{"id":4373,"date":"2026-07-30T00:39:56","date_gmt":"2026-07-30T00:39:56","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4373"},"modified":"2026-07-30T00:39:56","modified_gmt":"2026-07-30T00:39:56","slug":"banjir-sumatera-kekerasan-tersembunyi-yang-mematikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4373","title":{"rendered":"Banjir Sumatera: Kekerasan Tersembunyi yang Mematikan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\"> <!--img1--> <\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/7cloud.asia\"><span style=\"font-weight: 400\">7cloud.asia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> &#8211; Banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mengakibatkan 3,3 juta warga terdampak. Lebih dari 700 warga meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Puluhan ribu bangunan seperti sekolah, jembatan, dan rumah-rumah penduduk luluh lantak. Banjir bandang pun merusak keanekaragaman hayati setempat, termasuk flora dan fauna, mati dan hancur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat merilis penyebab banjir bandang. <\/span><a href=\"https:\/\/www.kompas.tv\/nasional\/634642\/bmkg-ungkap-sudah-keluarkan-peringatan-dini-siklon-tropis-senyar-sebelum-banjir-sumatera-melanda\"><span style=\"font-weight: 400\">Biang keladi utama<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> adalah curah hujan yang sangat tinggi akibat Siklon Senyar dan kondisi daerah tangkapan air yang tak mampu menampung air hujan secara optimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Akan tetapi, muncul narasi banjir bandang terjadi karena penggundulan hutan di bagian hulu daerah tangkapan air. Banyaknya video amatir warga beredar di media sosial menjadi bukti argumentasi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Video-video tersebut memantik keriuhan soal gundulnya hutan-hutan penyebab banjir bandang Sumatra. Argumen ini turut diperkuat dengan data bahwa Sumatra termasuk salah satu pulau dengan angka kehilangan hutan terbesar di Tanah Air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kementerian Kehutanan boleh saja membantah anggapan itu dengan menyebut kayu-kayu yang terbawa air bah merupakan kayu lapuk dan sudah lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun tetap saja, bencana ini melanda akibat tumpukan kerusakan lingkungan bertahun-tahun dan nyaris dibiarkan oleh negara. Hingga akhirnya, kerusakan ini menjadi bom waktu menimbulkan bencana dahsyat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kerusakan inilah yang disebut dengan kekerasan perlahan atau <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">slow violence<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\"><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/246924046\/korban-jiwa-akibat-banjir-dan-longsor-di-sumatera-nyaris-1000-terbanyak-di-aceh\">Korban Jiwa Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Nyaris 1000, Terbanyak di Aceh<\/a><\/strong><\/span><\/p>\n<p><strong>Kekerasan tersembunyi yang mematikan<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Konsep <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">slow violence<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> pertama kali diperkenalkan oleh akademisi dari Princeton University, Rob Nixon untuk menggambarkan bagaimana upaya pembiaran kerusakan lingkungan oleh negara sebenarnya tergolong kekerasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kekerasan ini bekerja secara perlahan, tidak kasat mata, tetapi terus menumpuk hingga akhirnya meledak menjadi bencana berskala masif yang mematikan. Ini berbeda dengan kekerasan langsung, misalnya melalui penganiayaan ataupun intimidasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Konsep ini membantu kita menggeser cara pandang terhadap bencana banjir bandang di Sumatera. Banjir bandang akan terlihat sebagai peristiwa yang tidak terjadi secara alamiah.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400\">Video rekaman air bah yang menghanyutkan kayu-kayu merupakan bukti awal bagi kita untuk menyadari adanya kekerasan perlahan di balik bencana ekologis ini. Paling tidak, ada dua hal yang mendasari kalau banjir bandang ini adalah buatan manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pertama, banjir bandang kali ini punya daya hancur yang sangat besar melebihi bencana hidrometeorologi (terkait cuaca dan siklus air) sebelumnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di Aceh, daya rusak banjir bahkan dianggap sebagai &ldquo;Tsunami kedua&rdquo;dari kejadian Tsunami 2004 yang menewaskan ratusan ribu orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Artinya, sekitar lebih dari lima dekade ke belakang, wilayah Aceh dan Sumatera Utara tidak punya riwayat banjir bandang berdaya rusak signifikan seperti saat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\"><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/246922882\/sebut-banjir-sumatera-akibat-kelalaian-negara-gitaku-desak-pemerintah-tetapkan-status-bencana-nasional\">Sebut Banjir Sumatera Akibat Kelalaian Negara, GITAKU Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional<\/a><\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hal itu bisa saja terjadi karena kondisi tutupan hutan saat itu masih baik. Hutan yang terjaga berpotensi menahan limpasan air hujan ekstrem, menjaga biodiversitas, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat lokal dengan hutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu tambang emas seluas ratusan hektare di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. <\/span><a href=\"https:\/\/agincourtresources.com\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Agincourt-Resources-A-Brief-Overview.jpg\"><span style=\"font-weight: 400\">(Agincourt