{"id":4321,"date":"2026-07-30T00:39:45","date_gmt":"2026-07-30T00:39:45","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4321"},"modified":"2026-07-30T00:39:45","modified_gmt":"2026-07-30T00:39:45","slug":"donasi-untuk-korban-banjir-sumatera-mengalir-lewat-influencer-di-mana-peran-pemerintah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4321","title":{"rendered":"Donasi untuk Korban Banjir Sumatera Mengalir Lewat Influencer: Di Mana Peran Pemerintah?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong><a href=\"http:\/\/7cloud.asia\">7cloud.asia<\/a><\/strong><span style=\"font-weight: 400\"> &#8211; <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Julukan masyarakat Indonesia sebagai warga yang paling dermawan sedunia bukanlah isapan jempol semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika banjir bandang dan longsor besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November lalu, gerakan aksi solidaritas masyarakat sangat besar. Dalam waktu singkat, terkumpul miliaran rupiah untuk disumbangkan kepada jutaan korban bencana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun yang menarik bukan hanya besarnya gelombang solidaritas, melainkan siapa penggagas dan penyalur donasi tersebut. Kreator konten atau biasa disebut <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> Ferry Irwandi misalnya, bisa menghimpun lebih dari Rp10 miliar dalam 24 jam untuk korban bencana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Rachel Vennya dan komedian Praz Teguh pun melakukan hal serupa dengan nominal ratusan juta hingga miliaran rupiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Fenomena ini menandai perubahan penting dalam pola filantropi masyarakat. Publik kini lebih mempercayai figur individual di media sosial dibandingkan institusi negara yang secara formal bertanggung jawab menangani bencana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pergeseran ini tak hanya mencerminkan dinamika era digital, tetapi juga menunjukkan jurang krisis kepercayaan masyarakat kepada negara yang terus melebar.<\/span><\/p>\n<p><strong>&lsquo;Influencer&rsquo; menjawab keraguan publik<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kemajuan teknologi informasi mengubah cara masyarakat berdonasi. Dulu, donasi terbatas melalui transfer bank, blok kwitansi, atau tatap muka. Kini, sumbangan bisa kita lakukan lewat sekali klik, kapan dan di mana pun melalui platform <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">crowdsourcing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> seperti Kitabisa, <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">live streaming<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, atau melalui akun Instagram selebritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Era ini membuka ruang <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> menjadi &ldquo;aktor kemanusiaan baru&rdquo;, tokoh nonformal yang berperan penting dalam respons bencana. Lalu mengapa mereka begitu efektif?.<\/span><\/p>\n<p><strong>Pertama<\/strong><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki kedekatan emosional dengan pengikutnya. Alhasil, ketika mereka mengajak berdonasi, ajakan itu datang dari figur yang terasa &ldquo;dekat&rdquo;, bukan institusi yang kaku.<\/span><\/p>\n<p><strong>Kedua<\/strong><span style=\"font-weight: 400\">, mereka mampu menghadirkan narasi kemanusiaan secara visual dan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">real-time<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">. Banyak dari mereka langsung turun ke lokasi, menampilkan kondisi korban, dan memperlihatkan proses distribusi bantuan secara langsung melalui video singkat atau <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">live streaming<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><strong>Ketiga<\/strong><span style=\"font-weight: 400\">, media sosial dan platform donasi memberikan ruang bagi publik untuk melakukan &ldquo;audit sosial&rdquo;. Setiap rupiah yang masuk, setiap paket bantuan yang dibagikan, hingga setiap kesalahan dapat dipantau oleh ribuan pasang mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Mekanisme ini menciptakan bentuk transparansi baru yang lebih cepat dan mudah dipahami publik. Ini berbeda dari laporan resmi pemerintah yang sering dituangkan dalam format PDF panjang dan terbit beberapa minggu setelah kejadian.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400\">Dalam situasi krisis, publik memilih jalur yang memberikan rasa kepastian paling cepat. Bagi masyarakat, <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> menawarkan respons yang lebih manusiawi, langsung, dan dapat dipantau tanpa jeda.<\/span><\/p>\n<p><strong>Kebijakan dan perilaku negara tak pernah berubah<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Negara tidak kekurangan sumber daya, kewenangan, ataupun struktur kelembagaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memiliki anggaran Rp2 triliun sepanjang 2025 untuk digunakan menanggulangi bencana yang terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Bahkan pemerintah siap menambah Rp500-600 miliar jika BNPB kehabisan uang. Jika masih tidak cukup juga, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga sudah mengizinkan dana darurat <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">on call<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (bisa dipakai kapan saja) senilai Rp4 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun setiap terjadi bencana, keluhan masyarakat soal bantuan yang telat seakan tidak pernah absen. Tokoh-tokoh politik yang terjun ke lokasi juga lebih mengedepankan pencitraan.Bahkan, bantuan hibah dari pihak lain seperti jaringan internet Starlink yang seharusnya gratis justru dipunglikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Yang hilang adalah kepercayaan. Kehilangan ini akan sulit dipulihkan melalui regulasi semata, tetapi melalui perubahan cara berkomunikasi dan cara bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Keberhasilan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dalam menggalang donasi bukan sekadar fenomena viralitas media sosial semata, tetapi cerminan dari pergeseran otoritas moral dalam masyarakat digital.