{"id":22785,"date":"2026-07-30T02:38:50","date_gmt":"2026-07-30T02:38:50","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22785"},"modified":"2026-07-30T02:38:50","modified_gmt":"2026-07-30T02:38:50","slug":"belanda-meminta-maaf-atas-praktik-perbudakan-yang-dilakukan-di-masa-lalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=22785","title":{"rendered":"Belanda Meminta Maaf atas Praktik Perbudakan yang Dilakukan di Masa Lalu"},"content":{"rendered":"<div id=\"main\" class=\"header-big\">\n<header class=\"header-wrapper clearfix\">\n<div class=\"header-mid navbar-collapse collapse\">&nbsp;<\/div>\n<\/header>\n<div id=\"main-container\" class=\"container main-wrapper\">\n<div class=\"main-content mag-content clearfix\">\n<div class=\"row blog-content\" data-stickyparent=\"\">\n<div class=\"col-md-8\" data-stickycolumn=\"\">\n<article class=\"post-wrapper clearfix\">\n<header class=\"post-header clearfix\">\n<figure class=\"image-overlay\"> <!--img1--> <\/figure>\n<div class=\"wp-caption\">\n<p class=\"wp-caption-text\">Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti saat kunjungi Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta pada 2020. ANTARA\/Akbar Nugroho Gumay\/nz<\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/header>\n<div class=\"post-content clearfix\"><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Raja Belanda Willem-Alexander pada Sabtu (1\/7\/2023) meminta maaf atas keterlibatan negaranya &nbsp;dalam perbudakan pada masa lampau yang dampaknya masih terasa hingga sekarang.<\/p>\n<p>Permintaan maaf tersebut disampaikan Raja dalam upacara peringatan 160 tahun penghapusan secara legal perbudakan di Belanda, termasuk di negara-negara bekas jajahannya di Karibia.<\/p>\n<p>&#8220;Pada hari ini saat kita mengenang sejarah perbudakan Belanda, saya memohon maaf atas kejahatan terhadap kemanusiaan ini,&#8221; kata sang raja.<\/p><\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\">&nbsp;<\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/24570955\/mengenal-kota-kupang-dari-lai-kopan-yang-diperebutkan-belanda-dan-portugis\">Baca: Kupang, kota yang pernah diperebutkan penjajah Belanda dan Portugis<\/a><\/p>\n<p>Antaranews.com mengutip Reuters melaporkan Rute menyebut rasisme dalam masyarakat Belanda masih menjadi masalah yang tak kunjung selesai. &nbsp;Dia menyadari tidak semua orang bersedia menerima permintaan maafnya.<\/p>\n<p>Namun &#8220;waktu telah berubah dan Keti Koti &#8230; rantai (perbudakan) benar-benar telah terputus,&#8221; kata dia, &nbsp;disambut sorak-sorai dan tepuk tangan dari ribuan penonton di monumen perbudakan nasional di Oosterpark Amsterdam, ibu kota Belanda.<\/p>\n<p>&#8220;Keti Koti&#8221; adalah kata dalam bahasa Suriname yang berarti &#8216;memutus rantai&#8217;. Keti Koti dijadikan sebagai nama hari peringatan perbudakan dan perayaan kebebasan yang diperingati setiap 1 Juli di Belanda.<\/p><\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\">&nbsp;<\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/241030670\/sejarah-jakarta-berawal-dari-sunda-kelapa-jayakarta-batavia-lantas-jadi-jakarta\">Baca: Sejarah Jakarta dalam melawan kolonialisme Belanda<\/a><\/p>\n<p>Permintaan maaf dari Raja Belanda itu disampaikan di tengah renungan yang meluas tentang masa lalu kolonialisme Belanda, termasuk keterlibatan Amsterdam dalam perdagangan budak Atlantik dan perbudakan di negara-negara bekas jajahannya di Asia.<\/p>\n<p>Pada 2020, Willem-Alexander juga telah meminta maaf kepada Indonesia atas &#8220;kekerasan berlebihan&#8221; selama penguasaan kolonial Belanda.<\/p>\n<p>Pada Desember, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengakui negaranya bertanggung jawab dalam perdagangan budak Atlantik yang membawa keuntungan bagi negaranya sehingga dia pun meminta maaf.<\/p><\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\">&nbsp;<\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/24873148\/aktivisme-lokal-perempuan-untuk-lingkungan-global\">Baca: Gerakan perempuan bagi lingkungan global<\/a><\/p>\n<p>Rutte menyatakan pemerintah Belanda tidak akan membayar biaya ganti rugi, seperti yang telah direkomendasikan panel penasihat pada 2021.<\/p>\n<p>Sebuah studi atas permintaan pemerintah Belanda yang diterbitkan &nbsp;bulan lalu mendapati fakta bahwa Belanda untung sekitar 600 juta dolar AS (Rp9 triliun) dari penjajahan pada 1675-1770.<\/p>\n<p>Sebagian besar keuntungan tersebut didapat dari &nbsp;laba perdagangan rempah-rempah Perusahaan Hindia Timur Belanda.<\/p><\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\">&nbsp;<\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24703011\/negara-akui-suku-punan-batu-sebagai-masyarakat-hukum-adat\">Baca: Pemerintah akui masyarakat adat Punan Batu<\/a><\/p>\n<p>Royal House pada Desember lalu telah memerintahkan penyelidikan independen terhadap peran Keluarga Kerajaan dalam sejarah kolonial Belanda yang hasilanya bisa didapatkan pada 2025.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"post-content clearfix\">Indonesia sendiri pernah menjadi jajahan Belanda selama hampir 3,5 abad atau 350 tahun.&nbsp;<\/div>\n<\/article><\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti saat kunjungi Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta pada 2020. ANTARA\/Akbar Nugroho Gumay\/nz 7cloud.asia &#8211; Raja Belanda Willem-Alexander pada Sabtu (1\/7\/2023) meminta maaf atas keterlibatan negaranya &nbsp;dalam perbudakan pada masa lampau yang dampaknya masih terasa hingga sekarang. Permintaan maaf tersebut disampaikan Raja dalam upacara peringatan 160 tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":22786,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5789],"class_list":["post-22785","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-belanda"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22785","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=22785"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/22785\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/22786"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=22785"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=22785"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=22785"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}