{"id":4336,"date":"2026-07-30T00:39:50","date_gmt":"2026-07-30T00:39:50","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4336"},"modified":"2026-07-30T00:39:50","modified_gmt":"2026-07-30T00:39:50","slug":"inovasi-ini-membuat-produk-pangan-organik-lebih-terjangkau-harganya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4336","title":{"rendered":"Inovasi Ini Membuat Produk Pangan Organik Lebih Terjangkau Harganya"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/7cloud.asia\">7cloud.asia<\/a><\/strong><span style=\"font-weight: 400\"> &#8211; <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Konsumsi pangan organik mulai jadi tren <\/span><a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/nplants2015221\"><span style=\"font-weight: 400\">di masyarakat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. Sayang, petani kecil <\/span><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/abs\/pii\/S0743016705000884?via%3Dihub\"><span style=\"font-weight: 400\">kesulitan menembus pasar tersebut<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam <\/span><a href=\"https:\/\/ijsaf.org\/index.php\/ijsaf\/article\/view\/728\"><span style=\"font-weight: 400\">riset penulis dan tim<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> di Kabupaten Bogor, kami menemukan bahwa sertifikasi pangan organik pihak ketiga, yang menjadi tiket utama untuk masuk ke jaringan pasar formal, mahal, kaku, dan tidak ramah komunitas petani kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Untuk menembus tembok besar tersebut, riset kami menemukan solusi alternatif lewat skema penjaminan partisipatif <\/span><a href=\"https:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/soru.12187\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Participatory Guarantee Systems<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\/PGS<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> berbasis kepercayaan dan pengawasan sejawat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Cara ini terbukti bisa menjaga mutu dengan biaya lebih rendah. Harapannya, konsumen bisa mengakses produk pangan organik lebih mudah dan murah, sementara petani memperoleh posisi tawar lebih baik.<\/span><span style=\"font-weight: 400\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><strong>Temuan riset<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kami melakukan riset kualitatif di dua desa sentra pangan organik, yaitu Desa Tugu Selatan (Cisarua) dan Ciaruteun Ilir (Cibungbulang) di Kabupaten Bogor selama Mei &#8211; September 2023.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di kedua titik tersebut kami melakukan wawancara mendalam, observasi, dan diskusi grup terfokus dengan 31 informan kunci dari petani (petani sayuran, herba, padi, dan susu organik), penyuluh, lembaga sertifikasi, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan pelaku pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setelah itu, kami melakukan analisis dengan beberapa pendekatan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/www.protectedareas.info\/upload\/document\/stakeholderpoweranalysis-iied.pdf\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Stakeholder power analysis<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (SPA)<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> untuk memetakan posisi dan relasi kuasa para aktor alias siapa yang punya kuasa terbesar dalam sistem pangan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/www.wiley.com\/en-us\/Political+Ecology%3A+A+Critical+Introduction%2C+3rd+Edition-p-9781119167440\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Political ecology<\/span><\/em><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> untuk membaca konflik agraria, akses lahan, dan tata kelola lingkungan; serta<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/indiepubs.com\/collections\/new-releases-1\/products\/food-regimes-and-agrarian-questions?srsltid=AfmBOooq8hoWEu9gUagTjv0FYGuMGCExSWycg6-AsAQvzZciYPWWV29k&amp;utm_source=chatgpt.com\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Food regime theory<\/span><\/em><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> untuk mengaitkan dinamika lokal Bogor dengan struktur pasar pangan yang lebih luas.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dari analisis tersebut, <\/span><a href=\"https:\/\/ijsaf.org\/index.php\/ijsaf\/article\/view\/728\"><span style=\"font-weight: 400\">kami mendapati beberapa temuan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400\">Pertama<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, ketimpangan kekuasaan tampak jelas. Dalam matriks SPA, lembaga sertifikasi organik pihak ketiga memegang kuasa tertinggi. Lembaga ini terakreditasi negara dan berwenang menjadi &ldquo;pemberi label organik&rdquo; berbasis standar nasional untuk bisa masuk pasar formal. Mereka lah yang menentukan standar, biaya, dan aturan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Petani kecil hampir tidak punya pengaruh dan daya tawar dalam sistem ini. Alhasil, sulit bagi mereka untuk masuk pasar organik yang resmi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ironisnya, petani justru menempati posisi tertinggi dalam indikator &ldquo;potensi&rdquo; perubahan. Sebab, mereka dekat dengan praktik budi daya, jaringan komunitas, dan legitimasi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kontras ini membantu menjelaskan mengapa perubahan sistem pangan organik justru lebih mungkin muncul dari inisiatif petani dan komunitas, bukan dari lembaga formal yang paling berkuasa.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Kedua<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, pola relasi berbeda antardesa. Siapa <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">middle-man<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (broker\/tengkulak) yang menjembatani petani dengan pasar, program, dan pengetahuan berbeda di tiap desa dan sangat memengaruhi bagaimana sistem pangan organik berkembang.<\/span><\/p>\n<p><strong>Bagaimana dukungan pemerintah?