{"id":4253,"date":"2026-07-30T00:39:29","date_gmt":"2026-07-30T00:39:29","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4253"},"modified":"2026-07-30T00:39:29","modified_gmt":"2026-07-30T00:39:29","slug":"indonesia-rawan-bencana-warga-bisa-pantau-sendiri-citra-satelit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4253","title":{"rendered":"Indonesia Rawan Bencana: Warga Bisa Pantau Sendiri Citra Satelit"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/i7cloud.asia\">7cloud.asia<\/a><\/strong><span style=\"font-weight: 400\"> &#8211; Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, dikelilingi cincin gunung api, dan memiliki iklim tropis yang menghasilkan curah hujan tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kombinasi ini, ditambah dengan perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, membuat negara ini sangat rentan akan berbagai bencana, seperti banjir, longsor, erupsi gunung api, lahar dan gempa bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sayangnya, respons pemerintah dalam mengantisipasi bencana acap kali sulit diandalkan. Oleh karenanya, kita sebagai masyarakat mesti lebih sadar dan siaga bencana. Tapi, bagaimana caranya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Salah satunya, kita bisa mengakses dan memanfaatkan data <\/span><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/edited-volume\/pii\/B978032391166500015X\"><span style=\"font-weight: 400\">satelit<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> untuk mengetahui kondisi dan memetakan ancaman bencana di sekitar kita dengan berbagai <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">tools<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dan aplikasi gratis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Berikut caranya:<\/span><\/p>\n<p><strong>1. Cara cek curah hujan ekstrem dan potensi banjir<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menggunakan satelit <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Global Precipitation Measurement<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (GPM) dengan IMERG (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Integrated Multi-satellite Retrievals<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">) milik NASA bisa membantu kita memantau intensitas hujan. Data ini diperbarui tiap 30 menit.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Lewat Sentinel-1: Radar satelit seperti <\/span><a href=\"https:\/\/sentinels.copernicus.eu\/copernicus\/sentinel-1\"><span style=\"font-weight: 400\">Sentinel-1<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> bisa &ldquo;melihat&rdquo; permukaan Bumi meski tertutup awan atau hujan. Jadi ketika terjadi badai atau cuaca buruk, yang biasanya membuat citra biasa tidak bisa digunakan, <\/span><a href=\"https:\/\/cdn.theconversation.com\/static_files\/files\/4027\/Sentinel-2_Analisis_Daerah_Terdampak_Siklon_Senyar.pdf?1765076713\"><span style=\"font-weight: 400\">radar<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> tetap bisa mendeteksi area yang tergenang air.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Cukup dengan registrasi sederhana, kita bisa mengakses satelit ini dengan gratis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan menggabungkan informasi genangan air (dari radar Sentinel-1) dan hujan (dari GPM), kita bisa memperkirakan potensi banjir bandang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika hulu daerah aliran sungai mengalami deforestasi atau kerusakan, citra optik bisa menunjukkan penurunan tutupan vegetasi melalui indeks seperti indeks NDVI (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Normalized Difference Vegetation Index<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">) untuk penurunan tutupan vegetasi dan NBR (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Normalized Burn Ratio<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">) untuk kebakaran hutan yang mempercepat erosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jadi, satelit tidak hanya menunjukkan peristiwa banjirnya, tapi juga menunjukkan penyebabnya, yaitu tanah dan hutan yang rusak sehingga tidak lagi mampu menyerap air.<\/span><\/p>\n<p><strong>2. Cara cek tutupan hutan\/bukaan lahan terbaru dan potensi longsor<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Longsor juga sebenarnya bisa dideteksi lebih awal. Sebab, lereng sering bergerak sedikit demi sedikit sebelum terjadi longsor besar. Pergerakan kecil itu ukurannya hanya milimeter sampai sentimeter.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Dengan teknologi InSAR<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">(<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Interferometric Synthetic Aperture Radar<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">) yang menggunakan radar satelit, kita bisa mengukur perubahan permukaan tanah dengan sangat presisi, sehingga kita bisa melihat lereng yang mulai &ldquo;merayap&rdquo; atau bergeser perlahan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Setelah longsor terjadi, satelit resolusi tinggi seperti PlanetScope (3-5 m\/piksel yang diperbarui secara harian) atau WorldView (0.46 m pankromatik) bisa memotret area terdampak dalam beberapa jam. Ini membuat tim penyelamat cepat mengetahui lokasi terdampak.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Longsor bukan hanya dipicu hujan, tetapi juga akibat kerusakan vegetasi, perubahan bentuk lereng, dan air yang meresap ke tanah dari waktu ke waktu. Semua faktor ini bisa dipantau dengan citra satelit.