{"id":2717,"date":"2026-07-30T00:32:27","date_gmt":"2026-07-30T00:32:27","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2717"},"modified":"2026-07-30T00:32:27","modified_gmt":"2026-07-30T00:32:27","slug":"john-tobing-pencipta-lagu-darah-juang-meninggal-kehilangan-besar-bagi-dunia-aktivisme-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2717","title":{"rendered":"John Tobing, Pencipta Lagu Darah Juang Meninggal: Kehilangan Besar Bagi Dunia Aktivisme Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp;Kabar duka datang dari dunia aktivisme Indonesia. Saat tindakan represif aparat makin menguat para aktivis harus kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi perjuangan mahasiswa.<\/p>\n<p>Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing, pencipta lagu legendaris Darah Juang, meninggal dunia pada Rabu (25\/2\/2026), sekitar pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Yogyakarta.<\/p>\n<p>Lagu <em>Darah Juang<\/em> karya John Tobing tak terpisahkan dari sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia, terutama era reformasi 1998 pada saat demonstrasi mahasiswa.<\/p>\n<p>Lagu Darah Juang masih sering dinyanyikan hingga kini, dan dalam kondisi seperti saat ini semangat&nbsp;lagu&nbsp;ini&nbsp;kian relevan.<\/p>\n<p>Hingga akhir hayatnya, John Tobing dikenang bukan hanya sebagai musisi, tetapi sebagai maestro perjuangan yang memberi semangat dan suara bagi aspirasi rakyat.<\/p>\n<p>Musik adalah jalan&nbsp;perjuangan laki-laki kelahiran Binjai, Sumatra Utara, pada 1 Desember 1965&nbsp;ini.&nbsp;Syair&nbsp;lagu&nbsp;Darah&nbsp;Juang&nbsp;tidak&nbsp;meledak-ledak,&nbsp;tetapi&nbsp;penuh&nbsp;semangat&nbsp;perlawanan.<\/p>\n<p>Di sini negeri kami<br \/>Tempat padi terhampar<br \/>Samuderanya kaya raya<br \/>Tanah kami subur tuan<\/p>\n<p>Di negeri permai ini<br \/>Berjuta rakyat bersimbah rugah<br \/>Anak buruh tak sekolah<br \/>Pemuda desa tak kerja<\/p>\n<p>Mereka dirampas haknya<br \/>Tergusur dan lapar<br \/>Bunda relakan darah juang kami<br \/>Padamu kami mengabdi<\/p>\n<p>Mereka dirampas haknya<br \/>Tergusur dan lapar<br \/>Bunda relakan darah juang kami<br \/>Padamu kami mengabdi<br \/>Padamu kami berjanji<\/p>\n<p>John Tobing&nbsp;adalah anak ketiga dari delapan bersaudara dari pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga.<\/p>\n<p>Dia sudah memiliki minat pada musik dan belajar gitar sejak kelas 5 SD.&nbsp;Namun,&nbsp;perjalanan hidupnya tidak mulus sejak awal.<\/p>\n<p>Ia sempat tidak lulus di SMA Santo Thomas Yogyakarta karena kenakalan remaja, namun menyelesaikan pendidikannya di SMA Katolik Banjarmasin.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Diterima kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1986. John aktif di kampus dalam berbagai organisasi mahasiswa dan aksi sosial.<\/p>\n<p>Ia bahkan terlibat dalam gerakan aksi solidaritas Waduk Kedung Ombo (1989 &#8211; 1991), Kusumanegara Berdarah, dan Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Kabar duka datang dari dunia aktivisme Indonesia. Saat tindakan represif aparat makin menguat para aktivis harus kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi perjuangan mahasiswa. Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing, pencipta lagu legendaris Darah Juang, meninggal dunia pada Rabu (25\/2\/2026), sekitar pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":2718,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1049,1048],"class_list":["post-2717","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-darah-juang","tag-john-tobing"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2717","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2717"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2717\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2717"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2717"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2717"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}