{"id":2625,"date":"2026-07-30T00:32:02","date_gmt":"2026-07-30T00:32:02","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2625"},"modified":"2026-07-30T00:32:02","modified_gmt":"2026-07-30T00:32:02","slug":"mengenal-tiga-segmen-sesar-lembang-yang-membayangi-bandung-dan-sekitarnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2625","title":{"rendered":"Mengenal Tiga Segmen Sesar Lembang yang Membayangi Bandung dan Sekitarnya"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Sesar Lembang yang membentang sekitar 29 kilometer di utara Kota Bandung, bukanlah jalur patahan tunggal dengan risiko homogen.<\/p>\n<p>Penyelidikan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terbaru mengungkap bahwa sesar&nbsp;Lembang&nbsp;terbagi menjadi tiga segmen dengan karakteristik geologi, aktivitas, dan potensi gempa yang berbeda, sehingga menuntut strategi mitigasi spesifik dan terukur.<\/p>\n<p>Sukahar Eka Adi Saputra, Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, menjelaskan bahwa setiap segmentasi tersebut memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di Bandung.<\/p>\n<p>&ldquo;Secara keseluruhan, Sesar Lembang merupakan sesar aktif dengan segmentasi yang jelas dan memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung,&#8221; ujarnya, seperti dikutip Antaranews.com, Kamis (26\/2\/2026).<\/p>\n<p>Dia juga menyebut bahwa arah tegasan dominan membentang dari timur laut hingga barat daya serta potensi gempa maksimum diperkirakan mencapai magnitudo 6,5 hingga 7 apabila seluruh segmen bergerak bersamaan.<\/p>\n<p>Berdasarkan paleoseismologi (cabang ilmu geologi yang mempelajari gempa bumi purba), laju geser sesar tersebut berkisar 1,95 hingga 3,45 milimeter per tahun, dengan periode ulang gempa 170 hingga 670 tahun.<\/p>\n<p>&ldquo;Terdapat indikasi gempa besar pernah terjadi pada abad ke-15,&rdquo; kata Sukahar.<\/p>\n<p>Data ini menegaskan perlunya mitigasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing segmen, bukan pendekatan tunggal. Adapun tiga segmen sesar Lembang adalah:<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/daerah\/245112367\/badan-geologi-esdm-selidiki-sesar-aktif-pemicu-gempa-bandung\">Baca: Badan Geologi ESDM selidiki sesar aktif pemicu gempa Bandung<\/a><\/p>\n<p><strong>1. Segmen barat dan offset signifikan<\/strong><br \/>Segmen barat, membentang dari Sungai Cimeta hingga Ngamprah dan Cibaligo, memperlihatkan pola kekar pada lava, kontak lava-breksi, serta manifestasi mata air panas.<\/p>\n<p>Hidayat, Penyelidik Bumi Ahli Muda Badan Geologi, mengatakan bahwa penampang barat terlihat konsisten dengan distribusi gempa mikro yang menunjukkan variasi karakter struktur yang masih aktif.<\/p>\n<p>&ldquo;Dari penampang barat terlihat offset yang jelas dan konsisten dengan distribusi gempa mikro. Hal ini menunjukkan adanya variasi karakter struktur yang masih aktif secara geologis,&rdquo; jelasnya.<\/p>\n<p>Peneliti menggunakan alat Ground Penetrating Radar (GPR) untuk melihat lapisan tanah di bawah permukaan dan hasil pemindaian menemukan lapisan yang tampak bergeser atau tidak sejajar (offset)<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Selain itu, survei magnetik yang telah diolah menunjukkan bagian utara sesar memiliki anomali magnetik rendah, yang menandakan perbedaan kondisi batuan di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Analisis First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) digunakan untuk melihat arah dan pola struktur batuan di bawah permukaan tanah sehingga membantu peneliti mengetahui ke mana jalur sesar atau rekahan memanjang.<\/p>\n<p>Sementara itu, metode 3D Euler Deconvolution digunakan untuk memperkirakan seberapa dalam letak sumber anomali tersebut, misalnya kedalaman patahan atau batas perbedaan batuan di bawah tanah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/daerah\/245108197\/gempa-magnitudo-50-yang-mengguncang-bandung-dipicu-sesar-belum-terpetakan-4483-rumah-rusak\">Baca: Sesar aktif pemicu gempa Bandung belum terpetakan<\/a><\/p>\n<p>Hasil survei gravitasi menunjukkan anomali Bouguer offset, pola gerak mirip Sesar Cimandiri segmen Rajamandala, dan anomali densitas tinggi konsisten dengan keberadaan sesar bawah permukaan.<\/p>\n<p>&ldquo;Segmen barat memiliki karakter yang relatif stabil di permukaan tetapi jelas aktif di bawah tanah,&rdquo; tambah Hidayat.