{"id":21403,"date":"2026-07-30T02:29:59","date_gmt":"2026-07-30T02:29:59","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21403"},"modified":"2026-07-30T02:29:59","modified_gmt":"2026-07-30T02:29:59","slug":"jalan-jalan-ke-kotagede-merasakan-tata-kota-jawa-di-masa-lalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21403","title":{"rendered":"Jalan-jalan ke Kotagede, Merasakan Tata Kota Jawa di Masa Lalu"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kotagede yang menjaid cikal bakal kota Jogja, hingga masih menjadi tujuan wisata yang menarik.<\/p>\n<p>Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas menjadi tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi.&nbsp;<\/p>\n<p>Jalan-jalan ke Kotagede kita akan menemukan toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng yang telah berusia ratusan tahun.<\/p>\n<p>Di Kotagede kita juga akan menemukan tata kota kerajaan Jawa di masa lalu yang biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan &#8211; utara.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/243038756\/mengenal-kotagede-yang-menjadi-cikal-bakal-kota-jogja\">Baca: Mengenal sejarah Kotagede<\/a><\/p>\n<p>Berikut sejumlah tempat yang bisa disambangi saat melancong ke Kotagede:&nbsp;<\/p>\n<p><strong>1. Pasar Kotagede<\/strong><\/p>\n<p>Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini.<\/p>\n<p>Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar Kotagede ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.<\/p>\n<p>Bila ingin berkelana di Kotagede, kita bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/243034068\/bakal-merayakan-hari-jadinya-yang-ke-267-begini-asal-usul-nama-kota-jogja\">Baca: Asal muasalh nama Kota Jogja<\/a><\/p>\n<p><strong>2.&nbsp;Kompleks Makam Pendiri Kerajaan<\/strong><\/p>\n<p>Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari.<\/p>\n<p>Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana).<\/p>\n<p>Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 &#8211; 16.00 WIB.<\/p>\n<p>Untuk menjaga kehormatan para pendiri Kerajaan Mataram yang dimakamkan di sini, pengunjung dilarang memotret \/ membawa kamera dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam.<\/p>\n<p>Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di sini meliputi: Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan keluarganya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/24560330\/makna-sumbu-filosofi-dalam-tata-kota-yogyakarta\">Baca: makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja<\/a><\/p>\n<p><strong>3. Masjid Kotagede<\/strong><\/p>\n<p>Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, masjid tertua di Yogyakarta yang masih berada di kompleks makam.<\/p>\n<p>Setelah itu tak ada salahnya untuk berjalan kaki menyusuri lorong sempit di balik tembok yang mengelilingi kompleks makam untuk melihat arsitekturnya secara utuh dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kotagede.<\/p>\n<p><strong>4. Rumah Tradisional<\/strong><br \/>Persis di seberang jalan dari depan kompleks makam, kita bisa melihat sebuah rumah tradisional Jawa.<\/p>\n<p>Namun bila mau berjalan 50 meter ke arah selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan &#8220;cagar budaya&#8221;.<\/p>\n<p>Masuklah ke dalam, di sana kita akan melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/243012611\/unesco-akui-sumbu-filosofi-yogyakarta-jadi-warisan-dunia\">Baca: UNESCO akui sumbu filosofi sebagai warisan dunia<\/a><\/p>\n<p><strong>5. Kedhaton<\/strong><br \/>Berjalan ke selatan sedikit lagi, Anda akan melihat 3 Pohon Beringin berada tepat di tengah jalan.<\/p>\n<p>Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan &#8220;watu gilang&#8221;, sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S &#8211; AINSI VA LE MONDE &#8211; Z00 GAAT DE WERELD &#8211; COSI VAN IL MONDO.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS &#8211; IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU &#8211; IGM (In Glorium Maximam).<\/p>\n<p>Entah apa maksudnya, barangkali Anda bisa mengartikannya untuk kami?<\/p>\n<p>Dalam bangunan itu juga terdapat &#8220;watu cantheng&#8221;, tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan.<\/p>\n<p>Masyarakat setempat menduga bahwa &#8220;bola&#8221; batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/242432345\/kawasan-malioboro-ditataulang-sesuai-maknanya-dalam-sumbu-filosofi-yogyakarta\">Baca: Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam sumbu filosofi kota Jogja<\/a><\/p>\n<p><strong>6. Reruntuhan Benteng<\/strong><br \/>Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara.<\/p>\n<p>Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.<\/p>\n<p>Berjalan-jalan menyusuri Kotagede akan memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa.<\/p>\n<p>Selain itu, kita juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh.<\/p>\n<p>Berbeda dengan kawasan wisata lain, penduduk setempat memiliki keramahan khas Jawa, santun, dan tidak terlalu komersil.<\/p>\n<p>Di Kotagede, kita takkan diganggu pedagang asongan yang suka memaksa. Ini memang sedikit mengejutkan, atau lebih tepatnya menyenangkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kotagede yang menjaid cikal bakal kota Jogja, hingga masih menjadi tujuan wisata yang menarik. Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas menjadi tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi.&nbsp; Jalan-jalan ke Kotagede kita akan menemukan toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":21404,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4123,10,5480,513],"class_list":["post-21403","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-jogja","tag-kota","tag-kotagede","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21403"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21403\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21404"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}