{"id":22330,"date":"2026-07-30T02:35:44","date_gmt":"2026-07-30T02:35:44","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22330"},"modified":"2026-07-30T02:35:44","modified_gmt":"2026-07-30T02:35:44","slug":"cara-pengolahan-sampah-organik-menjadi-kompos-bisa-dilakukan-sendiri-di-rumah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22330","title":{"rendered":"Cara Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos, Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Menghadapi kedaruratan sampah di Yogyakarta, relawan&nbsp;Sambatan Jogja atau SONJO bekerja sama dengan UGM menggelar pelatihan pengolahan sampah organik.&nbsp;<\/p>\n<p>Pelatihan pengolahan sampah diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari sejumlah rumah sakit dan pesantren yang tergabung dalam SONJO.<\/p>\n<p>Selama tiga hari, 7-9 Agustus 2023 para peserta mengikuti pelatihan pengelolaan dan pengolahan sampah organik di Fakultas Biologi UGM.<\/p>\n<p>Sedangkan pelatihan pengolahan sampah anorganik dilakukan&nbsp; Fakultas Kedokteran Gigi UGM.<\/p>\n<p>Bagi relawan SONJO ini sebagai bentuk peran aktif UGM dalam mengatasi masalah sampah di Yogyakarta.&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242441533\/antisipasi-larangan-plastik-sekali-pakai-ekosistem-guna-ulang-harus-dibangun-dari-sekarang\">Baca: Sistem guna ulang antisipasi larangan sampah sekali pakai<\/a><\/p>\n<p>Founder SONJO yang juga Dosen FEB UGM, Rimawan Pradiptyo mengatakan,&nbsp;Warga DIY khususnya Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta mengalami darurat sampah akibat penutupan TPA Regional Piyungan pada 23 Juli 2023 lalu.<\/p>\n<p>Melihat hal tersebut SONJO hadir dengan mendorong pemilihan dan pemilahan sampah yang dapat dilakukan di level rumah tangga dan dasawisma.<\/p>\n<p>&#8220;Salah satunya dengan memberikan pelatihan pengelolaan dan pengolahan sampah ini,&#8221; ujarnya sebagaimana dikutip ugm.ac.id<\/p>\n<p>Dalam pelatihan ini, Fakultas Biologi UGM mengenalkan sejumlah teknologi sederhana pengolahan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Teknologi ini harapannya nanti dapat dipraktikkan oleh masyarakat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/241225622\/menyoal-galon-sekali-pakai-solusi-atau-persoalan-untuk-sampah-plastik\">Baca: Menyoal galon sekali pakai dan masalah bagi lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, menyebutkan sejak tahun 2017 silam Fakultas Biologi UGM telah menangani persoalan sampah organik dengan beragam pendekatan.<\/p>\n<p>Pendekatan yang digunakan adalah pengolahan sampah melalui vermicomposting, pupuk cair organik (poc), eco enzim, pengomposan, serta pemakaian biofertilizer dari urine ternak.<\/p>\n<p>&ldquo;Persoalan sampah ini kan berasal dari diri kita sendiri sehingga harus diselesaikan sendiri. Kami di Biologi UGM setiap hari mengolah minimal 25 kilogram sampah organik,&#8221; paparnya, Senin (7\/8) saat membuka pelatihan Pengolahan Sampah di Fakultas Biologi UGM.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24701669\/mendulang-cuan-dari-model-ekonomi-sirkular\">Baca: Mendulang uang dari pengolahan sampah<\/a><\/p>\n<p>Pengalaman pengelolaan dan pengolahan sampah dibagikan dengan harapan bisa membantu dalam menjaga kebersihan dan keberlangsungan lingkungan.<\/p>\n<p>Upaya pengelolaan sampah dengan perpektif ramah lingkungan dan berkelanjutan ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).<\/p>\n<p>Dalam kesempatan itu, peserta mendapatkan pemaparan tentang cara pengolahan sampah menjadi pupuk dengan memanfaatkan biofertilizer. Pemaparan dilakukan oleh Dosen Fakultas Biologi UGM, Dwi Umi Siswanti.<\/p>\n<p>Dijelaskan, dalam pengolahan sampah organik menjadi kompos memanfaatkan sembilan spesies mikrobia. Penambahan biofertilizer menjadikan proses degradasi berlangsung lebih cepat ketimbang cara konvensional.<\/p>\n<p>&ldquo;Prosesnya tidak terlalu lama, yang biasanya butuh waktu 2 minggu bahkan lebih. Namun, dengan penambahan biofertilizer proses komposting bisa lebih cepat,&rdquo; jelasnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24924190\/insectta-start-up-dari-singapura-ubah-sampah-makanan-jadi-produk-bernilai-tinggi\">Baca: Insectta mengubah sampah makanan menjadi bahan bernilai tinggi<\/a><\/p>\n<p>Cara aplikasi biofertilizer pun tergolong sederhana. Cukup dengan mengencerkan&nbsp; biofertilizer dengan rasio biofertilizer dan air 1:11.