{"id":22108,"date":"2026-07-30T02:34:21","date_gmt":"2026-07-30T02:34:21","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22108"},"modified":"2026-07-30T02:34:21","modified_gmt":"2026-07-30T02:34:21","slug":"epidemiolog-penyemprotan-air-kurang-efektif-atasi-polusi-udara-di-jakarta-justru-bahayakan-kesehatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22108","title":{"rendered":"Epidemiolog: Penyemprotan Air Kurang Efektif Atasi Polusi Udara di Jakarta Justru Bahayakan Kesehatan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Untuk menurunkan kadar PM 2,5 yang memicu polusi udara di Jakarta, Pemprov DKI Jakarta melakukan penyemprotan air di jalan protokol.<\/p>\n<p>Penyemprotan air ini&nbsp;diklaim dapat mengatasi polusi udara di Jakarta yang beberapa bulan ini sangat buruk.<\/p>\n<p>Namun, epidemiolog dari Fakultas&nbsp;Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) Pandu Riono menilai, alih-alih mengurangi polusi udara penyemprotan ini justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242879264\/berbagai-opsi-jangka-pendek-atasi-polusi-udara-di-jakarta\">Berbagai Opsi Jangka Pendek Atasi Polusi Udara di Jakarta<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Karena disemprot air malah memperburuk partikel udara (PM 2,5). Kalau disemprot dengan air&nbsp;bertekanan tinggi bisa terjadi aerolisasi, jadi partikular itu menguap dan bisa lebih&nbsp;dahsyat efeknya kalau dihirup,&#8221; ujar&nbsp; Pandu seperti yang dikutip&nbsp;Antaranews pada Jumat (25\/08\/2023).<\/p>\n<p>Pandu menambahkan, polusi udara mengandung partikel kecil yang&nbsp;disebut PM 2,5 atau yang lebih kecil lagi berukuran 10 mikron (PM10), serta&nbsp;polusi dari hasil pembakaran energi sulfur oksigen (SO2).<\/p>\n<p>Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan tak bisa dianggap remeh. Sebab cemaran udara tidak hanya bersarang di paru-paru.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/242879665\/masker-dan-makanan-sehat-jadi-solusi-tuk-kurangi-dampak-polusi-udara-pada-kesehatan\">Masker dan Makanan Sehat Jadi Solusi tuk Kurangi Dampak Polusi Udara pada Kesehatan.<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Tapi juga bisa memicu efek alergi,&nbsp;mudah sakit, mengganggu sistem kerja jantung dan susunan organ lain, karena&nbsp;menyebar ke semua sistem tubuh.<\/p>\n<p>&#8220;Tekanan tinggi air bisa memecah partikel polusi jadi lebih halus dan masuk ke<br \/>dalam pernapasan lebih mudah lagi tanpa kita sadari. Aerolisasi itu seperti<br \/>menyemprot ketiak kita dengan antibau badan, itu aerolisasi tingkat tinggi,&#8221; ujar Pandu.<\/p>\n<p>Nah, partikulat yang terbelah menjadi ukuran lebih kecil tersebut cenderung lebih<br \/>mudah mengambang dan terbang hingga ke dalam rumah penduduk, sehingga<br \/>usulan untuk bekerja dari rumah (WFH) pun tidak efektif.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242801047\/klhk-segel-empat-perusahaan-yang-terindikasi-sebagai-biang-polusi-udara\"> KLHK Segel Empat Perusahaan yang Terindikasi sebagai Biang Polusi Udara<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;WFH tidak ada gunanya. Bahkan, kerja di rumah juga polusi masuk ke dalam<br \/>rumah, karena kontributor terbesar mungkin bukan dari emisi transportasi, ada<br \/>yang lebih daripada itu,&#8221; ujar Pandu.<\/p>\n<p>Pandu yang bergabung dalam Tim Serologi Survei Antibodi COVID-19 ini<br \/>mengatakan upaya penyemprotan air bertekanan tinggi secara sistematik pada<br \/>saat krisis kesehatan akibat COVID-19 tidak pernah disarankan oleh ilmu<br \/>pengetahuan manapun.<\/p>\n<p>Memang, lanjut Pandu, polusi udara yang terjadi di wilayah Jabodetabek dan<br \/>sekitarnya ini merupakan dampak yang tidak bisa dihindari dari kondisi<br \/>pemulihan ekonomi di era endemi.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242763656\/wfh-belum-berdampak-signifikan-dalam-menurunkan-polusi-udara-di-jakarta\">WFH Belum Berdampak Signifikan dalam Menurunkan Polusi Udara di Jakarta <\/a><\/strong><\/p>\n<p>Polusi ini, ujar Pandu,&nbsp; sudah berbulan-bulan sejak dikatakan pandemi selesai, orang kembali beraktivitas, pabrik menggenjot ekspor, semuanya pemulihan.<\/p>\n<p>&#8220;Ada sumber energi baru menggunakan fosil, jadilah Jabodetabek dan mungkin juga kota lain terjadi polusi,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Seperti yang diwartakan sebelumnya, sejak Rabu (23\/08\/2023) Polda Metro Jaya<br \/>mengerahkan 4 unit kendaraan water cannon Brimob untuk menyemprot kedua<br \/>sisi jalan protokol Jenderal Sudirman hingga ke Bundaran Senayan, Jakarta<br \/>Pusat.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242879372\/el-nino-percepat-laju-lelehnya-salju-abadi-gunung-puncak-jaya\">El Nino Percepat Laju Lelehnya Salju Abadi Gunung Puncak Jaya <\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan<br \/>penyemprotan ini sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak polusi<br \/>udara ini.<\/p>\n<p>&ldquo;Maka itu, Polri, khususnya Polda Metro Jaya, melakukan kesiapan&nbsp;dengan pengecekan kendaraan taktis water cannon dan kemudian melakukan&nbsp;penyemprotan jalan protokol guna mengurangi dampak polusi udara di Jakarta,&rdquo;&nbsp;jelas Trunoyudo kepada wartawan, Kamis (24\/8\/2023).<\/p>\n<p>Selain di Jalan Jenderal Sudirman, penyemprotan juga dilakukan di Jalan&nbsp;Merdeka Barat Monas dengan bekerjasama dengan dinas operasional Pemadam Kebakaran serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta.<\/p>\n<p>Reporter: Nurakhmayani.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Untuk menurunkan kadar PM 2,5 yang memicu polusi udara di Jakarta, Pemprov DKI Jakarta melakukan penyemprotan air di jalan protokol. Penyemprotan air ini&nbsp;diklaim dapat mengatasi polusi udara di Jakarta yang beberapa bulan ini sangat buruk. Namun, epidemiolog dari Fakultas&nbsp;Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) Pandu Riono menilai, alih-alih mengurangi polusi udara penyemprotan ini justru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":22109,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9,402],"class_list":["post-22108","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-jakarta","tag-polusi-udara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22108","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=22108"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22108\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/22109"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=22108"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=22108"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=22108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}