Resources)<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kedua, Indonesia pasca-Reformasi 1998 membutuhkan banyak amunisi untuk mengejar ketertinggalan. Investasi pihak luar di sektor ekstraksi sumber daya alam menjadi andalan pemerintah. Berbagai aturan pun diubah untuk memudahkan investor bidang sumber daya alam beroperasi di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Secara spesifik, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat setidaknya ada <\/span><a href=\"https:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20251201\/9\/1932971\/bencana-di-sumatra-hutan-dirambah-kayu-diganti-sawit-warga-resah-ancaman-air-bah\"><span style=\"font-weight: 400\">tujuh perusahaan yang punya izin beroperasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru di Tapanuli Selatan. Hulu DAS ini merupakan wilayah hulu banjir bandang bermula di Sumatera Utara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Secara akumulatif, mereka mengubah jutaan hektare wilayah hutan menjadi perkebunan kayu rakyat, perkebunan sawit, tambang emas, hingga pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Keuntungan yang diperoleh dari aktivitas itu tak secara langsung dirasakan masyarakat lokal. Sebaliknya, aktivitas perusahaan-perusahaan itu dinilai jadi penyebab rusaknya fungsi hutan menampung air hujan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Alhasil, air hujan tersebut langsung mengalir dan terakumulasi menyebabkan banjir bandang sampai ke wilayah permukiman di wilayah hilir. Akibatnya, 1,5 juta orang di Sumatra terkena dampaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di sisi lain, pemerintah pun dinilai tidak transparan dalam menginformasikan proses sebuah perusahaan mengantongi izin perkebunan hingga pertambangan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Alih-alih terbuka, dukungan ke perusahaan mengalir melalui pernyataan<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">pemerintah yang cenderung membela perusahaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\"><strong class=\"read__others\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/246921811\/update-banjir-sumatera-mungkinkah-warga-menggugat-pemerintah\">Update Banjir Sumatera: Mungkinkah Warga Menggugat Pemerintah?<\/a><\/strong><\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong>Pembiaran yang menguatkan kekerasan<\/strong><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400\">Slow violence<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> tak hanya terikat pada tempat dengan konteks waktu masa lalu, tapi juga <\/span><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/profile\/James-Rice-33\/publication\/311164773_Slow_Violence_and_the_Challenges_of_Environmental_Inequality\/links\/6377df0954eb5f547ce30408\/Slow-Violence-and-the-Challenges-of-Environmental-Inequality.pdf\"><span style=\"font-weight: 400\">saat ini dan yang akan datang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru jadi contoh betapa kebijakan di masa lalu berkontribusi terhadap kekerasan perlahan banjir bandang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jauh sebelum banjir terjadi, <\/span><a href=\"https:\/\/mongabay.co.id\/2018\/07\/12\/para-ilmuan-dunia-kirim-surat-ke-jokowi-khawatir-pembangunan-plta-batang-toru-ancam-orangutan-tapanuli\/\"><span style=\"font-weight: 400\">para peneliti telah mengingatkan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, selain berisiko melemahkan fungsi alami hutan mengelola air, pembangunan PLTA juga berisiko membelah jantung habitat <\/span><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/how-we-discovered-a-new-species-of-orangutan-in-northern-sumatra-86843\"><span style=\"font-weight: 400\">orangutan Tapanuli (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Pongo tapanuliensis<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">)<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> yang terancam punah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sayangnya, peringatan ini menjadi angin lalu. Proyek tetap berlanjut&mdash;dibalut narasi bahwa pembangunannya sudah memenuhi segala perizinan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setelah banjir terjadi, pemerintah menyatakan akan mengevaluasi izin-izin perusahaan yang diduga berkontribusi terhadap banjir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sikap ini tentu baik karena tampak responsif. Namun, kata &ldquo;evaluasi&rdquo; punya makna ganda. Di satu sisi, pemerintah akan menindak perusahaan yang melanggar izin dengan sanksi keras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di sisi lain, sikap itu bisa jadi hanya cara untuk meredam amarah publik. Ketika situasi sudah membaik, tapi ujung-ujungnya pembiaran muncul lagi: Siapa yang tahu?&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Budiyanto Dwi Prasetyo, peneliti <em>Badan Riset dan Inovasi Nasional\/BRIN)<\/em><\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"line-height: 1.62;margin-right: 15.0pt;margin-top: 0.0pt;margin-bottom: 14.0pt\"><span style=\"font-size: 10pt;font-family: Arial, sans-serif;color: #4b4b4e;background-color: transparent;vertical-align: baseline\">&nbsp;<\/span><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"line-height: 1.92;margin-right: 15.0pt;margin-top: 0.0pt;margin-bottom: 14.0pt\">&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mengakibatkan 3,3 juta warga terdampak. Lebih dari 700 warga meninggal dunia. Puluhan ribu bangunan seperti sekolah, jembatan, dan rumah-rumah penduduk luluh lantak. Banjir bandang pun merusak keanekaragaman hayati setempat, termasuk flora dan fauna, mati dan hancur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4374,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4373","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}