{"id":2617,"date":"2026-07-30T00:32:00","date_gmt":"2026-07-30T00:32:00","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2617"},"modified":"2026-07-30T00:32:00","modified_gmt":"2026-07-30T00:32:00","slug":"hari-lamun-sedunia-ekosistem-lamun-indonesia-mampu-serap-sepersepuluh-emisi-karbon-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2617","title":{"rendered":"Hari Lamun Sedunia: Ekosistem Lamun Indonesia Mampu Serap Sepersepuluh Emisi Karbon Nasional"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp;Ekosistem lamun Indonesia memiliki potensi besar dalam menyerap dan menyimpan karbon sehingga berperan penting dalam penanganan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmiana Rahayu mengatakan, data pada 2018 luas padang lamun di tanah air berkisar 875.967 hingga 1.847.341 hektare,<\/p>\n<p>Adapun total karbon yang diserap mencapai 0,26 sampai dengan 0,55 gigaton karbon dioksida ekuivalen (Gt CO2e). Penghitungan tersebut, sebagai gabungan dari kemampuan penyimpanan karbon biomassa dan sedimen dari ekosistem lamun.<\/p>\n<p>&#8220;Kemudian totalnya saya gabungkan setelah dikaitkan luas, mendapatkan 0,26 sampai 0,55 gigaton CO2 ekuivalen,&#8221; katanya dalam diskusi yang diikuti daring dari Jakarta, Senin (2\/3\/2026).<\/p>\n<p>Dia menyoroti potensi besar ekosistem padang lamun jika dibandingkan dengan total emisi gas rumah kaca di Indonesia, yaitu 1,84 Gt CO2e yang dilaporkan pada 2019 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi ini untuk memberikan perbandingan seberapa besar potensi karbon di ekosistem lamun yang kita punya dibandingkan dengan emisi yang terjadi di Indonesia,&#8221; katanya mengacu pada hasil riset yang dilakukan pada 2024.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/247258331\/hari-lamun-sedunia-lima-cara-ekosistem-lamun-menjaga-keanekaragaman-hayati\">Baca: Cara ekosistem lamun menjaga keanekaragaman hayati<\/a><\/p>\n<p>Jumlah itu kemungkinan dapat berubah mengingat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru merilis Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025 pada akhir tahun lalu.<\/p>\n<p>Di mana luasan karang keras secara nasional adalah 838 ribu hektare dan 660 ribu hektare untuk ekosistem padang lamun.<\/p>\n<p>Yusmiana menyoroti bahwa peran karbon biru kini juga semakin penting dalam upaya mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, yang tertuang dalam dokumen iklim <em>National Determined Contribution<\/em> (NDC).<\/p>\n<p>Dengan sektor kelautan dan perikanan, kini sudah diperhitungkan dalam penyelenggaraan nilai ekonomi karbon.<\/p>\n<p>&#8220;Artinya kita perlu data yang lebih siap, karena masih banyak data-data khususnya ekosistem lamun yang dibutuhkan untuk kita bisa menghitung inventarisasi dengan lebih detail,&#8221; demikian Yusmiana Rahayu.<\/p>\n<p><strong>Terancam<\/strong><br \/>Sementara Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Asep Hidayat menyoroti ancaman terhadap ekosistem lamun dari reklamasi dan pencemaran lingkungan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/241787020\/ekosistem-lamun-punya-peran-penting-jernihkan-kawasan-pesisir-tapi-sering-diabaikan\">Baca: Ekosistem lamun berperan penting jernihkan kawasan pesisir<\/a><\/p>\n<p>Asep mengatakan karbon biru memiliki potensi besar untuk menyimpan karbon, termasuk padang lamun dan mangrove, yang semuanya bisa ditemukan di Indonesia meski terdapat ancaman yang dihadapi ekosistem tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Di Indonesia potensi karbon biru di padang lamun diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta karbon. Menjadikan aset penting bagi strategi mitigasi dan perubahan iklim nasional dan sumber ekonomi ke depan,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Tekanan pembangunan di pesisir, sedimentasi yang terus terjadi, ujarnya, terjadi bukan hanya karena begitu saja, tetapi ada konversi di daerah hulu dan lain-lain sehingga ini mengalir ke daerah pesisir.<\/p>\n<p>Selain itu terdapat pula ancaman dari pencemaran lingkungan dan penangkapan yang tidak ramah lingkungan, selain juga dampak perubahan iklim seperti suhu permukaan laut yang meningkat.<\/p>\n<p>Dalam diskusi yang sama, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN Nurul Dhewani menyebut ekosistem lamun memiliki sejumlah jasa lingkungan, seperti habitat bagi satwa terancam punah dan lokasi pemijahan serta sumber pangan untuk ikan serta spesies lain, termasuk dugong dan kuda laut.<\/p>\n<p>Dari sisi perikanan, kata dia, ekosistem padang lamun menjadi sumber pendapatan untuk masyarakat pesisir, termasuk menangkap ikan, kepiting, dan kerang.<\/p>\n<p>Untuk itu ancaman dari aktivitas manusia seperti reklamasi, polusi, penangkapan berlebihan dan dengan cara destruktif, selain juga faktor eksternal termasuk perubahan iklim.<\/p>\n<p>Dia mendorong peningkatan upaya pengelolaan, termasuk pembentukan kawasan konservasi lamun, restorasi habitat, dan penyadartahuan tentang peran penting lamun kepada masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Ekosistem lamun Indonesia memiliki potensi besar dalam menyerap dan menyimpan karbon sehingga berperan penting dalam penanganan perubahan iklim. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmiana Rahayu mengatakan, data pada 2018 luas padang lamun di tanah air berkisar 875.967 hingga 1.847.341 hektare, Adapun total karbon yang diserap mencapai 0,26 sampai dengan 0,55 gigaton karbon [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":2618,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1019,17,173],"class_list":["post-2617","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lamun","tag-lingkungan","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2617","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2617"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2617\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2618"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2617"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2617"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2617"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}