{"id":4432,"date":"2026-07-30T00:40:10","date_gmt":"2026-07-30T00:40:10","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4432"},"modified":"2026-07-30T00:40:10","modified_gmt":"2026-07-30T00:40:10","slug":"badai-senyar-tak-akan-seganas-ini-jika-hutan-dijaga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4432","title":{"rendered":"Badai Senyar Tak Akan Seganas Ini Jika Hutan Dijaga"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\"> <!--img1--> <\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/7cloud.asia\"><span style=\"font-weight: 400\">7cloud.asia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> &#8211; <\/span><a href=\"https:\/\/www.bmkg.go.id\/siaran-pers\/siklon-tropis-senyar-terbentuk-bmkg-minta-siaga-cuaca-ekstrem-di-aceh-dan-sumut\"><span style=\"font-weight: 400\">Siklon atau badai Senyar<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> menghantam daerah Sumatera (terutama bagian utara) dan sejumlah negara ASEAN, pekan lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Badai Senyar ini memicu banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah, <\/span><a href=\"https:\/\/tirto.id\/update-terkini-jumlah-korban-meninggal-akibat-banjir-di-sumatera-hmTB\"><span style=\"font-weight: 400\">menewaskan ratusan orang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, dan memaksa ribuan keluarga mengungsi. Rumah-rumah terendam hingga atap, bahkan sampai hanyut, sementara sungai berubah menjadi arus ganas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Peristiwa ini bukan sekadar &ldquo;bencana alam&rdquo; yang muncul akibat hujan ekstrem. Faktor cuaca hanyalah setengah dari cerita. Tragedi sesungguhnya adalah <\/span><a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/2071-1050\/17\/18\/8265?utm_source=chatgpt.com\"><span style=\"font-weight: 400\">cuaca ekstrem<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> bertabrakan dengan ekosistem yang sudah rusak. Hasilnya adalah bencana mematikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika hutan ditebang dan tanah terdegradasi, ekosistem kehilangan kemampuan alaminya untuk menjadi &lsquo;spons&rsquo;. Air hujan yang dulu meresap perlahan ke lantai hutan, kini meluber di permukaan, menjadi <\/span><a href=\"https:\/\/medan.kompas.com\/read\/2025\/11\/27\/105900578\/banjir-terjang-medan-dan-deli-serdang-air-capai-atap-rumah-warga-evakuasi-diri\"><span style=\"font-weight: 400\">limpasan deras yang menerjang rumah-rumah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Inilah sebabnya banjir di Sumatera perlu dipahami bukan hanya sebagai fenomena hidrometeorologis, tetapi sebagai tanda runtuhnya ekosistem: siklus tanah&ndash;hutan&ndash;air melemah, diperparah deforestasi dan alih fungsi lahan selama puluhan tahun.<\/span><\/p>\n<p><strong>Tanah sehat = Mesin sunyi penyerap air<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S004896972502100X\"><span style=\"font-weight: 400\">Tanah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> yang sehat bekerja seperti <\/span><a href=\"https:\/\/www.soilassociation.org\/media\/24941\/saving-our-soils-report-dec21.pdf?utm_\"><span style=\"font-weight: 400\">spons<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. Ia kaya bahan organik, penuh pori, dan saluran dari akar dan organisme. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tanah yang terjaga kesehatannya bisa menyerap air dalam volume yang sangat besar.Hutan bukan sekadar sekumpulan pohon. Ia adalah sistem hidrologi. Fungsinya terasa dari bawah tanah hingga ke atmosfer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Akar tanaman membuat jalur bagi air untuk meresap ke dalam tanah. Kanopi menahan sebagian hujan dan memperlambat jatuhnya air ke tanah. Serasah daun melindungi permukaan tanah dari erosi.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S1642359311700143\"><span style=\"font-weight: 400\">Pohon menyerap air tanah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> dan melepaskannya kembali ke udara melalui transpirasi, yang turut mengatur kelembapan dan pola hujan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika hutan ditebang, baik untuk perkebunan, pertambangan, atau ekspansi lahan lainnya, kemampuan tanah itu runtuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Akar yang dulu mengikat tanah membusuk. Pelindung tanah hilang. Serasah daun yang berfungsi melindungi permukaan tanah tidak ada lagi. <\/span><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/chapter\/referencework\/pii\/B978012822974300255X\"><span style=\"font-weight: 400\">Bahan organik menipis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, tanah menjadi padat, terkikis, dan rusak. Struktur sponsnya kolaps.