{"id":21451,"date":"2026-07-30T02:30:13","date_gmt":"2026-07-30T02:30:13","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21451"},"modified":"2026-07-30T02:30:13","modified_gmt":"2026-07-30T02:30:13","slug":"dari-ahy-hingga-kaesang-menyoal-dinasti-politik-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21451","title":{"rendered":"Dari AHY hingga Kaesang, Menyoal Dinasti Politik di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Diangkatnya Kaesang Pangarep menjaid Ketua Umum PSI memunculkan perbincangan soal keterlibatan anak muda di politik praktis dan dinasti politik.<\/p>\n<p>Keterlibatan kaum muda dalam politik praktis seperti Kaesang ini sebenarnya, akan membuka peluang besar untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif dalam proses demokrasi.<\/p>\n<p>Namun, ceritanya menjadi lain jika masuknya anak muda ke politik praktis karena dinasti politik.<\/p>\n<p>Jika membahas dinasti politik, contoh yang paling mudah kita amati adalah posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang dalam waktu singkat meraih jabatan Ketua Umum Partai Demokrat&ndash;kurang lebih empat tahun setelah ia bergabung dengan partai itu.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/243019846\/kaesang-pangarep-jadi-ketua-umum-psi-warganet-pertanyakan-ideologi-psi\">Baca: Kaesang jadi Ketua Umum PSI, kaderisasi PSI dipertanyakan<\/a><\/p>\n<p>Jalur cepat yang ditempuh AHY kala itu tak pelak memicu perbincangan soal dinasti politik. Posisi AHY Ini tentunya tidak lepas dari posisi ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai pendiri dan sosok penting dalam partai Demokrat sekaligus presiden yang berkuasa selama satu dekade (2004-2014).<\/p>\n<p>Jalur cepat juga terjadi pada Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Presiden Joko &ldquo;Jokowi&rdquo; Widodo, yang menang telak dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Solo tahun 2020.&nbsp;<\/p>\n<p>Padahal Gibran baru terjun ke dunia politik tahun 2019.&nbsp;Gibran yang saat itu masih berusia 33 tahun, tampaknya mengikuti jejak sang ayah.<\/p>\n<p>Yakni awalnya menjadi pebisnis lokal, kemudian menjadi politikus nasional mulai dari jabatan Walikota Solo.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/243033460\/kaum-muda-di-pemilu-2024-yang-mewarisi-previlese-dan-yang-harus-berjuang-sendiri\">Baca: Kaum muda di Pemilu 2024, ada yang mewarisi previlese dan yang harus berjuang sendiri<\/a><\/p>\n<p>Dinasti politik juga disorotkan ke menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang juga pendatang baru di politik. Ia berhasil terpilih menjadi Walikota Medan pada Pilkada 2020&ndash;bahkan ia menang dengan mudah.&nbsp;<\/p>\n<p>Orang juga mengaitkan keberhasilan Bobby dengan nama besar Jokowi sebagai presiden dua periode.<\/p>\n<p>Mau dibantah seperti apapun, publik pasti bisa menilai bahwa ini menunjukkan proses pembentukan dinasti politik. Figur Jokowi tentu tak lepas dari kesuksesan mereka meraup dukungan masyarakat.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Yang terbaru ada Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, yang baru saja ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/242655432\/perjuangan-caleg-bermodal-cekak-siasati-politik-berbiaya-tinggi\">Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak mensiasati politik biaya tinggi<\/a><\/p>\n<p>Seperti halnya AHY, Kaesang hadir secara instan dalam partai dan langsung mengambil posisi yang paling penting.<\/p>\n<p>Kaesang menjadi Ketum PSI hanya beberapa hari setelah ia resmi bergabung dengan partai tersebut.<\/p>\n<p>Padahal, umumnya butuh waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, bagi kader partai untuk mengabdi sebelum mereka bisa mendapat posisi penting di organisasi politik.<\/p>\n<p>Inilah mengapa sangat jarang ketua umum partai politik yang berusia di bawah 40 tahun.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/242705314\/cara-berbeda-pdip-dan-psi-memandang-pemilih-muda-di-pemilu-2024\">Baca: Cara beda PDIP dan PSI dalam menyikapi pemilih muda<\/a><\/p>\n<p>Hadirnya figur-figur muda&ndash;yang berasal dari kekerabatan&ndash;dalam jabatan penting di partai politik secara tidak langsung menjadi sinyal betapa buruk kaderisasi partai.&nbsp;<\/p>\n<p>Ini menunjukkan rapuhnya kemampuan partai dalam menghadirkan sosok-sosok pemimpin melalui kaderisasi partai yang ideal.<\/p>\n<p>Yakni, sosok pemimpin yang bertumbuh dan berjuang bersama dalam proses keberlangsungan partai.<\/p>\n<p>Keterlibatan kaum muda dalam politik praktis sejatinya akan membuka peluang besar untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif dalam proses demokrasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/241225485\/seperti-apa-suara-pemilih-muda-di-pemilu-2024-nanti\">Baca: Menebak arah pilihan pemilih muda<\/a><\/p>\n<p>Mereka bisa membawa semangat perubahan dan inovasi, serta perspektif baru dan solusi kreatif dalam merespons tantangan zaman.<\/p>\n<p>Namun, fenomena dinasti politik pada akhirnya membuat lanskap politik Indonesia menjadi simbol dari sistem yang kaku dan tidak responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi generasi muda itu sendiri.<\/p>\n<p>Melekatnya simbol warisan keluarga dan jaringan kekuasaan yang telah ada sejak lama justru dapat memperkuat status quo dan menghambat langkah perbaikan demokrasi.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Dalam jangka panjang, dinasti politik juga tidak bagus untuk demokrasi yang sehat. Karena tidak adanya kesetaraan kesempatan di panggung politik bagi kaum muda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Diangkatnya Kaesang Pangarep menjaid Ketua Umum PSI memunculkan perbincangan soal keterlibatan anak muda di politik praktis dan dinasti politik. Keterlibatan kaum muda dalam politik praktis seperti Kaesang ini sebenarnya, akan membuka peluang besar untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif dalam proses demokrasi. Namun, ceritanya menjadi lain jika masuknya anak muda ke politik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":21452,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3890,3690],"class_list":["post-21451","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-anak-muda","tag-dinasti-politik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21451","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21451"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21451\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21452"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21451"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21451"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21451"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}