{"id":2993,"date":"2026-07-30T00:33:41","date_gmt":"2026-07-30T00:33:41","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2993"},"modified":"2026-07-30T00:33:41","modified_gmt":"2026-07-30T00:33:41","slug":"kawasan-pecinan-glodok-ditata-untuk-kenyamanan-bukan-melarang-berdagang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=2993","title":{"rendered":"Kawasan Pecinan Glodok Ditata Untuk Kenyamanan, Bukan Melarang Berdagang"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Glodok, kawasan Pecinan tertua di Jakarta Barat, hidup dan berkembang dengan caranya sendiri saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan penataan khusus.<\/p>\n<p>Pemprov DKI Jakarta akan mervitalisasi kawasan Pecinan Glodok, bersama Pasar Baru dan Kota Tua yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada pertengahan 2026.<\/p>\n<p>Proyek revitalisasi ini dirancang terintegrasi dengan pembangunan MRT Fase 2A (stasiun Kota dan Glodok) yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2029.<\/p>\n<p>Pemerintah kota (Pemkot) Jakarta Barat menyiapkan integrasi Kawasan Pancoran, Glodok, Taman Sari atau&nbsp;Pecinan dengan Kota Tua. Penataan kawasan selain menambah kantong parkir, juga peningkatan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengadaan lampu tematik.<\/p>\n<p>Sehingga nantinya, wisatawanyang ingin ke Kota Tua dapat langsung ke Glodok-Pancoran atau Kawasan&nbsp;Pecinan.<\/p>\n<p>Ruangkota.com berkesempatan&nbsp;menyusuri kawasan ini pada&nbsp;Rabu (11\/2\/2026). Lorong-lorong di Glodok masih sibuk oleh aktivitas pedagang di tengah persiapan menyambut Imlek dan menjelang Ramadan tahun ini.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/244380940\/kawasan-kota-tua-akan-diitegrasikan-dengan-kawasan-pecinan-di-pancoranglodok\">Baca: Kawasan pecinan di Pancoran\/Glodok akan diitegrasikan dengan Kota Tua<\/a><\/p>\n<p>Glodok tetap menjadi pusat tradisi dan kuliner. Pengunjung datang bukan hanya jalan-jalan, tetapi juga mencari jajanan tradisional, tripang hidup, hingga berbagai pernak-pernik khas etnis Tionghoa.<\/p>\n<p>Suasana ini menunjukkan bahwa kawasan&nbsp;pecinan&nbsp;Glodok bukan sekadar tujuan wisata, tetapi juga ruang hidup bagi komunitas yang telah puluhan tahun menorehkan sejarah di kawasan ini.<\/p>\n<p>Setiap lorong sempitnya menyimpan cerita puluhan bahkan ratusan tahun, dari bangunan kolonial hingga kelenteng kuno, gereja, masjid, dan pasar tradisional yang masih berdenyut hingga kini.<\/p>\n<p>Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan bahwa penataan Glodok tidak akan melarang aktivitas pedagang. Sebaliknya, pengaturan dilakukan agar pejalan kaki nyaman, kendaraan tidak macet, dan kawasan tetap menarik bagi wisatawan.<\/p>\n<p>&#8220;Glodok memiliki karakteristik yang unik. Kita akan atur, bukan larang,&#8221; ujarnya dilansir dari beritajakarta.id, Rabu, (11\/02\/2026).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/243988214\/jakarta-akan-terus-perluas-kawasan-rendah-emisi\">Baca: Kota Tua dikembangkan menjadi kawasan rendah emisi<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Penataan ini diharapkan juga dapat meningkatkan nilai ekonomi lokal, karena kawasan yang tertata rapi cenderung menarik lebih banyak pengunjung.<\/p>\n<p><strong>Setiap sudut punya cerita<\/strong><br \/>Kawasan pecinan Glodok mulai berkembang sejak abad 18, tepatnya sejak peristiwa pemburuan besar-besaran terhadap etnis Tionghoa pada tahun 1740 yang dikenal dengan Geger Pecinan.<\/p>\n<p>Adanya pemberlakuan aturan bahwa orang Tionghoa harus tinggal di luar tembok Batavia membuat Glodok mulai terbentuk dan menjadi pusat daerah pemukiman orang-orang Tionghoa atau yang kita sebut Pecinan.<\/p>\n<p>Dalam perkembangannya, Glodok yang awalnya adalah tempat isolasi, justru menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Kawasan Glodok dan Kawasan Pancoran sejak dahulu menjadi urat nadi perekonomian Jakarta.<\/p>\n<p>Dan, hampir 300 tahun kemudian setiap sudut kawasan pecinan Glodok tetap menyimpan ceritanya masing-masing. Sebut Pantjoran Tea House, pusat perdagangan teh yang berdiri sejak awal abad ke-20.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/wisata\/245577835\/serunya-tur-jalan-kaki-di-kawasan-pecinan-glodok\">Baca: Serunya tur jalan kaki di Kawasan Pecinan Glodok<\/a><\/p>\n<p>Juga Gang Gloria dengan bangunan kolonial dan etnik Tionghoa yang mencerminkan perdagangan barang antik dan rempah di masa lalu, termasuk cerita dari Petak 6 dan Petak 9.<\/p>\n<p>Kelenteng Tan Seng Ong dan Toa Se Bio, serta Kompleks Kelenteng Djin De Yuan, menjadi simbol keberlangsungan tradisi dan seni Tionghoa di Jakarta.<\/p>\n<p>Masjid Kali Pasir, yang juga tua, menambah lapisan sejarah kawasan, menjadi saksi perkembangan komunitas Muslim di Pecinan, memperkuat keragaman budaya yang harmonis.<\/p>\n<p>Bahkan Gereja Santa Maria de Fatima berdiri berdampingan, menegaskan pluralisme dan toleransi di kawasan ini sejak era kolonial.<\/p>\n<p>Nilai sejarah Glodok bukan sekadar tentang bangunan, tetapi tentang bagaimana kawasan ini menjadi pusat komunitas, perdagangan, dan budaya yang hidup dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p>Reporter:&nbsp;Kemal&nbsp;Maulana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Glodok, kawasan Pecinan tertua di Jakarta Barat, hidup dan berkembang dengan caranya sendiri saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan penataan khusus. Pemprov DKI Jakarta akan mervitalisasi kawasan Pecinan Glodok, bersama Pasar Baru dan Kota Tua yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada pertengahan 2026. Proyek revitalisasi ini dirancang terintegrasi dengan pembangunan MRT Fase 2A [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":2994,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1145,1144],"class_list":["post-2993","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-glodok","tag-pecinan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2993\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2994"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}