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong>3. Cek ancaman lahar dan potensi erupsi gunung api<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di daerah yang dekat dengan gunung api aktif, seperti Marapi (Sumatra Barat), Merapi (Jawa Tengah), atau Semeru (Jawa Timur), ancaman lahar bisa terjadi kapan saja, bukan hanya saat erupsi besar. Hujan deras bisa menyeret abu dan pasir vulkanik yang masih longgar di lereng gunung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Untuk memantau potensi lahar, kita bisa memakai beberapa jenis data satelit:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">GPM untuk melihat seberapa <\/span><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0377027309004107\"><span style=\"font-weight: 400\">deras hujan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> yang turun (pemicu lahar).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Radar Sentinel-1 untuk melihat perubahan kadar air di alur sungai atau jalur (lahar).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Digital Elevation Model<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (DEM) resolusi tinggi untuk mengetahui bentuk permukaan tanah, sehingga arah aliran lahar bisa dimodelkan dengan tepat.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sementara itu, untuk mengukur potensi erupsi, gunung api bisa dipantau dari satelit dengan tiga cara utama:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Sensor thermal (MODIS, VIIRS): Satelit ini mendeteksi panas di permukaan gunung. Jika muncul titik panas yang tidak biasa, itu bisa menjadi tanda bahwa magma mulai naik.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">InSAR untuk melihat <\/span><a href=\"https:\/\/www.usgs.gov\/programs\/VHP\/insar-satellite-based-technique-captures-overall-deformation-picture\"><span style=\"font-weight: 400\">perubahan bentuk gunung<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">: Satelit radar dapat mengukur penggembungan (inflasi) atau penurunan (deflasi) tubuh gunung. Jika gunung mulai menggembung, itu biasanya berarti tekanan magma di bawahnya meningkat, tanda-tanda potensi erupsi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Satelit geostasioner seperti Himawari-9 untuk memantau abu. Satelit ini mengambil gambar setiap 10 menit, sehingga sangat berguna untuk melihat pergerakan kolom abu, arah angin yang menyebarkannya, kepadatan abu, dan ketinggian <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">plume<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> atau semburan material vulkanik yang naik ke udara.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain itu, setelah erupsi, lahar bisa dipantau menggunakan gabungan radar dan citra optik. Keduanya bisa menunjukkan perubahan warna sungai yang menandakan bertambahnya sedimen vulkanik.<\/span><\/p>\n<p><strong>4. Cek dampak gempa bumi<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Gempa bumi memang sulit diprediksi, tetapi dampaknya bisa dipetakan secara cepat dan akurat dengan satelit.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">InSAR (radar satelit) misalnya, mengukur pergeseran tanah setelah gempa, baik naik-turun maupun bergeser ke samping, sehingga patahan aktif bisa diketahui.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Citra satelit resolusi sangat tinggi (seperti WorldView atau Pleiades) bisa digunakan untuk menilai <\/span><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S2590061725000018\"><span style=\"font-weight: 400\">kerusakan bangunan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, jalan, jembatan, dan infrastruktur penting.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Data ini membantu penentuan prioritas evakuasi dan penyaluran bantuan. Di banyak negara, pemetaan kerusakan berbasis satelit menjadi dasar koordinasi darurat dalam 24 jam pertama setelah gempa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Teknologi penginderaan jauh dan citra satelit ini sangat bermanfaat bagi kita untuk mengantisipasi bencana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun, lebih dari itu, untuk pencegahan bencana yang efektif, tentunya kita harus mendesak pemerintah melakukan pemulihan ekologis, konservasi hutan, dan pemulihan lahan, serta tata ruang yang berbasis lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Satelit memberi data untuk memprediksi dan menilai bahaya. Sementara ekosistem yang sehat menjadi perlindungan alami yang mengurangi dampak bencana.<\/span><\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/saat-respons-negara-lambat-masyarakat-bisa-cek-sendiri-potensi-bencana-pakai-satelit-bagaimana-caranya-271404\">Dian Fiantis, <em>Universitas Andalas<\/em>, Budiman Minasny, <em>University of Sydney<\/em>, Frisa Irawan Ginting, <em>Universitas Andalas<\/em>, Rudiyanto, <em>Universiti Malaysia Terengganu<\/em><\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, dikelilingi cincin gunung api, dan memiliki iklim tropis yang menghasilkan curah hujan tinggi. Kombinasi ini, ditambah dengan perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, membuat negara ini sangat rentan akan berbagai bencana, seperti banjir, longsor, erupsi gunung api, lahar dan gempa bumi. Sayangnya, respons pemerintah dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4254,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1158],"class_list":["post-4253","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bencana"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4253","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4253"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4253\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4254"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4253"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4253"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4253"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}