{"id":4701,"date":"2026-07-30T00:41:19","date_gmt":"2026-07-30T00:41:19","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4701"},"modified":"2026-07-30T00:41:19","modified_gmt":"2026-07-30T00:41:19","slug":"suara-masyarakat-lokal-di-cop-30-kami-hidup-di-garis-depan-krisis-iklim-di-tanah-yang-retak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=4701","title":{"rendered":"Suara Masyarakat Lokal di COP 30: Kami Hidup di Garis Depan Krisis Iklim, di Tanah yang Retak"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Saat para delegasi merundingkan aksi iklim global di tengah gelaran COP 30, pengurus WALHI di sejumlah daerah menyerukan tuntutan Kembali ke Rakyat, Kembali ke Akar untuk mencari solusi iklim.<\/p>\n<p>Desakan ini disampaikan, karena masyarakat global termasuk Indonesia, tidak lagi memiliki kemewahan waktu untuk terus membiarkan para pengemisi kekuatan untuk terus menyusun solusi-solusi palsu iklim.<\/p>\n<p>Suhu global yang naik 1,5&deg;C bisa menimbulkan ancaman kekeringan bagi 951 juta orang (IPCC). IPCC memperkirakan, jika suhu naik 2&deg;C bencana kekeringan bisa melanda 1,15 miliar orang, kemudian mengancam 1,28 miliar orang jika kenaikannya sampai 3&deg;C.<\/p>\n<p>Selain bencana kekeringan, IPCC menilai kenaikan suhu global di atas 1,5&deg;C bisa memicu degradasi lingkungan, menurunkan produksi pertanian, hingga melahirkan masalah sosial-ekonomi.<\/p>\n<p>Yuven Stefanus Nonga, Direktur Eksekutif Daerah WALHI NTT menyampaikan suara dari pulau kecil sebagai wilayah yang paling rentan berhadapan dengan krisis iklim.<\/p>\n<p>Bagaimana perempuan, anak, masyarakat adat, nelayan, petani yang hidup di pesisir dan pulau-pulau kecil adalah entitas yang paling rentan saat berhadapan dengan krisis iklim.<\/p>\n<p>Kami, ujarnya,&nbsp;hidup di garis depan krisis iklim di tanah yang retak, laut yang naik, dan gunung yang dieksploitasi atas nama transisi hijau.<\/p>\n<p>&ldquo;Oleh karena itu kami mendesak pemerintah menjadikan kerentanan wilayah dan situasi masyarakat di tapak, di seluruh daerah menjadi basis utama dalam Menyusun kebijakan iklim berikut dengan agenda aksi dan adaptasinya. Kami percaya jawaban itu bisa ditemukan jika negara kembali ke rakyat,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p>Oscar Anugrah, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi juga menyampaikan bahwa komitmen iklim Indonesia saat ini masih jauh dari memutus ketergantungan pada energi kotor.<\/p>\n<p>Kebijakan iklim yang dirilis justru membuka jalan bagi ekspansi industri ekstraktif yang merugikan rakyat dan lingkungan di Jambi.<\/p>\n<p>Transisi energi berkeadilan, ujarnya, hanya dapat diwujudkan apabila negara kembali ke rakyat dan mendengarkan suara rakyat, khususnya perempuan. Pasalnya, merekalah yang setiap hari berhadapan dengan ketidakpastian iklim dan ancaman dari proyek-proyek energi selama ini.<\/p>\n<p>&rdquo;COP 30 bukan hanya ruang untuk diplomasi, tetapi harus menjadi titik bali untuk memastikan dan mengawal terwujudnya keadilan ekologis, keadilan gender dan masa depan ruang hidup rakyat Jambi,&rdquo; tandasnya.<\/p>\n<p>Pada aksi COP 30 di Sulawesi Tengah, Sunardi Katili, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sulawesi Tengah juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan COP 30 di Belem, Brasil hanyalah pertemuan palsu.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Negara-negara Utara hanya terus memindahkan krisis ke negara Selatan. Sunardi menyebut, ini adalah bentuk kolonialisasi iklim.<\/p>\n<p>Dia menambahkan bahwa perdagangan karbon bukan jalan keluar menyelesaikan krisis iklim yang sedang terjadi, justru sebaliknya mengamankan industri korporasi besar di Indonesia.<\/p>\n<p>Mestinya pengurangan emisi dilakukan langsung dari industrinya, seperti industri pengolahan nikel yang masih gunakan PLTU Captive batu bara di Morowali dan Morowali Utara Sulawesi Tengah.<\/p>\n<p>Ada IMIP, IHIP, SEI, Transon Group, Wangxiang bahkan IGIP kawasan industri baru yang akan dibangun di Morowali meski belakangan akan gunakan energi gas, PLTG sebagai pembangkit listrik dalam kawasan.<\/p>\n<p>&rdquo;Sudah seharusnya menghentikan aktivitas Industri ekstraktif dan berhenti membangun yang baru,&rdquo; tutup Sunardi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Saat para delegasi merundingkan aksi iklim global di tengah gelaran COP 30, pengurus WALHI di sejumlah daerah menyerukan tuntutan Kembali ke Rakyat, Kembali ke Akar untuk mencari solusi iklim. Desakan ini disampaikan, karena masyarakat global termasuk Indonesia, tidak lagi memiliki kemewahan waktu untuk terus membiarkan para pengemisi kekuatan untuk terus menyusun solusi-solusi palsu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":4702,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1582],"class_list":["post-4701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cop-30"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4701"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4701\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}