{"id":22476,"date":"2026-07-30T02:36:35","date_gmt":"2026-07-30T02:36:35","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22476"},"modified":"2026-07-30T02:36:35","modified_gmt":"2026-07-30T02:36:35","slug":"kenali-beragam-jenis-tanaman-bakau-di-kebun-raya-mangrove-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22476","title":{"rendered":"Kenali Beragam Jenis Tanaman Bakau di Kebun Raya Mangrove Surabaya"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kebun Raya Mangrove Surabaya yang baru dibuka pada Rabu (26\/7\/2023) merupakan kebun raya yang terunik di antara 45 kebun raya yang ada di seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Hal ini karena Kebun Raya Mangrove Surabaya menjadi satu-satunya kebun raya yang dikhususkan untuk tanaman mangrove atau bakau.<\/p>\n<p>Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kota Surabaya mencatat, Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki koleksi 57 dari 157 jenis mangrove yang ada di dunia.<\/p>\n<p>Saat ini juga tengah dilakukan eksplorasi tiga jenis mangrove baru yang akan menambah koleksi tanaman bakau atau mangrove di Kebun Raya Mangrove Surabaya ini.<\/p>\n<p>Koleksi tanaman bakau di Kebun Raya mangrove Surabaya di antaranya adalah bakau hitam, bakau merah, bakau minyak, tanjang merah, tanjang putih, bakau jeruk hulu, api-api.<\/p>\n<p>Kebun Raya Mangrove Srabaya juga memiliki koleksi waru, pidada merah\/bogem, gedang-gedangan, waru laut, jeruju hitam, ketower, paku laut, bintaro, alur kebo, hingga kurma rawa.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/241811737\/hutan-mangrove-surabaya-dikembangkan-jadi-kebun-raya-demi-manfaat-ekologis-dan-ekonominya\">Baca: Mengenal manfaat ekologis dan manfaat ekonomi hutan bakau<\/a><\/p>\n<p>Dilansir Antaranews, Kebun Raya Mangrove Surabaya juga sudah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti wisata edukasi mangrove, jogging track sepanjang 630 meter, menara pantau setinggi 12 meter, dermaga perahu, picnic ground, hingga wisata perahu.<\/p>\n<p>Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2019, kebun raya menjadi pusat konservasi eksitu atau pelestarian di luar habitat aslinya. Selain itu juga sebagai konservasi insitu untuk berbagai biodiversitas atau keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p>Terkait pelestarian ini, peran BRIN tidak sekadar melakukan konservasi, namun juga menyiapkan bagaimana memanfaatkan biodiversitas itu menjadi obat, pangan, hingga berbagai teknologi canggih, seperti halnya yang dilakukan Kebun Raya Cibinong.<\/p>\n<p>Di sana ada sentra pemanfaatan biodiversitas.&nbsp;Harapannya segala jenis biota flora dan fauna yang ada di Kebun Raya Mangrove bisa juga dimanfaatkan, seperti halnya ada mikroba di kebun raya itu yang diharapkan dapat digunakan sebagai obat kanker.<\/p>\n<p>Dengan demikian kebun raya mangrove Surabaya ini tidak hanya sebagai upaya konservasi, tapi akan menjadi soko guru perekonomian berbasis ekonomi kreatif, berbasis riset Indonesia ke depan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/241787020\/ekosistem-lamun-punya-peran-penting-jernihkan-kawasan-pesisir-tapi-sering-diabaikan\">Baca: Mengenal ekosistem lamun yang mampu serap polusi laut<\/a><\/p>\n<p>Pemerintah Kota Surabaya akan menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai objek wisata ikonik untuk menarik wisatawan, sekaligus menjadikan kawasan wisata edukasi dan penelitian.<\/p>\n<p>Saat ini telah dilakukan penataan kawasan serta pembaruan konsep dari wisata alam bernama Kebun Raya mangrove Surabaya tersebut.<\/p>\n<p>Untuk wilayah Mangrove Gunung Anyar akan fokus pada wahana perahu atau susur sungai, dengan memperlihatkan sisi eksotisme.<\/p>\n<p>Sepanjang susur sungai itu, wisatawan bakal melihat 57 spesies tumbuhan mangrove dan 28 jenis burung. Selain menggunakan perahu, nantinya saat susur sungai juga disediakan jet ski.<\/p>\n<p>Nantinya, hutan bakau Gunung Anyar dan hutan bakau Medokan Sawah akan terhubung dengan jembatan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24988339\/kebijakan-ekspor-pasir-laut-mengancam-kehidupan-nelayan-dan-ekosistem-pesisir\">Baca: Ekspor pasir laut ancam kelestarian ekosistem pesisir<\/a><\/p>\n<p>Wisatawan yang datang ke Kebun Raya Mangrove Surabaya bisa mencoba sejumlah wahana, seperti susur sungai dengan perahu, sepeda air, ATV, serta titiik-titik foto, dan kuliner.<\/p>\n<p>Hutan bakau Gunung Anyar juga akan dilengkapi auditorium dan ruangan pameran, sehingga wisatawan bisa melihat berbagai spesies tumbuhan mangrove maupun satwa di dua kawasan tersebut.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu, pembaruan konsep wisata tersebut bisa menjadi tempat edukasi dan penelitian tentang keindahan alam di Kota Pahlawan.<\/p>\n<p>Meski demikian, Pemkot Surabaya juga tetap harus memperhatikan nasib warga sekitar lokasi Kebun Raya Mangrove Surabaya ini.<\/p>\n<p>Keterlibatan warga setempat, khususnya dari keluarga miskin untuk dipekerjakan di wisata itu juga penting, sebagai upaya mengentaskan kemiskinan di Kota Pahlawan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/241735082\/nelayan-masih-terpinggirkan-ekonomi-biru-harus-diperjuangkan\">Baca: Nasib nelayan kian terpinggirkan, ekonomi biru makin dibutuhkan<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kebun Raya Mangrove Surabaya yang baru dibuka pada Rabu (26\/7\/2023) merupakan kebun raya yang terunik di antara 45 kebun raya yang ada di seluruh Indonesia. Hal ini karena Kebun Raya Mangrove Surabaya menjadi satu-satunya kebun raya yang dikhususkan untuk tanaman mangrove atau bakau. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kota Surabaya mencatat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":22477,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5499,5729],"class_list":["post-22476","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bakau","tag-kebun-raya-mangrove-surabaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22476","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=22476"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22476\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/22477"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=22476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=22476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=22476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}