<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di Tugu Selatan, relasi petani&ndash;pemerintah relatif dekat. Pemerintah desa aktif mendampingi kelompok tani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di Ciaruteun Ilir, dukungan negara tidak aktif. Peran penghubung petani dengan pasar justru diperankan oleh lembaga swadaya masyarakat (seperti LSM Mitra).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Temuan yang paling menarik kami dapati ada di Ciaruteun Ilir. Karena ketimpangan kuasa dan tidak ada dukungan pemerintah, petani kecil sulit mendapatkan sertifikasi &lsquo;resmi&rsquo; yang mahal dan ruwet. Mereka akhirnya mencari cara lain untuk tetap menjamin mutu produk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kelompok Tani Jaya di sana menginisiasi skema penjaminan partisipatif atau <\/span><a href=\"https:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/soru.12187\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Participatory Guarantee Systems<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\/PGS<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> berbasis kepercayaan dan pengawasan sejawat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam sistem PGS ini, kelompok tani menjamin mutu pangan organik dengan cara:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Petani membuat aturan bersama: Mereka menyepakati standar sederhana, misalnya tidak boleh memakai pupuk atau pestisida kimia, menjaga jarak dari sumber pencemar, dan mencatat rincian benih yang dipakai.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Melakukan pengawasan bergiliran: Tim kecil dari petani secara rutin memeriksa kebun anggota lain menggunakan daftar cek sederhana. Hasilnya dibahas dalam pertemuan bulanan. Jika ada yang melanggar, mereka diberi pendampingan atau untuk sementara tidak boleh memakai label PGS.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menjaga kepercayaan konsumen: Pembeli yang kami wawancarai menyebut kombinasi antara inspeksi sejawat, keterbukaan informasi, dan kesempatan sesekali melihat langsung kebun sebagai alasan utama mereka percaya pada produk PGS dan terus melakukan pembelian ulang.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan cara ini, selain menjaga mutu, PGS juga menciptakan ruang belajar bersama dan menghargai pengetahuan lokal petani, yang biasanya tidak diakui dalam sertifikasi formal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">LSM Mitra di sini membantu sebagai aktor perantara yang menjembatani kelompok tani dengan pasar dan jejaring dukungan lain, karena minimnya dukungan pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pemasaran produk organik dari Ciaruteun Ilir didistribusikan berbasis komunitas dan penjualan langsung, bukan jaringan ritel besar yang mensyaratkan sertifikat formal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sementara di Tugu Selatan, praktik yang dominan masih sertifikasi &lsquo;resmi&rsquo; dari pihak ketiga dengan dukungan pemerintah desa. Namun, melihat praktik di Ciaruteun Ilir, wacana PGS pun muncul sebagai alternatif masa depan yang potensial untuk diterapkan secara luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Meski PGS menjanjikan alternatif yang lebih ramah petani kecil, kami menemukan banyak tantangan struktural untuk mengadopsi cara ini untuk menjangkau pasar yang lebih besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Contohnya, standar internasional yang kaku hanya mengakui sertifikat &lsquo;resmi&rsquo; dari label besar, ketidakjelasan pengakuan hukum PGS, distributor besar mendominasi pasar sehingga petani kecil sulit bersaing, dan koordinasi kebijakan pangan yang terfragmentasi.<\/span><\/p>\n<p><strong>Menjaga mutu pangan tidak harus mahal<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Mutu pangan tidak seharusnya identik dengan biaya tinggi dan sentralisasi kuasa.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika tujuan kita pangan sehat yang terjangkau, maka negara mesti membuka jalur ganda, yaitu mempertahankan sertifikasi formal untuk pasar tertentu sekaligus mengakui PGS sebagai skema pendamping yang sah untuk pasar lokal dan regional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Karena itu, pemerintah harus melakukan:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400\"> Subsidi dan pendampingan agar biaya sertifikasi tidak menyingkirkan petani kecil;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\"> Legalisasi PGS berikut panduan tata kelola dan mekanisme akuntabilitasnya;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\"> Penguatan koperasi dan kanal distribusi akar rumput&mdash;termasuk dukungan infrastruktur pascapanen dan kanal digital; serta<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\"> Forum koordinasi lintas-aktor yang permanen di tingkat kabupaten untuk menyambungkan standar, pasar, dan pembelajaran komunitas.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: <\/span><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/pangan-organik-sehat-tak-harus-mahal-riset-dari-bogor-membuktikannya-270302\"><strong>Handoyo, Elfira Rosa Juningsih, <\/strong><em><span style=\"font-weight: 400\">Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN<\/span><\/em><\/a><em>)<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Konsumsi pangan organik mulai jadi tren di masyarakat. Sayang, petani kecil kesulitan menembus pasar tersebut. Dalam riset penulis dan tim di Kabupaten Bogor, kami menemukan bahwa sertifikasi pangan organik pihak ketiga, yang menjadi tiket utama untuk masuk ke jaringan pasar formal, mahal, kaku, dan tidak ramah komunitas petani kecil. Untuk menembus tembok besar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1539],"class_list":["post-4336","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","tag-pangan-organik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4336","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4336"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4336\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4336"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4336"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4336"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}