{"id":428,"date":"2026-07-30T00:21:57","date_gmt":"2026-07-30T00:21:57","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=428"},"modified":"2026-07-30T00:21:57","modified_gmt":"2026-07-30T00:21:57","slug":"kunang-kunang-makin-sulit-ditemukan-bukti-nyata-menurunnya-kualitas-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=428","title":{"rendered":"Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan: Bukti Nyata Menurunnya Kualitas Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Beberapa tahun belakangan, banyak warga yang mengeluhkan semakin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam. Fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.<\/p>\n<p>Kunang-kunang merupakan jenis kumbang yang masuk dalam famili <em>Lampyridae<\/em>, ordo Coleoptera, kelas Insecta atau serangga.<\/p>\n<p>Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia.<\/p>\n<p>Banyak spesies kunang-kunang ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.<\/p>\n<p>Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. Upik Kesumawati Hadi mengatakan kelangkaan kunang-kunang menjadi salah satu indikator menurunnya kualitas lingkungan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/247440443\/kolaborasi-peneliti-brin-dan-universitas-brawijaya-temukan-spesies-baru-kumbang-ambrosia\">Baca: Penemuan Spesies Baru Kumbang Ambrosia<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,&rdquo; jelasnya seperti dilansir ipb.ac.id.<\/p>\n<p>Ia mengungkapkan, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.<\/p>\n<p>Data<em> International Union for Conservation of Nature<\/em> (IUCN) menunjukkan sekitar 11&ndash;20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam.<\/p>\n<p>Bahkan beberapa spesies khas Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah masuk kategori rentan.<\/p>\n<p>&ldquo;Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,&rdquo; ujar Upik.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245726304\/peneliti-brin-temukan-dua-spesies-baru-kumbang-kura-kura-dari-sulawesi\">Baca: Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Kumbang Kura-Kura dari Sulawesi<\/a><\/p>\n<p>Menurut dia, kerusakan habitat menjadi faktor utama penyebab menurunnya populasi kunang-kunang.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.<\/p>\n<p>Selain itu, polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang juga mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina sehingga gagal bereproduksi.<\/p>\n<p>Faktor lain yang turut berperan adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, serta urbanisasi yang semakin masif.<\/p>\n<p>Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di habitat yang lembap, minim polusi cahaya, dan bebas pencemaran.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246049604\/sos-populasi-serangga-yang-turun-signifikan-berdampak-buruk-bagi-lingkungan\">Baca: Populasi Serangga yang Turun Signifikan Berdampak Buruk bagi Lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.<\/p>\n<p>Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga habitat kunang-kunang.<\/p>\n<p>Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik.<\/p>\n<p>Selain&nbsp;itu&nbsp;dia&nbsp;juga&nbsp;mengajak&nbsp;warga&nbsp;menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat membantu mempertahankan populasi serangga unik tersebut.<\/p>\n<p>&ldquo;Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,&rdquo; pungkasnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246053958\/serangga-punya-peran-penting-dalam-menjaga-ekosistem-ini-yang-harus-dilakukan-agar-tidak-punah\">Baca: Serangga Punya Peran Penting dalam Menjaga Ekosistem<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Beberapa tahun belakangan, banyak warga yang mengeluhkan semakin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam. Fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat. Kunang-kunang merupakan jenis kumbang yang masuk dalam famili Lampyridae, ordo Coleoptera, kelas Insecta atau serangga. Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":429,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[250,17],"class_list":["post-428","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-kunang-kunang","tag-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/428","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=428"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/428\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/429"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=428"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=428"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=428"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}