<\/p>\n<p><strong>2. Segmen Tengah: Tegak dan masih aktif<\/strong><br \/>Segmen tengah, dari Maribaya hingga Gunung Batu, memiliki reflektor relatif tegak hingga kedalaman 2.000 meter dan Survei GPR menemukan offset yang menunjukkan aktivitas sesar muda.<\/p>\n<p>&ldquo;Meski tegak, segmen tengah tetap aktif. Survei geofisika menunjukkan reflektor yang dipotong sesar, indikasi aktivitas relatif muda.&rdquo; tegas Hidayat.<\/p>\n<p>Karakter tegak ini berbeda dengan barat yang lebih offset, sehingga meski permukaannya tampak stabil, potensi pelepasan energi gempa tetap ada, menuntut perhatian khusus dalam pembangunan infrastruktur.<\/p>\n<p><strong>3. Segmen timur yang masih muda<\/strong><br \/>Segmen timur, meliputi Gunung Batu hingga Tebing Keraton, menunjukkan fault scarp (tebing atau lereng curam yang terbentuk akibat pergeseran patahan), pergeseran Sungai Cikapundung, dan cermin sesar.<\/p>\n<p>&ldquo;Segmen timur menunjukkan bukti sesar yang relatif muda, termasuk cermin sesar, menunjukkan sejarah aktivitas signifikan,&rdquo; tambahnya.<\/p>\n<p>Wilayah ini dipengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Sunda Purba, Gunung Tangkuban Parahu, dan Gunung Burangrang.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/243729257\/cara-pemerintah-jepang-siapkan-warganya-hadapi-bencana-gempa-bumi\">Baca: Cara pemerintah Jepang siapkan Warganya hadapi gempa<\/a><\/p>\n<p>Aktivitas vulkanik berperan dalam pembentukan dan reaktivasi segmen timur, menambah kompleksitas risiko gempa lokal.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Segmentasi barat, tengah, dan timur membantu menyusun zonasi risiko presisi, seperti bangunan vital yang sebaiknya dijauhkan dari jalur sesar, sementara daerah dengan guncangan tinggi wajib menerapkan standar konstruksi tahan gempa.<\/p>\n<p>Hidayat menambahkan, survei geofisika dangkal dan dalam memungkinkan pemetaan geometri sesar dan aktivitas kegempaan secara mendalam.<\/p>\n<p>&ldquo;Integrasi seluruh metode menunjukkan Sesar Lembang memiliki variasi karakter dari barat hingga timur dan masih menunjukkan indikasi aktivitas berdasarkan data geofisika yang diperoleh,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p><strong>Sejarah Gempa merusak<\/strong><br \/>Sementara itu, Supartoyo, Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi, menekankan pentingnya mitigasi berbasis data historis guna mencegah kerusakan akibat gempa bumi.<\/p>\n<p>&ldquo;Sejak 2000 hingga 2025, kejadian gempa bumi merusak berkisar lima hingga 41 per tahun, dengan tertinggi pada 2025. Pada 2026 tercatat enam kejadian gempa merusak.&rdquo; jelasnya.<\/p>\n<p>Dia menjelaskan gempa Yogyakarta 2006 menyebabkan kerugian Rp29,2 triliun, Aceh 2004 sekitar Rp13,4 triliun, Palu 2018 Rp8,5 triliun, dan Cianjur 2022 Rp4 triliun atau dengan kata lain nilai ini hampir setara APBD Provinsi atau Kota Bandung.<\/p>\n<p>Badan Geologi menekankan bahwa gempa berpotensi merusak umumnya memiliki intensitas IV&ndash;V MMI, sementara gempa Cianjur 2022 dengan magnitudo 5,6 mencapai VIII MMI.<\/p>\n<p>&ldquo;Dampak akan lebih besar jika bangunan tidak tahan gempa,&rdquo; tambah Supartoyo.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Sesar Lembang yang membentang sekitar 29 kilometer di utara Kota Bandung, bukanlah jalur patahan tunggal dengan risiko homogen. Penyelidikan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terbaru mengungkap bahwa sesar&nbsp;Lembang&nbsp;terbagi menjadi tiga segmen dengan karakteristik geologi, aktivitas, dan potensi gempa yang berbeda, sehingga menuntut strategi mitigasi spesifik dan terukur. Sukahar Eka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":2626,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1021],"class_list":["post-2625","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-sesar-lembang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2625","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2625"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2625\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2626"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2625"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2625"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2625"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}