{"id":23173,"date":"2026-07-30T02:41:52","date_gmt":"2026-07-30T02:41:52","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=23173"},"modified":"2026-07-30T02:41:52","modified_gmt":"2026-07-30T02:41:52","slug":"riset-usia-16-24-tahun-adalah-masa-kritis-untuk-kesehatan-mental","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=23173","title":{"rendered":"Riset: Usia 16-24 Tahun Adalah Masa Kritis untuk Kesehatan Mental"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> 7cloud.asia<\/strong> &#8211; Masa transisi dari remaja menuju ke dewasa &ndash; yaitu antara usia 16-24 tahun &ndash; merupakan masa kritis bagi kesehatan mental seseorang.<\/p>\n<p>Masa transisi ini sangat menentukan kesehatan mental seseorang, karena di masa ini seseorang dihadapkan pada banyak tantangan dan pengalaman baru.&nbsp;<\/p>\n<p>Selain mulai memiliki legalitas hukum dan tanggung jawab yang meningkat, remaja di periode ini juga masih mengalami perkembangan biologis, psikologis, dan emosional yang sangat besar pengaruhnya bagi kesehatan mental mereka.<\/p>\n<p>Masa kritis untuk kesehatan mental ini akan berlangsung hingga usia 20an. Dan, jika tidak tertangani dengan baik maka akan sangat menentukan kesehatan mental seseorang.&nbsp;<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<p>Sebuah riset yang dilakukan peneliti dari Universitas Indonesia (UI) pada 2021 terhadap 393 remaja berusia 16-24 tahun memperkuat asumsi tentang masa kritis bagi kesehatan mental&nbsp;di atas. Laporannya diunggah di The Conversation.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<div id=\"_popIn_recommend_word\">Hasil riset ini&nbsp; didukung temuan Badan Kesehatan Dunia (<em>World Health Organization<\/em>&nbsp;(WHO)) yang mengatakan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/abs\/pii\/S1056499317300019?via%3Dihub\">1 dari 4 remaja<\/a>&nbsp;di usia ini menderita gangguan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.halopedeka.com\/tag\/kesehatan-mental\">kesehatan mental<\/a>.<\/div>\n<div>&nbsp;<\/div>\n<div><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24572492\/perbanyak-jalan-kaki-di-kotamu-dan-rasakan-manfaatnya-untuk-kesehatan-fisik-dan-mental\">Baca: Jalan kaki itu bagus untuk kesehatan fisik dan mental<\/a><\/div>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<p>Penyebab gangguan kesehatan mental ini beragam. Mulai dari aktifnya hormon reproduksi,&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC2500212\/pdf\/nihms56150.pdf\">perkembangan otak<\/a>&nbsp;yang terus berlangsung, serta pembentukan identitas diri mereka. Hal ini tentu dapat disertai&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.jaacap.org\/article\/S0890-8567(13)00331-6\/pdf\">ketidakstabilan emosi<\/a>&nbsp;atau pengambilan keputusan yang sering kali impulsif.&nbsp;<\/p>\n<p>Penelitian itu menemukan bahwa banyak remaja Indonesia di periode transisi ini mengalami tantangan beradaptasi terhadap kehidupan mereka yang mulai berubah.<\/p>\n<p>Para remaja juga kesulitan mengatur waktu dan keuangan pribadi, serta mengalami peningkatan rasa kesepian saat belajar dan merantau di kota yang jauh dari tempat tinggal.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24683470\/kesehatan-mental-makin-penting-perlu-sosialisasi-sejak-dini\">Baca: Pentingnya sosialisasi kesehatan mental sejak dini<\/a><\/p>\n<p><strong>Usia 16-24 tahun adalah periode kritis<\/strong><\/p>\n<p>Riset di atas, yang dilakukan oleh tim Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Fakultas Kesehatan di Universitas Indonesia, mencoba untuk&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/1660-4601\/18\/8\/4046\/htm\">memetakan keresahan mental remaja di periode transisi 16-24 tahun<\/a>&nbsp;dari seluruh Indonesia &ndash; terutama mahasiswa tahun pertama &ndash; melalui survey&nbsp;<em>online<\/em>.<\/p>\n<p>Sebanyak 95,4% responden menyatakan bahwa mereka pernah mengalami gejala kecemasan (<em>anxiety<\/em>), dan 88% pernah mengalami gejala depresi dalam menghadapi permasalahan selama di usia ini.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<p>Selain itu, dari seluruh responden, sebanyak 96,4% menyatakan kurang memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang sering mereka alami.<\/p>\n<p>Pada periode ini, misalnya, banyak remaja tiba-tiba harus menjelajahi lingkungan yang baru, lingkaran pertemanan yang semakin luas, tuntutan pendidikan atau karier yang semakin berat, hingga budaya yang bisa jadi sangat berbeda &ndash; disertai dengan berbagai masalah dan konflik yang&nbsp;<a href=\"https:\/\/theconversation.com\/patriotisme-moralisme-kapitalisme-tiga-ideologi-kuat-dalam-sistem-pendidikan-yang-mempengaruhi-kesehatan-mental-anak-muda-indonesia-165751\">kerap<\/a>&nbsp;<a href=\"https:\/\/theconversation.com\/4-hambatan-capaian-akademik-mahasiswa-indonesia-timur-saat-kuliah-di-kota-besar-di-jawa-dan-sumatra-165172\">muncul<\/a>&nbsp;dari berbagai perubahan ini.