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Publik cenderung percaya pada figur yang menunjukkan empati, transparansi, dan aksi nyata di lapangan&mdash;atribut yang selama ini belum sepenuhnya dimiliki instansi formal pemerintah ataupun pejabat publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika pemerintah ingin memulihkan dan memperkuat kepercayaan publik, mereka perlu meniru apa yang bekerja di dunia digital yang mengedepankan asas keterbukaan, kecepatan, dan kedekatan.<\/span><\/p>\n<p><strong>Agar pemerintah mendapatkan kembali kepercayaan publik<\/strong><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400\">Influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> tidak bisa menggantikan pengurus negara dalam penanggulangan bencana. Karena itu yang kita butuhkan adalah kolaborasi. Tujuannya untuk memastikan bahwa bantuan mencapai mereka yang paling membutuhkan dengan cepat, tepat, dan penuh integritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Alih-alih menganggap <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> sebagai pesaing, pemerintah dapat melibatkan mereka untuk menggaungkan pesan dan menjadi jembatan komunikasi kepada generasi muda yang cenderung skeptis terhadap institusi formal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Karena itu, untuk memenuhi standar kepercayaan publik, pemerintah perlu menciptakan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">dashboard<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> donasi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">real-time<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> yang transparan, mudah diakses, dan diperbarui secara konsisten. <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Dashboard<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ini harus menunjukkan jumlah dana yang diterima, kebutuhan di lapangan, lokasi penyaluran, hingga dokumentasi kegiatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Datanya pun harus mudah dipahami publik, bukan sekadar laporan teknis. Selain itu setiap penyaluran dana bencana perlu diaudit oleh pihak independen dan hasilnya dipublikasikan secara terbuka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Yang tidak kalah penting, pemerintah harus memperbaiki gaya komunikasi publik. Pemerintah perlu meninggalkan gaya komunikasi yang birokratis dan mengadopsi pendekatan yang lebih <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">human-centered<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, cepat, dan responsif.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong>Masyarakat tetap perlu hati-hati berdonasi<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tidak ada yang salah jika donasi melalui <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> menjadi cara umum untuk penggalangan dana. Namun, kepercayaan yang dibangun melalui kedekatan emosional sebenarnya rapuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika ada ketidaksesuaian data, keterlambatan laporan, atau dugaan penyelewengan, reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun dapat runtuh dalam hitungan menit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Apalagi, beberapa kasus terdahulu telah menunjukkan bahwa tidak semua <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki kapasitas yang kuat dalam mengelola dana publik. Sebut saja <\/span><a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-7253385\/singgih-sahara-diduga-pakai-uang-donasi-untuk-beli-ps-hingga-bayar-pinjol\"><span style=\"font-weight: 400\">Singgih Sahara<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> yang menyelewengkan dana donasi ratusan juta untuk keperluan pribadi ketimbang berobat ibunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Potensi masalah lain muncul dari sifat filantropi digital yang cenderung reaktif dan jangka pendek. Donasi semacam ini juga kerap tak dilengkapi mekanisme untuk penyaluran ke penerima manfaat yang lebih luas dari sisi jumlah dan lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain itu, keberhasilan Ferry Irwandi dan kawan-kawan juga menampakkan adanya ruang kosong dalam tata kelola kebencanaan yang gagal diisi oleh negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setelah <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ramai berdonasi: apakah pejabat publik dan politisi boleh menggagas hal serupa? Tentu saja boleh seperti amanat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial beserta turunannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tapi apakah cara ini bisa menarik minat publik seperti yang dilakukan para <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> beken? Jawabannya kembali lagi kepada masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Septian Bayu Kristanto, <em>Universitas Kristen Krida Wacana<\/em><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Julukan masyarakat Indonesia sebagai warga yang paling dermawan sedunia bukanlah isapan jempol semata. Ketika banjir bandang dan longsor besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November lalu, gerakan aksi solidaritas masyarakat sangat besar. Dalam waktu singkat, terkumpul miliaran rupiah untuk disumbangkan kepada jutaan korban bencana. Namun yang menarik bukan hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4322,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4321"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4321\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}