{"id":4622,"date":"2026-07-30T00:40:54","date_gmt":"2026-07-30T00:40:54","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4622"},"modified":"2026-07-30T00:40:54","modified_gmt":"2026-07-30T00:40:54","slug":"masyarakat-sipil-kritisi-sikap-pasif-delegasi-indonesia-di-cop-30","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4622","title":{"rendered":"Masyarakat Sipil Kritisi Sikap Pasif Delegasi Indonesia di COP 30"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pemerintah Indonesia dinilai tidak menunjukkan peran diplomasi yang kuat, serta gagal mendorong komitmen ambisius untuk keluar dari energi fosil dan menghentikan deforestasi.<\/p>\n<p>Delegasi Indonesia&nbsp;tampil pasif di Konferensi Perubahan Iklim COP 30&nbsp;UNFCCC di Belem, Brasil, yang berlangsung 10-21 November lalu.<\/p>\n<p>Padahal Indonesia merupakan negara dengan salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia dan memiliki posisi strategis sebagai anggota G20 bisa lebih aktif mengambil peran dalam aksi iklim global.<\/p>\n<p><em>Country Director Greenpeace<\/em> untuk Indonesia, Leonard Simanjuntak mengatakan, delegasi Indonesia bahkan mengingkari amanat konstitusi. Karena dalam Pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa Indonesia harus ikut serta melaksanakan ketertiban dunia.<\/p>\n<p>Krisis iklim yang saat ini terjadi, ujar Leonard, juga mempengaruhi kondisi dunia.<\/p>\n<p>&ldquo;Namun di Belem, Indonesia yang seharusnya bisa menjadi pemain utama, sayangnya memilih untuk menjadi penonton,&rdquo; kata Leonard pada konferensi pers Refleksi dari COP&nbsp;30: Langkah Lanjut untuk Aksi Iklim yang Berkeadilan, Selasa, 25 November 2025 di Jakarta.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/246850165\/kritisi-diplomasi-perdagangan-karbon-delegasi-ri-di-cop-30-climate-rangers-hanya-memindahkan-emisi\">Baca: Diplomasi perdagangan karbon delegasi RI di COP 30 menuai kritik<\/a><\/p>\n<p>Selain Leonard, juga hadir Direktur Eksekutif Auriga Nusantara Timer Manurung, Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan Nadia Hadad, <em>Climate Change and Energy Lead World Wildlife Fund<\/em> (WWF) Indonesia Ari Mochamad,<\/p>\n<p>Deputi I Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Urusan Organisasi Eustobio Rero Renggi, Supervisor Divisi Advokasi Hukum Rakyat Perkumpulan HuMa Bimantara Adjie Wardhana, Direktur <em>Socio-Bioeconomy CELIOS<\/em> Fiorentina Refani, dan Ayub Paa mewakili Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.<\/p>\n<p>Turut hadir secara daring, Koordinator Sekretariat Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) yang juga Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL Torry Kuswardono dari Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Auriga Nusantara Timer Manurung menambahkan, Indonesia hanya mengekor dari belakang dan tidak menggunakan kesempatan untuk bisa lebih memimpin, mendukung penghentian penggunaan energi fosil dan menghentikan deforestasi.<\/p>\n<p>&ldquo;Saya tidak melihat peran signifikan diplomasi Indonesia. Indonesia hanya di sana karena negara kita menjadi pemilik hutan tropis terbesar ketiga, bukan karena kinerja atau pun diplomasinya,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL Torry Kuswardono, mengatakan negara-negara G20 tidak menunjukan kepemimpinannya, terlebih Indonesia. &ldquo;Indonesia dari dulu memang aneh. Tidak pernah mengambil kepemimpinan, namun menunggu saja dari belakang,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246870722\/cop-30-berakhir-mengecewakan-tanpa-komitmen-pengurangan-bahan-bakar-fosil-dan-pengurangan-deforestasi\">Baca: COP 30 berakhir mengecewakan, tanpa solusi nyata<\/a><\/p>\n<p>Direktur Sosio-Bioeconomy CELIOS, Fiorentina Refani, menilai bahwa posisi Indonesia dalam COP 30 justru bertolak belakang dengan urgensi krisis iklim yang menuntut untuk segera beranjak dari ketergantungan terhadap energi fosil.<\/p>\n<p>&ldquo;Penetapan Indonesia sebagai Fossil of the Day karena membawa delegasi dan pelobi fosil terbanyak menjadi tamparan dan bukti bahwa komitmen Indonesia terhadap transisi energi masih jauh dari memadai,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Fiorentina menambahkan, Indonesia justru menjadikan COP 30 sebagai arena untuk berjualan karbon melalui sesi seller meet buyer setiap hari dan target transaksi hingga Rp16 triliun.<\/p>\n<p>Fio menilai dorongan agresif ini berpotensi jadi beban fiskal karena mengharuskan sistem monitoring, pelaporan, dan verifikasi yang mahal. Selain itu juga hingga kini belum ada perlindungan hak tenurial masyarakat adat.<\/p>\n<p>&#8220;Tanpa pengesahan RUU Masyarakat Adat yang melindungi hak teritorial mereka, carbon market hanya akan mengeksploitasi wilayah adat yang menjadi penyangga utama penyerap karbon,&#8221;&nbsp;ujarnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246875378\/kehadiran-masyarakat-adat-di-cop-30-catat-rekor-tapi-mereka-tidak-dilibatkan-dalam-pengambilan-keputusan\">Baca: Kehadiran masyarakat adat di COP 30 catat rekor<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pemerintah Indonesia dinilai tidak menunjukkan peran diplomasi yang kuat, serta gagal mendorong komitmen ambisius untuk keluar dari energi fosil dan menghentikan deforestasi. Delegasi Indonesia&nbsp;tampil pasif di Konferensi Perubahan Iklim COP 30&nbsp;UNFCCC di Belem, Brasil, yang berlangsung 10-21 November lalu. Padahal Indonesia merupakan negara dengan salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4623,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1582],"class_list":["post-4622","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cop-30"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4622","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4622"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4622\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4623"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4622"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4622"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4622"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}