{"id":4267,"date":"2026-07-30T00:39:32","date_gmt":"2026-07-30T00:39:32","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4267"},"modified":"2026-07-30T00:39:32","modified_gmt":"2026-07-30T00:39:32","slug":"ironi-presiden-prabowo-perintahkan-pendidikan-perubahan-iklim-tapi-kebijakannya-memicu-kerusakan-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4267","title":{"rendered":"Ironi, Presiden Prabowo Perintahkan Pendidikan Perubahan Iklim Tapi Kebijakannya Memicu Kerusakan Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/7cloud.asia\">7cloud.asia<\/a><\/strong><span style=\"font-weight: 400\"> &#8211; Pascabencana banjir Sumatera pada November 2025, Presiden Prabowo Subianto meminta adanya pendidikan perubahan iklim di sekolah-sekolah. Permintaan ini cukup kontradiktif dengan sikap politik dan kebijakan pemerintah yang kerap mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti deforestasi besar-besaran yang memperparah perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pendidikan saja memang tidak cukup untuk mengatasi perubahan iklim. Perubahan iklim dipengaruhi oleh politik, ekonomi, industrial dan kekuatan sistemik di luar jangkauan pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun, tanpa pendidikan, aksi perubahan iklim yang bermakna akan sulit dicapai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sebenarnya, pemerintah sudah memiliki panduan pendidikan perubahan iklim pada 2024. Dalam panduan tersebut, tujuan pendidikan perubahan iklim adalah mengembangkan kesadaran dan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk merespons isu krisis iklim secara relevan dan efektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ini senada dengan tujuan dari pendidikan perubahan iklim secara global: pemahaman yang kemudian dapat mendorong perubahan perilaku dan aksi kolektif dalam menghadapi perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun, saat pendidikan perubahan iklim di level global banyak mendorong peran aktif anak, praktiknya di Indonesia masih beragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam beberapa konteks, keterlibatan anak masih berada pada tingkat tokenisme: Anak memang ikut serta dalam kegiatan pembelajaran yang menarik&mdash;misalnya tur ekologi&mdash;tetapi kendali penuh atas percakapan, penjelasan, dan arah kegiatan tetap berada pada guru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tokenisme ini kemudian membatasi<\/span><span style=\"font-weight: 400\">&nbsp;ruang bagi anak untuk menyuarakan perspektif, rasa ingin tahu, atau interpretasinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain itu, perhatian program-program yang berkaitan dengan pendidikan perubahan iklim masih lebih banyak menyasar anak remaja. Banyak yang menganggap bahasan perubahan iklim abstrak dan kompleks sehingga masih ragu&nbsp;<\/span><span style=\"font-weight: 400\">untuk diterapkan di level PAUD dan SD.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Padahal pendidikan perubahan iklim sejak dini adalah hal yang penting mengingat anak-anak merupakan kelompok yang paling terdampak perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p><strong>Membangun relasi dengan lingkungan<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Banyak penelitian menekankan bahwa perubahan perilaku dalam pendidikan perubahan iklim pada anak-anak tidak hanya lahir dari pengetahuan kognitif, tetapi juga dari <\/span><a href=\"https:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/14733285.2021.2007217\"><span style=\"font-weight: 400\">keterikatan emosional<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> yang dapat memunculkan perilaku etis terhadap lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pembelajaran berbasis tempat (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">place-based pedagogy<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">) merupakan salah satu pendekatan yang banyak dipakai dalam pendidikan perubahan iklim. Pendekatan ini mempertimbangkan sejarah kolonial, ketidakadilan sosial-ekologis dan juga pengetahuan lokal.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400\">Pembelajaran berbasis tempat mendorong pengalaman belajar yang relasional dengan lingkungan yang anak amati dan memahami cerita sejarah tempat tersebut. Pembelajaran ini dapat memunculkan keterikatan emosi anak dengan lingkungannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika anak diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungannya, mereka menjadi lebih terhubung dengan tempat tersebut dan banyak spesies di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hubungan ini menumbuhkan pengalaman afektif, seperti rasa sedih ketika melihat kehidupan lain yang hampir punah atau senang ketika melihat tanaman di sekitarnya yang memberikan kenyamanan. Pengalaman tersebut bisa memotivasi mereka untuk lebih merawat dan melindungi lingkungannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pendidikan perubahan iklim juga harus membuka ruang bagi anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis sehingga dapat bertindak secara etis dalam merespons perubahan iklim. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Melalui pembelajaran berbasis tempat, anak dapat mengembangkan kepedulian ekologis yang mendalam&mdash;bahwa kehidupan manusia tak terpisahkan dengan alam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kegiatan seperti berjalan mengelilingi tempat sekitar anak, atau berjalan di lingkungan yang masih natural, bahkan berjalan di sekitar tempat yang secara ekologis sudah rusak, dapat memfasilitasi anak untuk lebih sadar mengenai persoalan lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\"> Ini dapat menjadi sarana untuk membicarakan ketidakadilan yang dilihat oleh anak terhadap makhluk hidup lain ataupun lingkungan yang rusak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Misalnya, ketika anak melihat pohon ditebang, anak bisa diajak berdiskusi hewan apa saja yang sebelumnya tinggal di pohon itu. Apa akibat penebangan pohon tersebut terhadap hewan dan juga dampaknya bagi manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika anak diajak mengeksplorasi lingkungan, pembelajaran juga dapat dilakukan untuk memberikan pemahaman anak mengenai sejarah tempat tersebut atau nilai lokal mengenai menjaga lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam sebuah penelitian terhadap anak usia dini di Kanada tahun 2019, peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada anak untuk berpikir kritis mengenai sungai: &ldquo;Mengapa air sungai ini kotor?&rdquo;, &ldquo;Siapa yang tinggal di sini sebelum kita?&rdquo;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dari percakapan tersebut, anak menjadi tahu mengenai sejarah sungai dan siapa yang terpinggirkan karena pembangunan modern.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di tingkat SD, pengajaran berbasis tempat juga berpotensi meningkatkan keterlibatan anak dalam pendidikan perubahan iklim. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di level ini, pemahaman anak mengenai isu lingkungan dapat dikembangkan lebih kompleks melalui kegiatan eksplorasi dan pemeriksaan yang terhubung langsung dengan konteks lokal mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Penelitian di Australia tahun 2021 menunjukkan bagaimana anak-anak diajak untuk menyusuri sungai dekat sekolah. Mereka kemudian berdialog dengan tetua masyarakat setelah menguji kualitas air sungai dan mengamati keanekaragaman hayati di sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pendidikan perubahan iklim di SD menjadi lebih bermakna ketika anak-anak terlibat dalam praktik belajar yang berakar pada tempat, seperti penyelidikan ekosistem lokal, kegiatan konservasi, serta dialog dengan komunitas lokal.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400\">Pendidikan perubahan iklim berbasis tempat, baik di tingkat PAUD maupun SD, membantu anak-anak untuk memaknai perubahan iklim sebagai sesuatu yang terhubung erat dengan tempat tinggal mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan memahami tempat, alih-alih sekadar mempelajari perubahan iklim, anak mengembangkan keterhubungan emosional, etika, dan aksi mendalam untuk merespons perubahan lingkungan. Jika sudah terhubung, mereka dapat dengan mudah memahami dampak perubahan iklim sekalipun di tempat yang jauh.<\/span><\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/prabowo-ingin-terapkan-pendidikan-perubahan-iklim-bagaimana-cara-yang-efektif-250159\">Dian Fikriani, <em>Monash University<\/em><\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p id=\"docs-internal-guid-14ecc6a2-7fff-ff9a-c501-7925fa72e516\" dir=\"ltr\" style=\"line-height: 1.92;margin-right: 15.0pt;text-align: justify;background-color: #f7f9fe;margin-top: 0.0pt;margin-bottom: 0.0pt;padding: 0.0pt 0.0pt 14.0pt 0.0pt\">&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pascabencana banjir Sumatera pada November 2025, Presiden Prabowo Subianto meminta adanya pendidikan perubahan iklim di sekolah-sekolah. Permintaan ini cukup kontradiktif dengan sikap politik dan kebijakan pemerintah yang kerap mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti deforestasi besar-besaran yang memperparah perubahan iklim. Pendidikan saja memang tidak cukup untuk mengatasi perubahan iklim. Perubahan iklim dipengaruhi oleh politik, ekonomi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4268,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17,237,173],"class_list":["post-4267","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lingkungan","tag-pendidikan","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4267","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4267"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4267\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4268"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}