{"id":21471,"date":"2026-07-30T02:30:19","date_gmt":"2026-07-30T02:30:19","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21471"},"modified":"2026-07-30T02:30:19","modified_gmt":"2026-07-30T02:30:19","slug":"tradisi-perang-ketupat-wujud-rasa-syukur-warga-bali-atas-kesuburan-tanah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=21471","title":{"rendered":"Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Ribuan warga meramaikan&nbsp; Tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau Tradisi Perang Ketupat di Desa Kapal, Badung, Bali, Jumat (29\/9\/2023).<\/p>\n<p>Tradisi perang ketupat di desa Kapal, Badung Bali ini sudah dimulai sejak tahun 1939 dan telah ditetapkan UNESCO&nbsp; sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2019.<\/p>\n<p>Tradisi perang ketupat di Bali ini digelar setiap setahun sekali tepatnya pada hari suci purnama kapat untuk memohon kesejahteraan serta wujud syukur atas kesuburan pada lahan pertanian.&nbsp;<\/p>\n<p>Dilansir punapiBali.com, prosesi Perang Ketupat&nbsp;diawali dengan upacara persembahyangan oleh warga secara bersamaan di pura setempat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24569236\/mengenal-uniknya-tradisi-seba-masyarakat-badui-tahun-ini-singgung-hak-politik\">Baca: Mengenal tradisi Seba dari masyarakat Badui<\/a><\/p>\n<p>Pada saat berlangsungnya upacara Perang Ketupat, pemangku adat mengikuti sambil membaca mantra-mantra dan memercikkan air suci ke seluruh warga setempat.<\/p>\n<p>Kemudian ia akan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar perang tersebut bisa sukses dan memberikan kesejahteraan serta keselamatan bagi warga desa.<\/p>\n<p>Setelah melakukan persembahyangan di pura setempat, peserta akan menyiapkan amunisi. Di sinilah sisi unik dari Perang Ketupat.<\/p>\n<p>Sebagaimana namanya, Perang Ketupat ini memiliki amunisi berupa ketupat yang dihasilkan dari sumbangan warga desa Kapal. Ketupat tersebut jumlahnya ribuan dan selanjutnya digunakan untuk memukul atau mengenai lawan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/24560519\/makna-tradisi-mudik-lebaran-tak-sekadar-sungkeman\">Baca: Tradisi mudik ternyata sudah ada sejak jaman Majapahit<\/a><\/p>\n<p>Peserta tradisi Perang Ketupat dibagi menjadi dua kelompok yang satu sama lain saling berhadapan.<\/p>\n<p>Perang pun dimulai dengan diberi aba-aba terlebih dahulu. Tradisi tersebut menjadi sangat menarik karena sorak-sorai dari warga setempat yang berpartisipasi dalam acara tersebut.&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Tradisi perang ketupat ini menarik wisatawan yang datang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.<\/p>\n<p>Sebagaimana layaknya sebuah perang, warga akan saling berhadap-hadapan dan melempar ketupat ke arah lawan. Pesertanya adalah warga masyarakat di desa tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/243012611\/unesco-akui-sumbu-filosofi-yogyakarta-jadi-warisan-dunia\">Baca: UNESCO tetapkan sumbu filosofi Yogya menjaid warisan dunia<\/a><\/p>\n<p>Perang Ketupat merupakan sebuah acara adat, dimana semua peserta melakukan perang dengan saling melempar ketupat.<\/p>\n<p>Di Indonesia sendiri, tradisi perang ketupat juga ditemukan di Bangka Belitung dan Bali. Untuk Perang Ketupat di Bali disebut dengan Aci Rah Pengangon.<\/p>\n<p>Perang Ketupat di desa Kapal merupakan tradisi leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Perayaannya dilakukan satu tahun sekali.<\/p>\n<p>Tradisi Perang Ketupat sudah ada sejak tahun 1930an-an. Pada awal kemunculannya, tradisi tersebut melibatkan dua orang laki-laki yang bertelanjang dada. Masing-masing dari mereka bersenjatakan ketupat serta kue bantal.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/243027306\/ngarak-perahu-maulid-meriahkan-maulid-nabi-di-tangerang\">Baca: Tradisi ngarak Maulid di Tangerang<\/a><\/p>\n<p>Begitu Perang Ketupat dinyatakan mulai, kedua peserta akan saling menyerang dengan melemparkan ketupat ataupun kue bantal.<\/p>\n<p>Tidak ada aturan khusus dalam perang ketupat, setiap pemain bebas melempar ke arah manapun di kubu lawan.<\/p>\n<p>Warga Desa Kapal, Badung, Bali percaya bahwa dengan digelarnya Perang Ketupat, mereka akan memperoleh kesejahteraan.<\/p>\n<p>Bahkan, menurut ungkapan sesepuh di desa tersebut, perang ketupat dianggap sebagai simbol dari kemakmuran warga.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/wisata\/242906292\/menggali-makna-tradisi-sebar-apem-yaa-qowiyyu-di-jatinom-klaten-jawa-tengah\">Baca: Makna sebar apem ya qowiyyu di Klaten<\/a><\/p>\n<p>Perang Ketupat ini juga merupakan salah satu ritual yang diyakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas semua berkah yang selama ini telah diberikan.<\/p>\n<p>Kegiatan melempar ketupat ke arah lawan tersebut merupakan bentuk ekspresi, yang maksudnya adalah nasi dan ketupat tersebut dipersembahkan kepada alam semesta.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Setelah selesai prosesi, ketupat-ketupat tersebut akan dinikmati oleh semua masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Ribuan warga meramaikan&nbsp; Tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau Tradisi Perang Ketupat di Desa Kapal, Badung, Bali, Jumat (29\/9\/2023). Tradisi perang ketupat di desa Kapal, Badung Bali ini sudah dimulai sejak tahun 1939 dan telah ditetapkan UNESCO&nbsp; sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2019. Tradisi perang ketupat di Bali ini digelar setiap setahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":21472,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[496,5500,759],"class_list":["post-21471","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bali","tag-perang-ketupat","tag-tradisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21471","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21471"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21471\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21472"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21471"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21471"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21471"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}