{"id":4604,"date":"2026-07-30T00:40:50","date_gmt":"2026-07-30T00:40:50","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4604"},"modified":"2026-07-30T00:40:50","modified_gmt":"2026-07-30T00:40:50","slug":"unep-luncurkan-inisiatif-untuk-kurangi-sampah-makanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4604","title":{"rendered":"UNEP Luncurkan Inisiatif untuk Kurangi Sampah Makanan"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Program Lingkungan PBB (<em>United Nation Environment Programme\/UNEP<\/em>) dan para mitranya pada 13 November lalu meluncurkan inisiatif baru untuk mengurangi sampah makanan pada tahun 2030.<\/p>\n<p>Inisiatif yang&nbsp;dinamai&nbsp;Food Waste Breakthrough&nbsp;ini sekaligus untuk mengurangi emisi metana hingga tujuh persen sebagai bagian dari upaya memperlambat perubahan iklim.<\/p>\n<p>Diluncurkan di sela COP 30 di Bel&eacute;m, Food Waste Breakthrough merupakan Solusi Iklim 2030 di bawah Kemitraan Marrakech untuk Aksi Iklim Global.<\/p>\n<p>Inisiatif ini menyatukan pemerintah, kota, dan masyarakat sipil untuk bertindak terhadap isu yang menyentuh inti dari kelaparan global dan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Penelitian mengungkap, masyarakat global membuang lebih dari satu miliar ton sampah makanan setiap tahun, menyumbang hingga 10 persen dari emisi gas rumah kaca global.<\/p>\n<p>Sampah makanan menyumbang hingga 14 persen emisi metana, yang meski berumur pendek tapi 84 kali lebih kuat dalam menghangatkan atmosfer daripada karbon dioksida selama 20 tahun.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243112288\/masalah-lingkungan-terbesar-2023-limbah-makanan\">Baca: Sampah makanan picu masalah serius pada lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Dengan kontribusi terhadap kerugian finansial sebesar 1 triliun dolar AS per tahun, mengurangi sampah makanan menawarkan salah satu solusi paling hemat biaya, terukur, dan berdampak tinggi untuk mengatasi perubahan iklim dan kelaparan terutama di perkotaan.<\/p>\n<p>&ldquo;Dunia membuang makanan dalam jumlah yang tak termaafkan setiap tahun, di setiap negara, kaya maupun miskin,&rdquo; kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.<\/p>\n<p>Dia menambahkan, mengurangi sampah makanan menjadi kunci untuk mengatasi kelaparan dan mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan sampah &ndash; tindakan tegas untuk menurunkan suhu global, menghemat uang, dan mengatasi kerawanan pangan secara bersamaan.<\/p>\n<p>&rdquo;Food Waste Breakthrough adalah jenis inisiatif besar yang kita butuhkan untuk mengendalikan perubahan iklim dan menyimpan makanan bergizi bagi mereka yang membutuhkannya,&rdquo; imbuhnya.<\/p>\n<p>Climate High-Level Champion COP 30, Dan Ioschpe mengatakan bahwa jika tidak ditangani, dampak metana dari sampah makanan dapat meningkat dua kali lipat pada tahun 2050, mengancam iklim dan ketahanan pangan global.<\/p>\n<p>Namun, Ioschpe menegaskan, masyarakat global bisa mengambil aksi untuk mencari solusi&nbsp;dari masalah ini. Ia mengajak negara-negara bersatu.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246749165\/fakta-mengejutkan-soal-limbah-makanan\">Baca: Fakta mengejutkan soal sampah makanan<\/a><\/p>\n<p>&rdquo;Dengan menyatukan pemerintah, kota, bisnis, dan komunitas di seluruh dunia untuk mengurangi separuh sampah makanan pada tahun 2030 dan mencegah makanan berakhir di tempat pembuangan akhir, kita dapat mengurangi metana, membuka aksi iklim yang berani, dan mendorong umat manusia menuju masa depan di mana kekurangan pangan dan sampah menjadi sejarah,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p><strong>Tiga pilar utama<\/strong><br \/>Food Waste Breakthrough dibangun di atas tiga pilar, yakni peningkatan kapasitas dan advokasi, data dan kebijakan, serta keuangan dan Implementasi.<\/p>\n<p>Didanai oleh Fasilitas Lingkungan Global, UNEP akan meluncurkan proyek global senilai 3 juta dolar AS selama empat tahun untuk mengimplementasikan target Terobosan Sampah Makanan.<\/p>\n<p>Proyek ini akan mempercepat pencegahan limbah makanan dan mitigasi metana dengan mengadaptasi dan meningkatkan skala solusi yang telah terbukti di tingkat nasional dan sub-nasional di negara-negara berkembang, serta mendorong kolaborasi global dalam topik ini.<\/p>\n<p>&ldquo;Menangani limbah makanan melalui pencegahan dan perubahan perilaku tidak hanya menjanjikan aksi iklim yang hemat biaya, tetapi juga mendukung konsumsi berkelanjutan,&rdquo; ujar Carlos Manuel Rodr&iacute;guez, CEO dan Ketua Global Environment Facility.<\/p>\n<p>&ldquo;Kami berharap dapat bermitra dengan negara dan kota untuk meningkatkan investasi tersebut sebagai bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan perubahan transformasional melalui solusi terintegrasi.&rdquo;<\/p>\n<p>UNEP juga bekerja sama dengan lembaga keuangan dan yayasan untuk mengamankan tantangan senilai 5 juta dolar AS, untuk mendanai 20-25 inovasi komunitas yang dipimpin oleh kota-kota atau pemuda di Amerika Latin dan Karibia, Asia, Afrika, serta Timur Tengah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246641994\/sistem-pangan-sirkular-jadi-opsi-untuk-mengatasi-limbah-makanan\">Baca: Sistem pangan sirkular jadi solusi untuk atasi sampah makanan<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme\/UNEP) dan para mitranya pada 13 November lalu meluncurkan inisiatif baru untuk mengurangi sampah makanan pada tahun 2030. Inisiatif yang&nbsp;dinamai&nbsp;Food Waste Breakthrough&nbsp;ini sekaligus untuk mengurangi emisi metana hingga tujuh persen sebagai bagian dari upaya memperlambat perubahan iklim. Diluncurkan di sela COP 30 di Bel&eacute;m, Food Waste Breakthrough [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4605,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[12,173,285],"class_list":["post-4604","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-metana","tag-perubahan-iklim","tag-sampah-makanan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4604","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4604"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4604\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4604"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4604"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4604"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}