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<p>Penyelesaian masalah yang paling sering mereka lakukan adalah bercerita pada teman (98,7%), menghindari masalah tersebut (94,1%), mencari informasi tentang cara mengatasi masalah dari internet (89,8%).<\/p>\n<p>Namun, sebagian juga berakhir dengan menyakiti diri mereka sendiri (51,4%), atau bahkan menjadi putus asa serta ingin mengakhiri hidup (57,8%).<\/p>\n<p>Berbagai masalah yang dalam masa transisi ini berisiko tinggi menjadi lebih buruk di kemudian hari apabila tidak ditangani dengan optimal.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24593434\/kondisi-lingkungan-besar-pengaruhnya-bagi-penderita-asma-begini-saran-dokter\">Baca: Kondisi lingkungan besar pengaruhnya bagi pasien asma<\/a><\/p>\n<p><strong>Tidak banyak yang mencari bantuan<\/strong><\/p>\n<p>Meskipun remaja periode transisi amat rentan mengalami masalah kesehatan mental, namun&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.childtrends.org\/wp-content\/uploads\/2013\/04\/Child_Trends-2013_01_01_AHH_MHAccessl.pdf\">tidak banyak dari kelompok ini<\/a>&nbsp;yang mengakses layanan kesehatan jiwa.<\/p>\n<p>Kurangnya layanan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.halopedeka.com\/tag\/kesehatan-mental\">kesehatan mental<\/a>&nbsp;di Indonesia &ndash; hanya sekitar&nbsp;<a href=\"https:\/\/theconversation.com\/terapi-online-berpotensi-menurunkan-tingkat-depresi-90553\">0,29 psikiater dan 0,18 psikolog<\/a>&nbsp;per 100.000 penduduk &ndash; juga membawa tantangan tersendiri.<\/p>\n<p>Tapi, faktor lain yang juga menjadi penghambat, antara lain adalah layanan yang kurang sesuai dengan kebutuhan remaja di usia mereka.<\/p>\n<div id=\"_popIn_recommend_word\">Dalam studi tersebut terungkap, para remaja mengatakan bahwa mereka mengharapkan layanan bantuan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.halopedeka.com\/tag\/kesehatan-mental\">kesehatan mental<\/a>&nbsp;yang menjamin kerahasiaan (99,2%), tidak menghakimi (98,5%), berkelanjutan untuk periode waktu tertentu (96%), serta dapat diakses online (84,5%).<\/div>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<p>Mereka juga merasa berbagai layanan yang ada diisi oleh tenaga profesional yang kurang ramah (99,2%) dan belum terbuka untuk mendengarkan segala permasalahan yang mereka alami (99%).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24565014\/pro-kontra-penggunaan-ganja-untuk-pengobatan-ini-penjelasannya\">Baca: Mengapa ganja masih dilarang untuk pengobatan<\/a><\/p>\n<p>Stigma negatif tentang kesehatan mental yang berkembang di masyarakat, juga semakin menghambat remaja untuk mencari bantuan ke layanan kesehatan jiwa.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<p>Beberapa remaja usia transisi, misalnya, mengatakan&nbsp;<a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1007\/s00787-019-01469-4\">takut menceritakan ke orang tua atau orang terdekat<\/a>&nbsp;bahwa mereka datang ke layanan kesehatan mental&nbsp;karena takut dianggap sebagai orang dengan gangguan jiwa berat atau &ldquo;kurang iman&rdquo;.<\/p>\n<p>Selain itu, jawaban dari para responden kami juga mengindikasikan ada masalah kurangnya pengetahuan remaja usia transisi tentang masalah layanan kesehatan mental&nbsp;dan kemana mencari bantuan.<\/p>\n<p>Padahal, pemahaman remaja di periode ini tentang kesehatan mental&nbsp;sangat penting agar mereka dapat&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.jaacap.org\/article\/S0890-8567(13)00331-6\/pdf\">mengidentifikasi masalah sejak dini<\/a>, sehingga mendapatkan bantuan yang sesuai.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\">&nbsp;<\/div>\n<p>Meningkatnya ketahanan mental (<em>resilience<\/em>) seseorang pada periode ini akan berdampak positif tidak hanya terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan mereka, tapi juga keberhasilan mereka secara akademis, di lingkungan kerja, dan masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Masa transisi dari remaja menuju ke dewasa &ndash; yaitu antara usia 16-24 tahun &ndash; merupakan masa kritis bagi kesehatan mental seseorang. Masa transisi ini sangat menentukan kesehatan mental seseorang, karena di masa ini seseorang dihadapkan pada banyak tantangan dan pengalaman baru.&nbsp; Selain mulai memiliki legalitas hukum dan tanggung jawab yang meningkat, remaja di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":23174,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[53],"class_list":["post-23173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-kesehatan-mental"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=23173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/23173\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/23174"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=23173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=23173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=23173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}