{"id":3095,"date":"2026-07-30T00:34:16","date_gmt":"2026-07-30T00:34:16","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=3095"},"modified":"2026-07-30T00:34:16","modified_gmt":"2026-07-30T00:34:16","slug":"kenali-lebih-dekat-penyebaran-virus-nipah-berawal-dari-kelelawar-ke-babi-kemudian-menulari-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=3095","title":{"rendered":"Kenali Lebih Dekat Penyebaran Virus Nipah: Berawal dari Kelelawar ke Babi Kemudian Menulari Manusia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Ditemukannya kasus virus nipah pada&nbsp;manusia&nbsp;di Bengal&nbsp;Barat,&nbsp;India memicu kekhawatiran banyak negara termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>Pemerintah saat ini memperkuat pengawasan dan pencegahan penularan virus nipah dengan memperketat pemantauan pelaku perjalanan luar negeri, selain pengawasan pada alat angkut dan barang dari luar negeri di pelabuhan.<\/p>\n<p>Virus nipah merupakan virus yang ditularkan melalui kelelawar buah. Infeksi virus Nipah umumnya ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara yang terinfeksi, seperti babi dan kuda.<\/p>\n<p>Virus nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan penderita. Penyakit ini dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan masalah serius pada manusia.<\/p>\n<p>Meski virus ini berkembang dan menular antar sesama hewan, virus ini juga berpotensi menyebar ke manusia<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/247147823\/indonesia-tingkatkan-kewaspadaan-terhadap-penyebaran-virus-nipah\">Baca: Indonesia tingkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus nipah<\/a><\/p>\n<p>Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas&nbsp;Kedokteran&nbsp;Hewan&nbsp;UGM, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D. menuturkan secara epidemiologis, kelelawar diketahui sebagai reservoir virus Nipah.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, perhatian terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis menjadi sangat penting dan perlu dicermati secara serius.<\/p>\n<p>&ldquo;Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya,&rdquo; ungkapnya seperti dikutip ugm.ac.id.<\/p>\n<p>Heru kemudian merunut sejarah kemunculan virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di wilayah Nipah, Malaysia. Pola penularan awalnya terjadi dari kelelawar ke babi, kemudian dari babi ke manusia, yang disebut sebagai pola klasik.<\/p>\n<p>Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia. Menurut Heru, hal ini dipengaruhi faktor lain, seperti konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/247144061\/who-paparkan-kasus-virus-nipah-dalam-publikasi-dons\">Baca: WHO paparkan temuan kasus virus nipah di India<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Selain itu, ada juga penularan dari manusia ke manusia. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami dari segi penyakit,&rdquo; jelasnya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Di Indonesia, Heru menilai, seharusnya sudah tersedia sistem peringatan dini (early warning system) terhadap berbagai penyakit zoonosis, termasuk Nipah. Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.<\/p>\n<p>&ldquo;Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,&rdquo; tegasnya.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan bahwa solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Misalnya, dengan segera melaporkan jika terdapat babi yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa.<\/p>\n<p>&ldquo;Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus,&rdquo; pungkasnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/245656558\/studi-ungkap-perubahan-iklim-mendorong-penyebaran-penyakit-menular\">Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular<\/a><\/p>\n<p>Sementara dosen mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. M. Th. Khrisdiana Putri Ph.D, menyampaikan infeksi virus Nipah pada manusia dapat berakibat fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak.<\/p>\n<p>Khrisdiana menambahkan bahwa virus Nipah bersifat musiman (seasonal). Menurutnya, kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor stres atau kelaparan pada kelelawar.<\/p>\n<p>Dilansir ugm.ac.id, Khrisdiana mencontohkan ketika sumber pakan alami, seperti nira di habitat hutan, berkurang, maka risiko penularan dapat meningkat karena virus menjadi lebih aktif.<\/p>\n<p>Khrisdiana menegaskan pemerintah telah melakukan langkah pengamanan melalui regulasi, salah satunya dengan melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira. Menurutnya, kebijakan ini menjadi langkah awal dalam pencegahan.<\/p>\n<p>&ldquo;Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,&rdquo; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Ditemukannya kasus virus nipah pada&nbsp;manusia&nbsp;di Bengal&nbsp;Barat,&nbsp;India memicu kekhawatiran banyak negara termasuk Indonesia. Pemerintah saat ini memperkuat pengawasan dan pencegahan penularan virus nipah dengan memperketat pemantauan pelaku perjalanan luar negeri, selain pengawasan pada alat angkut dan barang dari luar negeri di pelabuhan. Virus nipah merupakan virus yang ditularkan melalui kelelawar buah. Infeksi virus Nipah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":3096,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1105],"class_list":["post-3095","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-virus-nipah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3095","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3095"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3095\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3096"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3095"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3095"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3095"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}