{"id":3646,"date":"2026-07-30T00:36:48","date_gmt":"2026-07-30T00:36:48","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=3646"},"modified":"2026-07-30T00:36:48","modified_gmt":"2026-07-30T00:36:48","slug":"penurunan-muka-tanah-dan-perubahan-iklim-perburuk-banjir-di-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=3646","title":{"rendered":"Penurunan Muka Tanah dan Perubahan Iklim Perburuk Banjir di Jakarta"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Penurunan muka tanah yang terus berlangsung di Jakarta menjadi faktor&nbsp; yang secara signifikan memperbesar ancaman banjir di Ibu Kota, baik banjir rob dari laut maupun banjir perkotaan akibat hujan dan luapan sungai.<\/p>\n<p>Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Dr. Yus Budiyono, mengatakan bahwa penurunan tanah berkontribusi meningkatkan risiko banjir di&nbsp;Jakarta hingga lebih dari 40 persen.<\/p>\n<p>Angka ini melampaui pengaruh faktor lain, di antaranya perubahan iklim maupun kenaikan permukaan air laut.<\/p>\n<p>&ldquo;Kalau kami membandingkan beberapa entitas yang mempengaruhi risiko banjir di Jakarta, dari empat entitas yang kami perhatikan yang penurunan muka tanah <em>(land subsidence)<\/em> itu pengaruhnya paling besar, yakni&nbsp;di atas 40 persen,&rdquo; ujarnya dikutip Kompas.com.<\/p>\n<p>Berdasarkan kajian BRIN, kondisi penurunan muka tanah di wilayah pesisir utara Jakarta menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Yus menjelaskan, secara rata-rata, amblesan tanah di Jakarta bagian utara terjadi dengan kecepatan sekitar 3,5 sentimeter per tahun.<\/p>\n<p>Namun, angka rata-rata tersebut menutupi fakta bahwa di sejumlah lokasi tertentu, penurunan tanah berlangsung jauh lebih ekstrem.<\/p>\n<p>&ldquo;Tapi mungkin kalau nilai yang paling sering muncul itu kira-kira ya 15 cm per tahun, sedangkan di tempat yang paling parah itu penurunannya sampai 28 cm per tahun,&rdquo; tutur Yus.<\/p>\n<p>Menurut dia, titik penurunan paling parah teridentifikasi di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara, dan Cengkareng Barat, Jakarta Barat.<\/p>\n<p>&ldquo;Titik yang paling parah itu di Pantai Mutiara dan kemudian juga Cengkareng Barat. Kalau sejak mulainya kapan, saya perlu melihat catatan dulu. Tapi tidak sejak 1970,&rdquo; ujar dia.<\/p>\n<p>Dia menambahakn, secara historis, laju penurunan muka&nbsp;tanah cenderung bersifat linear&nbsp;yakni&nbsp;tidak&nbsp;dapat&nbsp;dipulihkan.&nbsp;Hal&nbsp;ini&nbsp;juga&nbsp;terjadi&nbsp;di&nbsp;kota-kota&nbsp;besar&nbsp;lain&nbsp;seperti Tokyo (Jepang), Bangkok (Thailand), dan lain-lain,<\/p>\n<p>BRIN mencatat bahwa dampak penurunan muka tanah tidak hanya terbatas pada banjir rob. Amblesan tanah juga memperparah banjir akibat hujan langsung maupun banjir kiriman dari hulu.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan sejumlah peristiwa banjir besar yang dipicu hujan lokal ekstrem, seperti yang terjadi pada 1 Januari 2020 dan tiga banjir besar sepanjang tahun 2025<\/p>\n<p>&ldquo;Yang pertama, Maret. Yang kedua, Juli. Yang ketiga, Oktober 2025 Itu dominasi dari hujan lokal itu besar,&rdquo; lanjut dia.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Banjir kiriman dari Bogor yang kerap diantisipasi melalui sistem siaga pemerintah daerah juga tetap menjadi ancaman.<\/p>\n<p><strong>Langkah mitigasi<\/strong> <br \/>BRIN menekankan bahwa langkah paling krusial untuk menekan laju penurunan muka tanah dan dampak yang ditimbulkan adalah penyediaan air bersih agar pengambilan air tanah dapat dihentikan.<\/p>\n<p>&ldquo;Pemerintah harus menyediakan kebutuhan air untuk seluruh warga, bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh pantura. Sehingga nanti air itu tidak lagi diambil dari tanah,&rdquo; kata Yus.<\/p>\n<p>Tanpa penghentian penurunan tanah, ia menilai infrastruktur sebesar apa pun akan sia-sia.<\/p>\n<p>Selain penurunan muka tanah, perubahan iklim juga menjadi faktor penting dalam pembentukan risiko banjir Jakarta.<\/p>\n<p>Namun, Yus menekankan bahwa persoalan utama perubahan iklim bukan terletak pada rata-rata curah hujan tahunan. Masalah sesungguhnya, kata Yus, adalah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.<\/p>\n<p>Dia menegaskan bahwa kejadian-kejadian luar biasa, yakni banjir 1 Januari 2020 dan tiga peristiwa besar pada 2025 merupakan bukti nyata.<\/p>\n<p>Pandangan BRIN tersebut sejalan dengan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat adanya peningkatan frekuensi banjir di Jakarta, terutama dalam tiga dekade terakhir.<\/p>\n<p>&ldquo;Meningkatnya risiko kejadian curah hujan ekstrem sebesar 2-3 persen menyebabkan banjir yang berulang seperti banjir yang terjadi berulang kali pada tahun 2014, 2015, 2020; dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun yang lalu,&rdquo; ujar Ardhasena.<\/p>\n<p>Bahkan, peluang terjadinya banjir besar meningkat signifikan. &ldquo;Risiko banjir seperti kejadian 2015 pada era iklim modern saat ini, peluang terjadinya (risiko) meningkat 2-3 kali lipat dibanding peluang nya pada era iklim masa lampau,&rdquo; kata dia.<\/p>\n<p>Faktor Fisik Daratan dan Banjir Gabungan <br \/>BMKG menilai bahwa kerentanan utama Jakarta Utara bukan semata faktor cuaca, melainkan perubahan fisik daratan akibat fenomena penurunan muka tanah (land subsidence)<\/p>\n<p>Ia menggambarkan wilayah pesisir Jakarta sebagai &ldquo;efek mangkuk raksasa yang bersifat permanen,&rdquo; sehingga tanpa hujan ekstrem pun air laut selalu berusaha masuk ke daratan. <\/p>\n<p>Kondisi ini diperburuk oleh fenomena seruakan dingin (cold surge), hujan dini hari yang bertepatan dengan pasang maksimum, hingga akhirnya memicu banjir gabungan atau <em>compound flooding.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Penurunan muka tanah yang terus berlangsung di Jakarta menjadi faktor&nbsp; yang secara signifikan memperbesar ancaman banjir di Ibu Kota, baik banjir rob dari laut maupun banjir perkotaan akibat hujan dan luapan sungai. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Dr. Yus Budiyono, mengatakan bahwa penurunan tanah berkontribusi meningkatkan risiko [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[408,9,1347],"class_list":["post-3646","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","tag-banjir","tag-jakarta","tag-penurunan-muka-tanah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3646","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3646"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3646\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3646"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3646"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3646"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}