<\/p>\n<p>Selanjutnya cairan dimasukan ke dalam sprayer lalu disemprotkan ke sampah yang sudah dicacah kemudian ditutup terpal.<\/p>\n<p>Setiap dua hari sekali terpal dibuka dan sampah cacah dibalik kemudian ditutup kembali.<\/p>\n<p>Hal tersebut terus diulang sampai 2 minggu dan setelah itu pupuk kompos siap untuk dikeringkan atau diangin-anginkan kemudian diayak untuk siap dikemas.<\/p>\n<p>&ldquo;Proses komposting ini efisien dan ramah lingkungan. Sampah bisa diubah jadi kompos maupun pupuk cair yang kaya nutrisi,&rdquo; terangnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24682913\/seperti-ini-dampak-sampah-makanan-pada-lingkungan\">Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Sementara Sukirno, memaparkan cara pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik cair dengan metode vermicomposting dengan maggot yang berasal dari jenis&nbsp;lalat&nbsp;Black Soldier Fly (BSF).<\/p>\n<p>Untuk memproduksi pupuk organik cair, sisa makanan yang dihasilkan rumah tangga dimasukan dalam digester dalam bentuk ember tumpuk. Selanjutnya limbah organik rumah tangga tersebut difermentasi menggunakan maggot BSF.<\/p>\n<p>&ldquo;BSF ini bisa mempercepat degradasi sampah sehingga fermentasi lebih cepat dan efektif,&rdquo;urainya.<\/p>\n<p>Soenarwan Heri Poerwanto, dalam kesempatan itu menyampaikan tentang metode vermicomposting dengan menggunakan cacing tanah.<\/p>\n<p>Sampah organik dari limbah pertanian, perkebunan, maupun peternakan bisa diolah menjadi pupuk organik dengan menambahkan cacing tanah sebagai agen untuk mendegradasi sampah yang ada.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24574009\/mengenal-teba-cara-unik-warga-bali-mengelola-sampah-rumah-tangga\">Baca: Teba, cara unik warga Bali mengolah sampah rumah tangga<\/a><\/p>\n<p>Pembuatan pupuk tergolong mudah. Pertama, limbah organik dihancurkan menjadi partikel kecil terlebih dahulu. Lalu, disebar di tempat rata dengan ketinggian antara 20-30 cm untuk ditaburkan cacing tanah.<\/p>\n<p>Upayakan kondisinya media dalam keadaan lembab saat dimasukkan cacing tanah.<\/p>\n<p>&ldquo;Cacing tanah ini memiliki kemampuan degradasi sampah organik dalam 24 jam seberat berat tubuh. Hasilnya adalah granul dari cacing tanah yang bisa dipakai menjadi pupuk,&rdquo; ungkapnya.<\/p>\n<p>Kelebihan dari metode ini, dikatakan Heri, pupuknya dapat digunakan di bidang pertanian.<\/p>\n<p>Sementara biomasa cacing tanah bisa dimanfaatkan sebagai sumber protein di bidang perikanan dan peternakan sebagai campuran pakan ikan maupun ternak.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/241769182\/teknologi-pengelolaan-sampah-masaro-mengubah-1-kilogram-sampah-jadi-senilai-1-gram-emas\">Baca: Teknologi Masaro, ubah sekilo sampah jadi senilai satu gram emas<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Menghadapi kedaruratan sampah di Yogyakarta, relawan&nbsp;Sambatan Jogja atau SONJO bekerja sama dengan UGM menggelar pelatihan pengolahan sampah organik.&nbsp; Pelatihan pengolahan sampah diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari sejumlah rumah sakit dan pesantren yang tergabung dalam SONJO. Selama tiga hari, 7-9 Agustus 2023 para peserta mengikuti pelatihan pengelolaan dan pengolahan sampah organik di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":22331,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5275,333,5688,2040],"class_list":["post-22330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-organik","tag-pengolahan-sampah","tag-sonjo","tag-ugm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=22330"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22330\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/22331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=22330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=22330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=22330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}