{"id":3558,"date":"2026-07-30T00:36:27","date_gmt":"2026-07-30T00:36:27","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=3558"},"modified":"2026-07-30T00:36:27","modified_gmt":"2026-07-30T00:36:27","slug":"walhi-banjir-besar-di-aceh-akibat-kerusakan-hulu-das-jambo-aye","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=3558","title":{"rendered":"WALHI: Banjir Besar di Aceh Akibat Kerusakan Hulu DAS Jambo Aye"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Desk Disaster WALHI Region Sumatera bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh dan Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KOPPEDULI) mengungkap, bencana ekologis di Aceh berkaitan erat dengan kerusakan hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya DAS Jambo Aye.<\/p>\n<p>Seluas 1.100 hektare hutan di DAS&nbsp;Jambo Aye tersebut rusak pada 2024 (https:\/\/acehdata.digdata.id\/).<\/p>\n<p>Selain itu, pembukaan lahan dan dugaan aktivitas logging perseorangan di sekitar areal Hak Guna Usaha (HGU), termasuk HGU Tualang Raya, memperparah kondisi.<\/p>\n<p>Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, Senin (12\/1\/2026) disebutkan, pemantauan citra satelit Januari&ndash;Mei 2025 mengungkap bukaan lahan masif di kawasan curam yang terhubung langsung dengan anak sungai menuju Sungai Jambo Aye.<\/p>\n<p>Pada tanggal 7 Januari 2026, WALHI juga menyalurkan donasi sekaligus melakukan assesment ke Desa Sejudo, Sarah Raja, Dusun Uring, Alur Lema, dan Sarah Gala.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246889492\/walhi-banjir-bandang-di-sumatera-utara-cermin-kegagalan-negara-kendalikan-kerusakan-lingkungan\">Baca: Banjir Sumatera cermin kegagalan Negara kendalikan kerusakan lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Perjalanan menuju lokasi memakan waktu enam jam untuk jarak 38 kilometer akibat jalan tertutup lumpur 1&ndash;3 meter, jembatan rusak, dan tumpukan gelondongan kayu besar.<\/p>\n<p>Tim Desk Disaster WALHI Region Sumatera bersama WALHI menegaskan bahwa banjir di DAS Jambo Aye merupakan bencana ekologis akibat akumulasi perusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, serta kegagalan negara melindungi lingkungan hidup dan keselamatan rakyat.<\/p>\n<p>Ini ditandai oleh pembiaran ekspansi perkebunan, aktivitas penebangan hutan atau logging, dan lemahnya pengawasan HGU.<\/p>\n<p>Koordinator Desk Disaster WALHI Region Sumatera untuk Aceh, Wahdan menyatakan, bahwa banjir besar di Desa Sejudo dan sejumlah desa di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, pada akhir November 2025 adalah bencana ekologis yang tidak terpisahkan dari kerusakan wilayah hulu DAS Jambo Aye.<\/p>\n<p>Ini juga merupakan bentuk kegagalan negara menjalankan mandat konstitusi khususnya Pasal 28H ayat (1) dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, karena pengelolaan sumber daya alam yang eksploitatif telah mengorbankan keselamatan warga.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/247058859\/brin-pemulihan-pasca-bencana-banjir-sumatra-harus-berorientasi-pada-warga\">Baca: Pemulihan Pasca Bencana Banjir Sumatra Harus Berorientasi pada Warga<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Selama kepentingan investasi ditempatkan di atas perlindungan ekosistem dan hak rakyat, bencana ekologis akan terus berulang, dan pemulihan harus dilakukan melalui penegakan hukum lingkungan serta pemulihan menyeluruh DAS Jambo Aye.&rdquo; Tegas Wahdan<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Eksekutif Daerah WALHI Aceh, Afifuddin Acal menegaskan bahwa banjir Sumatera bukanlah musibah alam.<\/p>\n<p>Banjir&nbsp;Sumatera&nbsp;yang&nbsp;berdampak&nbsp;di&nbsp;tiga&nbsp;provinsi&nbsp;merupakan bencana ekologis akibat buruknya tata kelola lingkungan hidup, mulai dari penggundulan hutan, pendangkalan sungai, hingga pengerukan bukit.<\/p>\n<p>Kami, ujar Afif, menegaskan perlunya restorasi ekologis dan pemulihan kawasan hulu secara serius, disertai audit menyeluruh terhadap perizinan yang merusak lingkungan serta pelibatan masyarakat dalam tata kelola,<\/p>\n<p>&ldquo;Kami juga mengingatkan bahwa tanpa penyelamatan wilayah hulu, Aceh berisiko menghadapi banjir besar secara berulang dan bahkan menjadi bencana bulanan.&rdquo; Jelas Afif<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/247051856\/pengurus-negara-dinilai-masih-setengah-hati-menegakkan-hukum-terhadap-perusahaan-penyebab-banjir-sumatera\">Baca: Penegakan hukum setengah hati terhadap perusahaan penyebab banjir Sumatera<\/a><\/p>\n<p>Melva Harahap, Manager Penanganan Bencana WALHI Nasional menegaskan, &ldquo;sistem tata kelola lingkungan yang eksploitatif dan pemberian izin massif memicu bencana ekologis.<\/p>\n<p>Karena itu audit perizinan, penegakan hukum terhadap korporasi, serta pemulihan DAS Jambo Aye harus dilakukan cepat, terbuka, dan holistik.<\/p>\n<p>Selain itu, reformasi tata ruang berbasis peta rawan bencana harus dilakukan sebagai basis utama rekonstruksi dan pemulihan oleh satgas yang telah dibentuk.<\/p>\n<p>&rdquo;Hak rakyat atas kebutuhan dasar, hak atas tanah dan akses terhadap pemulihan ekononomi juga harus menjadi prioritas uatama,&rdquo; tutup Melva.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Desk Disaster WALHI Region Sumatera bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh dan Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KOPPEDULI) mengungkap, bencana ekologis di Aceh berkaitan erat dengan kerusakan hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya DAS Jambo Aye. Seluas 1.100 hektare hutan di DAS&nbsp;Jambo Aye tersebut rusak pada 2024 (https:\/\/acehdata.digdata.id\/). Selain itu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":3559,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[290,1178,26],"class_list":["post-3558","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-banjir-sumatera","tag-bencana-ekologis","tag-walhi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3558"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3558\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3559"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}