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Akibatnya, lanskap kehilangan kemampuannya untuk menyerap air. Limpasan meningkat. Lereng di kawasan perbukitan dan pegunungan menjadi labil.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400\">Sementara sungai menerima lonjakan air dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Ketika sungai tak sanggup menampung, air akhirnya meluap, hingga terjadilah arus besar dari hulu.<\/span><\/p>\n<p><strong>Kasus di Sumatera&nbsp;<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di Sumatera Utara, <\/span><a href=\"https:\/\/agincourtresources.com\/2023\/08\/20\/batangtoru-forest-the-lungs-and-gems-of-tapanuli\/\"><span style=\"font-weight: 400\">Batang Toru<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">&mdash;sungai besar di dataran tinggi Tapanuli Selatan&mdash;mengaliri salah satu kawasan pegunungan terkaya akan <\/span><a href=\"https:\/\/satyabumi.org\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Dari-Perubahan-Tutupan-Lahan-Menuju-Penyelamatan-Ekosistem-Batang-Toru_Policy-Brief-2025_OK_5-Juli-2025_WEB.pdf\"><span style=\"font-weight: 400\">keanekaragaman hayati<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/2073-445X\/12\/11\/1963\"><span style=\"font-weight: 400\">Daerah aliran sungainya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> (DAS) menyediakan air untuk irigasi, konsumsi, perikanan, dan mikrohidro.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S2772411524000053\"><span style=\"font-weight: 400\">Hutan hujan tropis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> yang mengelilinginya adalah blok hutan primer terakhir di kawasan tersebut, penyangga alami terhadap banjir dan longsor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun ketahanan ini kini menghilang dengan cepat. <\/span><a href=\"https:\/\/satyabumi.org\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Dari-Perubahan-Tutupan-Lahan-Menuju-Penyelamatan-Ekosistem-Batang-Toru_Policy-Brief-2025_OK_5-Juli-2025_WEB.pdf\"><span style=\"font-weight: 400\">Zona utara Batang Toru<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> pada ketinggian 300-400 meter telah dibuka untuk tambang sejak 2010. Pembukaan hutan untuk kebun <\/span><a href=\"https:\/\/mongabay.co.id\/2024\/06\/09\/kajian-walhi-sumut-koridor-dolok-batang-toru-wilayah-jelajahnya-orangutan-tapanuli\/\"><span style=\"font-weight: 400\">sawit<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> masih terjadi hingga 2024.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Analisis satelit terbaru kami menunjukkan sekitar 1.550 hektare hutan kehilangan tutupan vegetasi, menyisakan tanah terbuka yang mudah tergerus di DAS Batang Toru. <\/span><a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/2071-1050\/7\/5\/5875\"><span style=\"font-weight: 400\">Lereng yang terdegradasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> seperti ini tak lagi mampu menyerap air hujan atau menstabilkan DAS. Masyarakat di hilir sungai menjadi semakin rentan ketika badai ekstrem datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di Sumatera Barat, sepekan sebelumnya, hujan juga tak henti mengguyur Kota Padang. Intensitasnya melonjak tajam. Curah hujan harian yang awalnya 37 mm pada 19 November, menjadi 145 mm pada 27 November 2025, dengan akumulasi mencapai lebih 770 mm. Tanah kemudian menyerah, tak sanggup menampung air lagi di <\/span><a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/27667890\/\"><span style=\"font-weight: 400\">jejaring pori-porinya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Estimasinya, seluas 152 hektare hutan sudah hilang di hulu Batang Kuranji dan Batang Aie Dingin, Kota Padang. Akibatnya, seluruh siklus air terganggu. Pengisian air tanah menurun, <\/span><a href=\"https:\/\/agupubs.onlinelibrary.wiley.com\/doi\/full\/10.1002\/2017WR020723\"><span style=\"font-weight: 400\">aliran permukaan meningkat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, dan sungai berubah &ldquo;galak&rdquo; dengan debit yang melonjak, volumenya melimpah sehingga memicu banjir.