup minim sampah<\/a><\/p>\n<p>Salah seorang warga RW RW 09, Nina tak cuma cakap memilah sampah, tetapi juga telaten mengompos sendiri sampah organiknya. Rumah Nina tak lagi berbau dan bebas lalat.<\/p>\n<p>Dari pihak RW tersedia tempat pengomposan terpusat, sehingga sampah-sampah organik dari warga bisa langsung dikompos.<\/p>\n<p>&#8220;Alhamdulillah manfaatnya banyak. Ini organiknya kan di kompos ya nanti komposnya balik ke kita buat tanaman, enam bulan sekali dipanen, balik lagi ke warga untuk menyuburkan tanaman,&#8221; kata Nina.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Ibu rumah tangga berusia 70 tahun ini juga menjelaskan butuh waktu tahunan agar dirinya terbiasa mengelola sampah sendiri. Bahkan kini ia merasa miris melihat tumpukkan yang tak dipilah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/senggang\/24682387\/kurangi-sampah-plastik-dengan-sistem-isi-ulang-dari-siklus\">Baca: Siklus ajak konseumennya kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Lama-lama kita biasa, jadi udah gereget ya, kalau misalkan di jalan atau di RW lain lihat &lsquo;aduh masih nyampur&rsquo;, jadi gimana gitu rasanya. Kalau di sini kan sudah biasa ya, malahan RT yang warganya banyak yang memilah, dikasih apresiasi,&#8221; kata Nina.<\/p>\n<p>Sementara itu, ketua RW 09 Sukaluyu, Iwan Poernawan mengatakan kemandirian mengelola sampah membuat masyarakat tak terdampak tutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti Bandung akibat kebakaran.<\/p>\n<p>&#8220;Di kawasan kami itu tetap bersih-bersih aja, tidak berbau busuk, itu dampak positif yang kami ini kalau milah sampah karena memang sistem kita sudah berjalan&rdquo;<\/p>\n<p>&ldquo;Darurat sampah ini kita tidak berdampaknya secara langsung di kawasan. Jadi panik kalau nggak memilah, terus sampah menumpuk jadi mengundang bau yang tidak sedap,&#8221; papar Iwan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/senggang\/24615228\/dear-anak-muda-6-gaya-hidup-tak-ramah-lingkungan-ini-layak-ditinggalkan\">Baca: Gaya hidup nyampah dan tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan<\/a><\/p>\n<p>RW 09 memang sudah bebas dari lautan sampah. Namun, masih ada sekitar 10 persen warga yang belum mau mengelola sampah sendiri di rumah.<\/p>\n<p>Umumnya mereka warga pendatang yang mengontrak rumah atau indekos.<\/p>\n<p>&#8220;Anak-anak kos saya lebih cenderung ke RT-nya masing-masing saya serahkan. Jadi tergantung pendekatannya sebetulnya. Pokoknya saya tidak mau tahu RT 1 sampai 7 tidak mengenal apakah itu kosan, harus memilah sampah suka atau tidak suka,&#8221; tegas Iwan.<\/p>\n<p>Ratna Ayu Wulandari, pendamping dari YPBB berharap warga RW09 dapat terus mengolah sampah secara mandiri tanpa didampingi YPBB serta menjadi gaya hidup sehari-hari.<\/p>\n<p>&#8220;Kan nggak mungkin kita terus-terusan dampingin. Tapi kalau pak RW mau konsultasi, mau tanya, kita masih ada. Di DLH (Dinas Lingkungan Hidup) kan juga punya tim pendamping, yang itu juga bisa rutin kalau ada masalah, error pengolahan, bisa ada pendamping juga (dari) DLH,&#8221; jelas Ayu.<\/p>\n<p>Reporter: Nurakhmayani<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; 7cloud.asia &#8211;&nbsp;Masalah sampah masih belum terselesaikan oleh pemerintah kota Bandung. Tetapi berbeda halnya dengan di RW 09, Kelurahan Sukaluyu, Bandung Jawa Barat. Di tempat ini warga memilah sampah sendiri. Mereka mulai terbiasa memilah sampah sejak didampingi Perkumpulan Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) pada 2015. Praktik ramah lingkungan ini sudah diterapkan hampir 90 persen warga. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":21158,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5426,2380,17,43,5275],"class_list":["post-21157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-edukasi","tag-kompos","tag-lingkungan","tag-memilah-sampah","tag-organik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}