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1186\/s12302-025-01243-1\"><span style=\"font-weight: 400\">Saat hujan turun<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, air berwarna bening. Tetapi ketika banjir datang, warnanya berubah menjadi kuning kecoklatan bahkan kehitaman, pertanda tanah yang sudah terkikis ikut terseret arus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Empat hari setelah banjir bandang, aliran Batang Kuranji (19,68 km) dan Batang Aie Dingin (14,27 km) di kota Padang masih berwarna kuning kecoklatan dan mengalir deras ke Pantai Padang. Masyarakat hilir menanggung akibatnya, dan <\/span><a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/2073-445X\/14\/4\/834\"><span style=\"font-weight: 400\">ekosistem pesisir<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> semakin tersedak sedimen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Citra Sentinel-2 merekam aliran sungai penyebab banjir bandang di kota Padang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Empat sungai di Kota Padang berhulu di Pegunungan Bukit Barisan. Di sana, tampak <\/span><a href=\"https:\/\/www.semanticscholar.org\/paper\/Assessment-Erosion-3-D-Hazard-with-USLE-and-Surfer-Aflizar-Afrizal\/ccd886c9f1abeed5bbebf34e9c761794159d22c6\"><span style=\"font-weight: 400\">permukaan tanah yang telah terkelupas<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> sehingga mudah terhanyut saat hujan deras.<\/span><\/p>\n<p><strong>Adaptasi bencana berbasis ekosistem<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kita sering melihat deforestasi dan degradasi tanah sebagai persoalan lokal. Namun besarnya dampak menunjukkan bahwa masalah ini menimbulkan konsekuensi nasional. Dengan hujan ekstrem yang makin sering terjadi, setiap DAS rusak menjadi pengali risiko.<\/span><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400\">Di daerah dengan tanah sehat dan hutan utuh, badai tetap bisa menimbulkan kerusakan&mdash;tetapi ekosistem bisa menahan sebagian dampaknya. <\/span><a href=\"https:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/abs\/10.1002\/ldr.1147\"><span style=\"font-weight: 400\">Di daerah yang kritis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, badai yang sama bisa berubah menjadi bencana besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Artinya, strategi ketahanan iklim Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan tanggul, bendungan, atau respons darurat. Kita harus membangun kembali infrastruktur ekologis yang mengatur aliran air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menjaga hubungan tanah&ndash;hutan&ndash;air adalah kebutuhan dasar untuk keselamatan kita saat ini dan masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Oleh karenanya, kita harus melindungi hutan yang tersisa, khususnya DAS hulu dan gambut; memulihkan tanah terdegradasi dengan menambah bahan organik, agroforestri, dan praktik pertanian berkelanjutan. Kita pun perlu memasukkan indikator kesehatan tanah dan tutupan lahan dalam perencanaan risiko banjir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Adaptasi berbasis ekosistem, mulai dari reforestasi hingga penanaman vegetasi di bantaran sungai, harus berjalan sejajar dengan solusi rekayasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika kita hanya bereaksi terhadap bencana, tanpa memulihkan penyangga ekologisnya, banjir di masa depan akan semakin besar dan semakin mematikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Cuaca ekstrem sulit dicegah. Tetapi kita bisa meredam dampak bencana mulai dari memulihkan hutan dan memperbaiki kondisi tanah tempat kita berpijak. Ini agar badai selanjutnya tidak harus menjadi tragedi berikutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: <\/span><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/badai-siklon-tak-harus-jadi-tragedi-berulang-jika-hutan-tidak-terus-dibabat-271095\"><strong>Dian Fiantis, <\/strong><em><span style=\"font-weight: 400\">Universitas Andalas<\/span><\/em><strong>, Budiman Minasny, <\/strong><em><span style=\"font-weight: 400\">University of Sydney<\/span><\/em><strong>, Frisa Irawan Ginting, <\/strong><em><span style=\"font-weight: 400\">Universitas Andalas<\/span><\/em><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Muhammad Kundarto, Dosen UPN Veteran Yogyakarta turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Siklon atau badai Senyar menghantam daerah Sumatera (terutama bagian utara) dan sejumlah negara ASEAN, pekan lalu. Badai Senyar ini memicu banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah, menewaskan ratusan orang, dan memaksa ribuan keluarga mengungsi. Rumah-rumah terendam hingga atap, bahkan sampai hanyut, sementara sungai berubah menjadi arus ganas. Peristiwa ini bukan sekadar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4433,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1560,290],"class_list":["post-4432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-badai-senyar","tag-banjir-sumatera"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4432"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4432\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4433"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}